JEMBER, ERANASIONAL.COM – Gapoktan SUBUR di Desa Darsono, Kecamatan Patrang, Kabupaten Jember, mengembangkan kulit buah kopi menjadi produk cascara melalui pendampingan tim dosen Politeknik Negeri Jember (Polije). Inovasi ini mendorong pemanfaatan hasil samping pengolahan kopi menjadi minuman bernilai ekonomi.
Tim Pengabdian kepada Masyarakat Polije yang mendampingi kelompok tersebut diketuai M. Mardiyanto, S.TP., M.P., dengan anggota Aulia Brilliantina, S.TP., M.P., dan Yulia Rachmawati, S.Si., M.Si. Kegiatan ini dilaksanakan bersama Gapoktan SUBUR yang diketuai Totok Purwanto.
Cascara merupakan minuman menyerupai teh yang dibuat dari kulit buah kopi matang. Sebelumnya, Gapoktan SUBUR masih mengandalkan sinar matahari untuk mengeringkan kulit kopi. Kondisi tersebut membuat proses produksi bergantung pada cuaca dan berisiko menyebabkan bahan terkontaminasi debu maupun kotoran.
Tim Polije kemudian menyerahkan satu unit kabinet dryer untuk membantu kelompok melakukan pengeringan dalam ruang tertutup. Alat tersebut membantu mengendalikan suhu dan waktu pengeringan sehingga kebersihan serta konsistensi mutu produk dapat lebih terjaga.
“Melalui kabinet dryer, pengeringan tidak lagi sepenuhnya bergantung pada cuaca. Produk lebih terlindungi dari kontaminasi sehingga warna, aroma, kebersihan, dan tingkat kekeringannya dapat lebih seragam,” jelas Ketua Tim Pengabdian, M. Mardiyanto.
Selain menyerahkan peralatan, tim juga memberikan Standar Operasional Prosedur (SOP) pembuatan cascara. Pedoman tersebut mencakup seluruh tahapan produksi, mulai dari pemilihan kulit buah kopi, sortasi, pencucian, penirisan, pengeringan, pemeriksaan mutu, pengemasan, hingga penyimpanan.
Polije juga mendampingi Gapoktan SUBUR dalam mengembangkan kemasan produk. Cascara disiapkan dalam bentuk tea bag dan box agar lebih praktis untuk diseduh, terlindungi selama penyimpanan, serta memiliki daya tarik yang lebih baik di pasar.
Pengembangan produk ini membuka peluang peningkatan nilai ekonomi kulit buah kopi. Sebagai ilustrasi, satu kilogram cascara kering dapat menghasilkan sekitar 20 box. Jika setiap box berisi 10 tea bag seberat lima gram dan dijual sekitar Rp30.000, produk tersebut berpotensi menghasilkan omzet kotor hingga Rp600.000 sebelum dikurangi biaya produksi.
Ketua Gapoktan SUBUR, Totok Purwanto, menyambut baik pendampingan yang diberikan tim Polije. Menurutnya, bantuan teknologi dan pendampingan tersebut membantu kelompok memperbaiki proses produksi serta meningkatkan kesiapan produk untuk dipasarkan.
“Bantuan dari Polije sangat membantu kami, terutama dalam proses pengeringan yang sebelumnya masih bergantung pada cuaca. Dengan kabinet dryer dan SOP yang diberikan, kami berharap produksi cascara dapat lebih konsisten dan produk kami semakin siap dipasarkan,” ujar Totok Purwanto.
Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini didanai melalui Anggaran Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Tahun Anggaran 2026. Kolaborasi Polije dan Gapoktan SUBUR diharapkan mampu mengembangkan cascara sebagai produk yang lebih higienis, praktis, dan bernilai ekonomi bagi kelompok tani.






Komentar (0)