Investor Asing Cabut Rp1 Triliun dari Bursa Usai Pidato Prabowo di DPR

wartaekonomi.co.id
1 jam lalu
Cover Berita
Warta Ekonomi, Jakarta -

Investor asing kembali melepas saham di pasar domestik setelah Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pidato kenegaraan terkait Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), aksi jual bersih (net sell) investor asing mencapai sekitar Rp1 triliun pada perdagangan Jumat (14/8/2026).

Aksi jual tersebut melanjutkan tekanan pada perdagangan sehari sebelumnya, yang mencatatkan net sell sebesar Rp1,41 triliun. Dengan demikian, akumulasi net sell investor asing sejak awal 2026 telah mencapai Rp71,83 triliun.

Sejumlah saham menjadi sasaran utama aksi jual asing. PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) mencatat net sell terbesar mencapai Rp265,45 miliar. Berikutnya, PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) sebesar Rp127,89 miliar dan PT Indosat Tbk (ISAT) sebesar Rp84,88 miliar.

Meski aksi jual asing cukup deras, pasar saham domestik justru mampu mencatatkan penguatan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melesat 1,59% ke level 6.401,89 pada penutupan perdagangan Jumat.

Sepanjang sesi perdagangan, IHSG bergerak dalam rentang 6.267,41 hingga 6.401,89. Dari seluruh saham yang diperdagangkan, sebanyak 354 saham berakhir menguat, 277 saham melemah, sementara 332 saham lainnya stagnan.

Target Ekonomi 6% Jadi Sentimen Positif

Senior Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta mengatakan target pertumbuhan ekonomi sebesar 6% yang disampaikan Prabowo menjadi sentimen positif bagi pasar saham, khususnya dalam jangka pendek.

Menurutnya, target tersebut juga memberikan sinyal bahwa pemerintah ingin memperluas sumber pertumbuhan ekonomi. 

"Tidak hanya mengandalkan konsumsi, pemerintah mulai mengarahkan pertumbuhan melalui investasi, produktivitas, industrialisasi, hilirisasi, dan peningkatan nilai tambah," kata dia dalam keterangan resminya, Jumat (14/8/2026).

Selain pertumbuhan ekonomi, target inflasi 2,5% dan imbal hasil (yield) SBN 10 tahun sebesar 6,9% turut memberikan sinyal mengenai upaya pemerintah menjaga keseimbangan antara pertumbuhan dan stabilitas makroekonomi.

"Namun, pasar tetap akan bersikap selektif. Target pertumbuhan 6% harus dibuktikan dengan realisasi pertumbuhan ekonomi, konsumsi, investasi, kredit, serta pendapatan perusahaan," ujar dia.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Sekjen NasDem Ungkap Isi Pertemuan Sekjen Parpol Koalisi: Diskusi Kebangsaan
• 21 jam lalu
0
thumb
Update Korban Gempa M 7,7 NTT: 14 Orang Meninggal Dunia, 2.000 Jiwa Mengungsi
• 3 jam lalu
0
thumb
30 GW PLTS Bakal Dibangun di 2026 untuk Gantikan 13 GW Pembangkit Listrik Diesel
• 22 jam lalu
0
thumb
Puan: DPR dan Rakyat Tidak Semestinya Diposisikan Saling Bertentangan
• 22 jam lalu
0
thumb
Garuda Pertiwi Hancurkan Arab Saudi 7-0, Timo Scheunemann Puji Performa Tim
• 12 jam lalu
0
Berhasil disimpan.