Di tengah embusan isu tentang upah fantastis, para buruh pengupas bawang putih di tepian Sungai Musi, Palembang, Sumatera Selatan, justru harus menelan perihnya realitas. Dengan jari-jemari yang melepuh menahan kerasnya getah bawang, mereka memeras keringat seharian penuh hanya demi memburu upah Rp 6.000 per karung seberat 20 kilogram agar asap dapur keluarga tetap mengepul.
Aroma menyengat khas bawang putih langsung menusuk penciuman begitu langkah kaki memasuki lorong di kawasan 11 Ulu Laut, Kecamatan Seberang Ulu II, Kota Palembang, Sabtu (15/8/2026) siang. Di sudut-sudut permukiman padat yang bersinggungan langsung dengan perairan Sungai Musi tersebut, belasan hingga puluhan warga tampak duduk merunduk beralas lantai.
Para warga itu bukan sedang bersantai. Tangan mereka terus bergerak cekatan. Lapisan demi lapisan kulit ari komoditas bumbu dapur dikuliti tiada henti. Jari-jemari mereka terlihat menghitam, kaku, dan bertekstur kasar. Beberapa di antaranya bahkan menahan perih karena jemari pecah-pecah oleh getah tajam yang menempel setiap hari.
Begitulah keseharian para buruh pengupas bawang putih di permukiman yang berjarak sekitar 50 meter dari Sungai Musi. Bagi salah satu pekerja, Suriati (43), perihnya getah bawang putih sudah lama menjadi sahabat karib.
Ibu empat anak itu telah tiga dekade terakhir menggantungkan urat nadi ekonomi dari aktivitas tersebut. Jemari ataupun tubuhnya dipaksa kebal menahan semua sakit demi menjaga keberlanjutan kehidupan keluarganya.
Dari usia belasan tahun hingga menjelang setengah abad, Suriati terus mengulangi aktivitas itu nyaris tanpa libur. Sehari-hari, dari pukul 08.00 hingga pukul 17.00, dia tidak beranjak dari tempat duduknya untuk menunaikan pekerjaan tersebut.
”Kalau ditanya capek, ya pasti capek. Selain jari-jari perih, yang paling terasa itu pegal di tangan dan sakit pinggang. Tapi, semuanya ditahan saja karena tidak ada pekerjaan lain,” ujar Suriati saat ditemui di rumah panggung kayu sederhana miliknya.
Realitas di kawasan 11 Ulu Laut adalah salah satu potret buram nasib para buruh pengupas bawang putih di Indonesia. Di tengah santernya isu tentang kesejahteraan pekerja bidang tersebut, Suriati dan kawan-kawannya justru memeras keringat demi upah yang sangat terbatas.
Peluh dan tenaga mereka hanya dihargai Rp 6.000 per satu karung berbobot 20 kilogram, jauh dari angka Rp 700.000 per kg seperti yang diucapkan Presiden Prabowo Subianto dalam Sidang Tahunan MPR dan Sidang Bersama DPR dan DPD di Jakarta, Jumat (14/8/2026).
Upah Rp 6.000 per karung itu pun baru dinikmati dalam setahun atau dua tahun terakhir. ”Naik Rp 1.000 per karung baru-baru ini saja. Bertahun-tahun sebelumnya, upah kami hanya Rp 5.000 sekarung,” ujar Suriati.
Suriati dan pekerja lainnya rata-rata butuh waktu sekitar 2 jam untuk menyelesaikan mengupas sekarung bawang sehingga hanya mampu menyelesaikan kupasan paling banyak 4 karung sehari. Artinya, penghasil mereka rata-rata maksimal Rp 24.000 per orang sehari.
Walau sangat terbatas, Suriati tetap mensyukuri penghasilan tersebut. ”Setidaknya, dari penghasilan ini, saya dan suami bisa menyekolahkan semua anak kami. Anak pertama dan kedua kami di SMA, anak ketiga di SMP, dan anak keempat masih SD,” kata Suriati dengan senyum penuh bangga.
Sebagaimana kisah Suriati, meski terbatas, penghasilan dari mengupas bawang putih sudah tergolong sangat membantu di tengah kondisi ekonomi yang tidak baik-baik saja. Hal itu yang mendorong tetangga Suriati, Basri (63), ikut membantu istrinya, Yulia (54), sebagai pengupas bawang putih dalam dua tahun terakhir.
Basri sebelumnya bekerja sebagai nelayan pencari ikan di Sungai Musi. Akan tetapi, akhir-akhir ini, modal mencari ikan sudah tidak sebanding dengan hasil tangkapan dan nilai penjualan ikan. Saat ini, bahan bakar minyak (BBM) jenis solar bersubsidi sulit didapat. Jika beli eceran, harganya jauh lebih tinggi dibanding yang dijual stasiun pengisi bahan bakar umum (SPBU).
Sebaliknya, kerja nelayan sungai sekarang kadang serba salah. Di hari-hari normal, tangkapan ikan sangat terbatas walau harga cukup baik. Sewaktu musim kemarau seperti saat ini, banyak ikan mabuk karena perubahan suhu air sungai. Ikan yang berlimpah justru membuat harga jatuh.
”Mencari ikan sekarang malah rugi. Beli BBM Rp 20.000 untuk seharian, tapi hasil jual ikan paling dapat untung cuma Rp 10.000. Jadi, saya berhenti dulu mencari ikan. Lebih baik, saya ikut istri ngupas bawang,” tutur Basri.
Meski terbiasa bekerja keras dan berpanas-panasan di atas sungai, menurut Basri, menjadi pengupas bawang putih tidak semudah yang dilihat. Dari balik kerja yang tampaknya hanya duduk santai di rumah, aktivitas berulang selama nyaris sepuluh jam sehari itu ternyata memiliki risiko kesehatan yang lebih berat.
Kulit jari Basri menjadi kapalan hingga terkelupas parah dan sakit pinggang selalu menghantui saat melakukan aktivitas tersebut. Secara psikologis, kerja itu juga menjenuhkan. ”Kalau bukan karena tuntutan ekonomi, saya lebih baik tetap menjadi nelayan,” ungkap Basri.
Subagen pengupas bawang di kawasan 11 Ulu Laut, Bahrul (30), mengatakan, setiap hari, dirinya ditargetkan mengupas 150 karung bawang putih oleh agen utama di Pasar Induk Jakabaring, Palembang. Untuk mengejar target tersebut, dia mempekerjakan 50 hingga 60 warga setempat.
Adapun tarif Rp 6.000 per karung adalah angka maksimal yang bisa ditawarkan subagen kepada warga pekerja. Dengan angka tersebut, Bahrul menyebut, margin keuntungan yang didapatnya sudah sangat tipis.
”Tarif untuk warga pekerja tidak bisa disamakan dengan tarif yang kami terima dari agen di pasar induk. Sebab, kami harus menanggung biaya operasional angkut bawang pergi-pulang pasar induk, terutama ongkos bahan bakar kendaraan,” ujar Basri.
Di tengah penghasilan pas-pas mereka, para warga pengupas bawang putih telah mendengar isu yang menyebutkan upah pekerjaan mereka bisa mencapai Rp 700.000 per kg. Bagi mereka, isu itu bukanlah kabar gembira, melainkan ironi yang menyayat hati.
Suriati, Basri, Yulia, dan para pekerja lain pun menanggapi isu tidak berdasar itu dengan dingin. Bagi warga kelas bawah seperti mereka, klaim tersebut layaknya ilusi semata. ”Boro-boro Rp 700.000 per kilo, itu terlalu jauh. Bagi kami, kalau upahnya naik jadi Rp 10.000 per karung saja sudah sangat bersyukur dan senang sekali,” ucap Suriati getir.
Yulia menilai, narasi fantastis itu telah menutup mata dari fakta kehidupan penuh keterbatasan yang mereka alami. ”Kalau benar upahnya Rp 700.000 per kilo, kami langsung pergi haji dan rumah kami dibangun gedung, bukan gubuk derita seperti ini,” tutur Yulia.
Dari kacamata bisnis, Bahrul menyebutkan, klaim upah fantastis itu tidak punya pijakan valid. Harga jual bawang putih dari agen utama di Jakabaring kini berkisar Rp 25.000-Rp 26.000 per kg. Di tingkat eceran, bawang itu dijual Rp 29.000-Rp 31.000 per kg.
Sepanjang sejarahnya, kata Bahrul, harga jual bawang putih tertinggi di tingkat eceran Sumsel hanya menyentuh Rp 40.000 per kg. Harga tertinggi itu pernah terjadi sekitar satu atau dua tahun yang lalu.
”Kalau upah kupasnya sampai Rp 700.000 per kg, usaha ini pasti langsung bangkrut. Sebab, hitungan bisnisnya sangat tidak masuk akal antara upah dan harga jual barang. Kalau memang benar-benar bisa teralisasi upah seperti itu, kami lebih baik mengupas sendiri daripada mempekerjakan warga,” kata Bahrul.
Kisah para pekerja pengupas bawang putih dari lorong sempit di kawasan 11 Ulu Laut itu menjadi monumen pengingat. Saat upah berangka fantastis dilempar ke ruang publik sebagai komoditas politik, ada keringat buruh di tepian Musi yang terus menetes deras demi rupiah yang kenyataannya sangat tidak seberapa.
Kalau benar upahnya Rp 700.000 per kilo, kami langsung pergi haji dan rumah kami dibangun gedung, bukan gubuk derita seperti ini






Komentar (0)