“Buanglah sampah pada tempatnya.”
Kalimat itu mungkin termasuk salah satu nasihat paling sering kita dengar sejak kecil. Guru mengatakannya. Orang tua mengulanginya. Pemimpin menyampaikannya dalam berbagai kesempatan. Di sekolah, kantor, taman, terminal, bahkan di sudut-sudut jalan, kalimat itu sering ditulis besar-besar agar tidak ada alasan bagi kita untuk tidak melihatnya.
Tetapi pertanyaannya sederhana: apakah melihat tulisan membuat seseorang otomatis membuang sampah pada tempatnya?
Ternyata tidak.
Kita bisa menemukan tempat sampah berdiri berdampingan dengan tulisan “Jagalah Kebersihan," tetapi masih saja ada orang yang meletakkan bungkus makanan beberapa meter dari tempat sampah. Kita juga sering menjumpai antrean yang sudah dibuat sedemikian rupa, tetapi tetap ada orang yang merasa dirinya memiliki alasan untuk menyerobot.
Di titik itu saya mulai melihat bahwa persoalannya mungkin bukan pada kurangnya nasihat. Kita justru terlalu banyak memberi nasihat, tetapi terlalu sedikit memberikan latihan.
Gagasan ini saya tangkap ketika mengikuti pembicaraan dengan seorang narasumber ahli neurosains. Salah satu hal yang menarik perhatian saya adalah bagaimana perilaku manusia tidak cukup dibentuk oleh pengetahuan tentang apa yang benar. Otak dan perilaku kita juga belajar dari pengulangan. Sesuatu yang dilakukan berkali-kali dalam konteks yang relatif sama dapat berubah menjadi kebiasaan, bahkan kemudian terasa otomatis. Literatur tentang psikologi kebiasaan juga menjelaskan bahwa pengulangan perilaku dalam konteks tertentu dapat membangun hubungan antara situasi dan respons sehingga tindakan menjadi semakin mudah dilakukan tanpa banyak pertimbangan sadar.
Mendengar penjelasan itu, saya seperti menemukan kembali sesuatu yang sebenarnya sederhana: karakter tidak cukup diajarkan. Karakter harus dilatih.
Nasihat Tidak Sama dengan KebiasaanKita sering memiliki kecenderungan untuk menganggap bahwa ketika seseorang sudah mengetahui sesuatu, ia pasti akan melakukannya.
Anak tahu bahwa membuang sampah sembarangan itu salah. Maka kita berharap ia tidak membuang sampah sembarangan.
Anak tahu bahwa menyerobot antrean itu tidak baik. Maka kita berharap ia akan tertib.
Anak tahu bahwa berbohong itu buruk. Maka kita berharap ia akan selalu berkata jujur.
Masalahnya, manusia tidak sesederhana itu.
Mengetahui dan melakukan adalah dua hal yang berbeda. Ada jarak yang cukup panjang antara pengetahuan dan perilaku. Dan jarak itu sering kali hanya dapat dijembatani oleh latihan.
Seorang anak bisa hafal bahwa olahraga itu penting, tetapi hafalan tidak membuat tubuhnya menjadi bugar. Ia harus berlari, berjalan, mengangkat beban, atau melakukan aktivitas fisik secara berulang. Demikian pula seorang pianis tidak menjadi piawai hanya karena memahami teori musik. Tangannya harus berlatih memainkan nada yang sama berkali-kali sampai gerakan yang semula terasa sulit menjadi lebih alami.
Karakter pun barangkali bekerja dengan cara yang tidak jauh berbeda.
Kita ingin anak disiplin. Maka jangan hanya katakan, “Kamu harus disiplin.” Berikan pengalaman yang melatih disiplin.
Minta ia merapikan tempat tidurnya setiap pagi. Latih ia datang tepat waktu. Biasakan ia mengembalikan barang ke tempatnya. Ajari ia menyelesaikan sesuatu yang sudah dimulai.
Kita ingin anak bertanggung jawab. Maka berikan tanggung jawab yang sesuai dengan usianya.
Kita ingin anak peduli. Maka berikan kesempatan untuk membantu orang lain.
Kita ingin anak mampu menunggu. Maka biarkan ia mengalami antrean.
Kita ingin anak menghargai kebersamaan. Maka berikan pengalaman bekerja bersama.
Hal-hal semacam itu mungkin tampak kecil. Tetapi karakter memang sering tumbuh dari sesuatu yang kecil dan berulang. Bukan dari pidato besar.
Inilah yang menurut saya sering luput dalam pendidikan kita. Kita terlalu tertarik pada apa yang harus diketahui anak, tetapi kurang memperhatikan apa yang setiap hari mereka lakukan.
Padahal, pada akhirnya, kehidupan seseorang lebih banyak digerakkan oleh kebiasaan daripada oleh nasihat yang pernah ia dengar.
Apa yang Kita Latihkan, Itulah yang TumbuhSaya kira gagasan tentang latihan ini juga perlu kita bawa ketika melihat fenomena sosial yang lebih luas.
Misalnya flexing.
Saya tidak bermaksud mengatakan bahwa setiap orang yang menunjukkan keberhasilan atau kekayaannya pasti sedang melakukan sesuatu yang buruk. Menikmati hasil kerja tentu bukan kesalahan. Tetapi ketika kebutuhan untuk memperlihatkan keberhasilan kepada orang lain menjadi semakin kuat, kita perlu bertanya: lingkungan macam apa yang sedang kita bangun?
Apa yang kita beri penghargaan?
Apa yang kita beri perhatian?
Apa yang kita jadikan ukuran keberhasilan?
Jika sejak kecil seseorang terus-menerus mendapatkan pengakuan ketika menjadi yang paling unggul, paling kaya, paling keren, paling terkenal, atau paling terlihat, maka tidak mengherankan jika kelak ia belajar bahwa keberhasilan harus selalu tampak di mata orang lain.
Perilaku yang mendapatkan perhatian cenderung mendapatkan pengulangan.
Karena itu, persoalan flexing mungkin tidak cukup diselesaikan dengan mengatakan kepada anak, “Jangan suka pamer.”
Kita juga perlu melihat budaya yang ada di sekelilingnya.
Kalau anak yang memiliki sesuatu selalu dipuji karena sesuatu itu, sementara anak yang tekun tetapi tidak banyak memiliki sesuatu tidak mendapatkan perhatian yang sama, secara tidak sadar kita sedang mengajarkan sebuah rumus: nilai dirimu ditentukan oleh apa yang dapat kamu tampilkan.
Di sinilah pendidikan karakter menjadi lebih kompleks. Anak-anak bukan hanya belajar dari apa yang dikatakan orang dewasa. Mereka belajar dari apa yang dilakukan orang dewasa, apa yang dihargai lingkungan, dan apa yang mendapatkan penghargaan sosial.
Karena itu, membentuk generasi bukan hanya pekerjaan sekolah.
Keluarga, lingkungan, media sosial, masyarakat, tempat kerja, bahkan institusi pemerintah ikut menjadi “ruang latihan” bagi manusia.
Apa yang dilakukan berulang-ulang di ruang-ruang tersebut pada akhirnya akan menjadi bagian dari kebiasaan sosial.
Maka, jika kita ingin generasi yang tidak mudah terjebak pada kebutuhan untuk selalu terlihat, jangan hanya mengajarkan kerendahan hati. Kita juga perlu menciptakan lingkungan yang menghargai proses, ketekunan, kontribusi, dan manfaat bagi orang lain.
Sebab anak-anak akan lebih percaya kepada apa yang mereka lihat daripada apa yang kita katakan.
Kita Terlalu Sering Melatih KompetisiAda hal lain yang menurut saya lebih menarik lagi: hubungan antara latihan dan budaya kompetisi.
Kita sering mengeluh bahwa masyarakat kita sulit bekerja sama. Di kantor, orang kadang lebih sibuk mempertahankan wilayahnya sendiri. Di organisasi, keberhasilan orang lain tidak selalu dianggap sebagai keberhasilan bersama. Dalam berbagai lingkungan, orang bisa saja lebih nyaman terlihat sebagai yang paling unggul daripada menjadi bagian dari tim yang berhasil.
Mengapa?
Mungkin salah satu jawabannya karena kita memang lebih sering melatih kompetisi daripada kolaborasi.
Sejak kecil kita mengenal lomba. Ada juara satu, juara dua, juara tiga. Ada peringkat kelas. Ada penghargaan siswa terbaik. Ada kompetisi antarkelas, antarsekolah, antarkelompok, bahkan antarindividu.
Sekali lagi, saya tidak sedang mengatakan bahwa kompetisi harus dihilangkan.
Kompetisi memiliki tempatnya sendiri. Ia bisa mendorong seseorang bekerja lebih keras, meningkatkan kemampuan, dan menghasilkan prestasi. Bahkan penelitian tentang perkembangan anak menunjukkan bahwa kompetisi dan kerja sama sama-sama dapat memengaruhi kinerja serta perkembangan kemampuan kognitif dalam konteks tertentu.
Tetapi masalah muncul ketika kompetisi menjadi bahasa utama pendidikan.
Jika hampir setiap keberhasilan diterjemahkan sebagai “mengalahkan”, kita tidak boleh heran jika anak tumbuh dengan cara berpikir bahwa orang lain adalah lawan yang harus dilampaui.
Padahal dunia nyata tidak selalu demikian.
Banyak persoalan besar justru hanya dapat diselesaikan melalui kerja sama. Perubahan organisasi membutuhkan kolaborasi. Pembangunan membutuhkan kolaborasi. Pelayanan publik membutuhkan kolaborasi. Bahkan keluarga yang sehat pun membutuhkan kemampuan untuk mengurangi ego pribadi demi tujuan bersama.
Menariknya, penelitian lintas budaya berbasis data PISA 2018 yang diterbitkan pada 2025 menemukan bahwa kerja sama secara umum menunjukkan hubungan yang lebih positif dengan capaian akademik dibandingkan kompetisi, meskipun hasilnya tetap berbeda menurut negara dan konteks budaya.
Artinya, kita tidak perlu memilih secara ekstrem antara kompetisi dan kolaborasi. Yang perlu kita pikirkan adalah proporsinya dan terutama: perilaku mana yang lebih banyak kita latih.
Anak yang setiap hari dilatih memenangkan perlombaan akan menjadi semakin terampil berkompetisi.
Anak yang setiap hari dilatih menyelesaikan persoalan bersama akan semakin terampil bekerja sama.
Sesederhana itu.
Dalam sebuah penelitian tentang anak usia sekolah, konteks sosial dan perilaku teman ternyata turut memengaruhi apakah anak menunjukkan perilaku kooperatif atau kompetitif. Ketika situasi dibangun dengan penghargaan bersama, perilaku kerja sama dapat muncul; ketika hasilnya dibuat seperti sistem “pemenang mengambil semuanya," orientasinya berubah.
Jadi, mungkin bukan semata-mata anak-anak yang bermasalah.
Bisa jadi lingkungan kitalah yang sedang mengajari mereka.
Generasi Emas Tidak Lahir dari SloganKarena itu, ketika kita berbicara tentang visi Indonesia Emas 2045, saya merasa ada satu pertanyaan yang seharusnya terus kita ulang: manusia seperti apa yang ingin kita hadirkan pada 2045, dan latihan apa yang sedang kita berikan kepada mereka hari ini?
Kita bisa membuat dokumen visi yang sangat bagus.
Kita bisa membuat kurikulum yang sangat lengkap.
Kita bisa membuat seminar tentang karakter.
Kita bisa membuat spanduk tentang integritas.
Kita bisa menyampaikan pidato tentang gotong royong.
Tetapi semuanya akan berhenti sebagai simbol jika kehidupan sehari-hari justru melatih perilaku yang berlawanan.
Tidak mungkin kita menginginkan generasi yang disiplin tetapi membiarkan keterlambatan menjadi sesuatu yang biasa.
Tidak mungkin kita ingin generasi yang bersih tetapi membiarkan lingkungan kotor tanpa konsekuensi.
Tidak mungkin kita ingin generasi yang kolaboratif tetapi terus-menerus mengukur keberhasilan hanya berdasarkan siapa yang paling unggul secara individual.
Tidak mungkin kita ingin generasi yang berintegritas tetapi memberikan penghargaan sosial hanya kepada mereka yang pandai terlihat berhasil.
Karakter bukanlah sesuatu yang bisa kita pesan seperti memesan barang. Ia tumbuh dari lingkungan yang terus-menerus memberikan pengalaman tertentu.
Kalau kita ingin generasi bergaya Jepang—dalam hal disiplin, keteraturan, tanggung jawab sosial, dan kepedulian terhadap ruang bersama—maka jangan hanya mengagumi hasil akhirnya. Kita harus melihat proses latihan yang membentuk perilaku itu.
Kita tidak bisa menginginkan hasil tertentu dengan memberikan latihan yang sama sekali berbeda.
Jika ingin budaya antre, latih antre.
Jika ingin budaya bersih, latih kebersihan.
Jika ingin budaya tepat waktu, latih ketepatan waktu.
Jika ingin budaya kolaboratif, latih kerja bersama.
Jika ingin integritas, berikan ruang bagi anak untuk mengalami pilihan-pilihan kecil yang mengharuskannya jujur, bahkan ketika tidak ada orang yang melihat.
Karena pada akhirnya, karakter justru terlihat ketika tidak ada yang sedang memberikan tepuk tangan.
Masa Depan Dibentuk Hari IniMungkin kita terlalu sering melihat generasi sebagai sesuatu yang berada jauh di depan.
Generasi emas terasa seperti tahun 2045. Seolah-olah ia adalah sebuah masa depan yang masih sangat jauh dan akan datang dengan sendirinya.
Padahal generasi itu sedang duduk di ruang kelas hari ini.
Mereka sedang belajar antre hari ini.
Mereka sedang belajar membuang sampah hari ini.
Mereka sedang belajar bekerja sama hari ini.
Mereka sedang melihat bagaimana orang dewasa memperlakukan aturan hari ini.
Mereka sedang menyaksikan bagaimana kita merespons keberhasilan orang lain hari ini.
Mereka sedang menyerap apa yang kita beri penghargaan hari ini.
Karena itu, pekerjaan membentuk generasi sebenarnya bukan pekerjaan yang spektakuler. Ia sering kali membosankan. Tidak selalu terlihat. Bahkan hasilnya mungkin baru tampak puluhan tahun kemudian.
Tetapi justru di situlah letak pentingnya.
Membentuk karakter adalah pekerjaan yang membutuhkan kesabaran terhadap pengulangan.
Kita mengajari seorang anak mengantre, lalu besok mengajarinya lagi. Minggu depan mengingatkannya lagi. Bulan depan mungkin masih perlu mengingatkannya. Sampai suatu hari ia tidak lagi bertanya mengapa harus mengantre. Ia hanya melakukannya.
Pada saat itulah nasihat telah berubah menjadi kebiasaan.
Dan kebiasaan, perlahan-lahan, berubah menjadi karakter.
Mungkin inilah cara paling sederhana untuk melihat persoalan pendidikan dan pembangunan manusia. Kita tidak sedang sekadar mengisi kepala anak-anak dengan pengetahuan tentang manusia seperti apa yang ideal. Kita sedang membentuk pola tindakan yang kelak menjadi bagian dari diri mereka.
Karena itu, sebelum bertanya apakah anak-anak kita sudah memiliki karakter yang baik, mungkin kita perlu bertanya lebih jujur kepada diri sendiri: selama ini, karakter apa yang sebenarnya kita latihkan kepada mereka?
Sebab generasi masa depan tidak akan tumbuh terutama dari apa yang kita slogan-kan.
Ia akan tumbuh dari apa yang kita ulang.
Dan apa yang kita ulang hari ini, boleh jadi sedang menentukan seperti apa wajah Indonesia pada 2045 nanti.
Maka mungkin pekerjaan terbesar kita bukan mencari formula pendidikan yang semakin rumit.
Mungkin kita hanya perlu lebih serius melakukan hal yang sederhana: memilih perilaku yang ingin kita lihat, lalu melatihnya setiap hari.
Sekali.
Kemudian lagi.
Dan lagi.
Sampai akhirnya, apa yang semula harus diperintah berubah menjadi kebiasaan; apa yang semula harus diingatkan berubah menjadi kesadaran; dan apa yang semula hanya diajarkan berubah menjadi karakter.
Di situlah sebuah generasi sebenarnya mulai dibentuk.






Komentar (0)