Golkar Menemukan Jalannya: Ilham Arief Sirajuddin dan Jalan Pulang Partai Golkar

harianfajar
3 jam lalu
Cover Berita

Oleh : Baharuddin Hafid (Akademisi Universitas Megarezky Makassar)

ADA momentum tertentu dalam perjalanan sebuah partai ketika organisasi tidak sekadar melakukan konsolidasi, tetapi mulai menemukan kembali arah politiknya. Momentum semacam itu tampaknya sedang terjadi di Partai Golkar Sulawesi Selatan.

Setelah melalui dinamika Musda dan terpilihnya Ilham Arief Sirajuddin sebagai Ketua DPD I Partai Golkar Sulawesi Selatan, konsolidasi dan silaturahmi tahap pertama yang telah menjangkau 13 kabupaten/kota mulai memperlihatkan satu gejala politik yang menarik: Golkar tidak hanya sedang bergerak, tetapi sedang menemukan jalannya kembali.

Ilham Arief Sirajuddin—atau IAS—dalam konteks ini ibarat baju yang sangat pas potongannya. Bukan karena seluruh persoalan Golkar tiba-tiba selesai, melainkan karena kepemimpinannya menemukan titik temu antara kebutuhan organisasi, kerinduan kader, dan tuntutan perubahan politik.

Yang paling penting dari perjalanan ke 13 daerah tersebut bukan sekadar jumlah pertemuan, foto bersama, atau seremoni konsolidasi. Di balik itu terdapat sesuatu yang jauh lebih substantif: penerimaan politik di tingkat akar rumput dan munculnya kembali semangat para senior Golkar yang sebelumnya mungkin mengambil jarak dari dinamika partai.

Politik Bukan Hanya Struktur, tetapi Juga Resonansi

Partai politik yang kuat tidak pernah hanya bergantung pada struktur formal. Ia membutuhkan apa yang dalam teori organisasi disebut sebagai organizational commitment—rasa memiliki, loyalitas, dan keyakinan bahwa organisasi masih mempunyai masa depan.

Golkar sesungguhnya memiliki modal yang besar untuk itu. Ia memiliki sejarah panjang, jaringan elite yang luas, pengalaman pemerintahan, kader yang tersebar hingga tingkat desa, serta tradisi politik yang relatif matang.

Namun modal historis tidak otomatis menjadi modal elektoral.

Partai harus mampu menerjemahkan sejarah menjadi relevansi baru.

Di sinilah konsolidasi IAS menjadi penting. Ketika para senior mulai kembali memberikan arah, ketika kader lama kembali hadir, dan ketika struktur di daerah mulai mendapatkan energi baru, yang sedang dibangun sesungguhnya bukan hanya mesin pemenangan pemilu.

Yang sedang dibangun adalah kepercayaan kembali terhadap partai.

Dalam politik, kepercayaan adalah modal yang tidak terlihat tetapi menentukan.

IAS dan Fenomena “Baju yang Pas”

Mengapa IAS terlihat seperti “baju yang pas” bagi Golkar Sulsel?

Karena kepemimpinan partai membutuhkan figur yang tidak hanya mampu memenangkan pertarungan internal, tetapi juga mampu menyatukan berbagai lapisan sosial-politik di dalam organisasi.

Golkar membutuhkan figur yang mampu berbicara kepada generasi senior sekaligus memahami bahasa generasi baru.

Membaca tradisi, tetapi tidak terjebak nostalgia.

Menghormati struktur, tetapi tidak membiarkan organisasi menjadi birokratis.

Memiliki pengalaman politik, tetapi tetap mampu menawarkan pembaruan.

Di titik inilah IAS mempunyai ruang politik yang cukup besar.

Konsolidasi yang dilakukan tidak boleh dibaca semata sebagai agenda Ketua DPD I mengunjungi DPD II. Ia harus dibaca sebagai proses rebuilding political trust—membangun kembali kepercayaan politik antara kepemimpinan provinsi dengan struktur kabupaten/kota.

Jika proses ini berhasil, Golkar tidak hanya akan memiliki ketua baru. Golkar akan memiliki energi politik baru.

Senior Golkar: Memori Organisasi yang Harus Dihidupkan

Salah satu fenomena paling menarik dari konsolidasi tahap pertama adalah kembali munculnya semangat para senior Golkar.

Ini bukan fenomena kecil.

Dalam organisasi politik, senior adalah memori institusional. Mereka menyimpan pengalaman tentang bagaimana partai bekerja, bagaimana memenangkan pemilu, bagaimana membangun jaringan, bagaimana membaca karakter pemilih, dan bagaimana menghadapi konflik internal.

Tetapi pengalaman itu tidak boleh hanya menjadi nostalgia.

Senior harus ditempatkan sebagai sumber pengetahuan strategis, sementara generasi muda menjadi energi inovasinya.

Dengan demikian, Golkar tidak perlu memilih antara senior dan generasi baru.

Golkar justru harus mempertemukan keduanya.

Senior memberikan pengalaman.

Generasi muda memberikan keberanian melakukan inovasi.

Struktur memberikan disiplin organisasi.

Teknologi memberikan kecepatan.

Dan kepemimpinan memberikan arah.

Inilah kombinasi yang dapat mengubah Golkar dari sekadar partai yang memiliki sejarah besar menjadi partai yang memiliki masa depan besar.

Dari Konsolidasi Menuju Target Elektoral

Pada akhirnya, semua konsolidasi politik harus mempunyai tujuan yang terukur.

Golkar tidak boleh berhenti pada seremoni silaturahmi.

Pertanyaan berikutnya sederhana tetapi sangat menentukan:

Berapa kursi yang harus direbut kembali?

Target memenangkan kembali perolehan kursi DPRD Sulawesi Selatan dan DPRD kabupaten/kota harus diterjemahkan ke dalam strategi yang konkret.

Setiap daerah harus mempunyai peta politik.

Setiap dapil harus memiliki target.

Setiap kader potensial harus diidentifikasi.

Setiap basis suara harus dipetakan.

Dan setiap kekalahan pada Pemilu 2024 harus dibedah secara objektif.

Tidak boleh ada lagi politik berdasarkan asumsi.

Golkar membutuhkan politik berbasis data.

Siapa pemilihnya, di mana basisnya, siapa kompetitornya, berapa suara yang diperlukan untuk memperoleh satu kursi, siapa figur yang memiliki elektabilitas, serta segmen pemilih mana yang belum tersentuh—semuanya harus menjadi bagian dari strategi organisasi menuju Pemilu 2029.

Dengan pendekatan seperti itu, konsolidasi berubah menjadi mesin politik.

Golkar Harus Kembali Menjadi Rumah Besar

Ada satu kata yang menurut saya penting bagi Golkar hari ini: kembali.

Kembali bukan berarti kembali ke masa lalu.

Kembali berarti menemukan kembali identitas politik sebagai partai yang terbuka, modern, pragmatis dalam arti positif, tetapi tetap memiliki akar ideologis dan tradisi organisasi yang kuat.

Golkar harus kembali menjadi rumah besar bagi para kader.

Rumah bagi senior.

Rumah bagi generasi muda.

Rumah bagi pengusaha.

Rumah bagi akademisi.

Rumah bagi profesional.

Rumah bagi kelompok masyarakat desa dan kota.

Sebab kekuatan Golkar sejak awal bukan pada politik identitas yang sempit, tetapi pada kemampuannya membangun koalisi sosial yang luas.

Karena itu, kepemimpinan IAS harus menjadikan konsolidasi bukan sekadar agenda administratif, tetapi sebagai gerakan politik untuk mengembalikan rasa memiliki kader terhadap partai.

Jalan Menuju 2029

Pemilu 2029 memang masih memiliki jarak waktu. Tetapi politik elektoral tidak pernah benar-benar dimulai pada tahun pemilu.

Ia dimulai jauh sebelumnya.

Kursi DPRD yang ingin direbut pada 2029 harus mulai dibangun hari ini.

Figur yang akan maju harus mulai dibina hari ini.

Basis pemilih harus mulai dipetakan hari ini.

Kader muda harus mulai diberi ruang hari ini.

Dan konflik internal harus diselesaikan hari ini.

Karena itu, konsolidasi 13 kabupaten/kota yang telah dilakukan harus menjadi tahap pertama dari perjalanan panjang Golkar menuju kebangkitan elektoral.

Jika konsolidasi ini konsisten, terbuka, terukur, dan tidak berhenti pada simbol, maka bukan mustahil Golkar Sulawesi Selatan dapat memasuki Pemilu 2029 dengan wajah yang berbeda.

Bukan Golkar yang hanya mengandalkan kejayaan masa lalu.

Tetapi Golkar yang menggunakan sejarah sebagai fondasi untuk memenangkan masa depan.

Golkar Menemukan Jalannya

Politik pada akhirnya adalah soal kemampuan membaca momentum.

Dan momentum Golkar Sulawesi Selatan saat ini tampaknya sedang terbuka.

Penerimaan terhadap kepemimpinan IAS, kembalinya semangat para senior, bergeraknya struktur kabupaten/kota, serta mulai tumbuhnya optimisme kader adalah modal politik yang tidak boleh disia-siakan.

IAS mungkin bukan “baju” yang sempurna untuk semua orang. Tetapi dalam politik, yang dicari bukan kesempurnaan.

Yang dicari adalah figur yang paling mampu menyatukan potongan-potongan organisasi menjadi satu kekuatan politik.

Jika IAS mampu menjaga keterbukaan, merawat para senior, memberi ruang kepada generasi baru, memperkuat struktur, menghindari politik eksklusif, dan menerjemahkan konsolidasi menjadi target elektoral yang terukur, maka Golkar Sulsel bukan hanya menemukan ketua baru.

Golkar sedang menemukan jalannya kembali.

Dan jalan itu bukan jalan menuju kejayaan masa lalu.

Jalan itu adalah jalan untuk merebut kembali masa depan.

Allahu A’lam Bishshawab. (amr)


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
4 Makanan Indonesia yang Muncul di Drakor Populer, Ada Mi Instan Indomie!
• 15 jam lalu
0
thumb
Pemerintah Kebut Pengembangan PFII untuk Menarik Investasi Global, Jakarta dan Bali Jadi Lokasi Awal
• 16 jam lalu
0
thumb
Bertahun-tahun Nyeri Akibat Asam Lambung akan Segera Sirna, Minum Resep Alami ala dr Zaidul Akbar
• 12 jam lalu
0
thumb
Sampaikan Duka atas Gempa NTT, Waka DPD RI Minta Seluruh Pihak Berkoordinasi dengan Baik
• 15 jam lalu
0
thumb
Pemprov DKI Siapkan Bantuan untuk Korban Gempa NTT
• 4 jam lalu
0
Berhasil disimpan.