Kediri: Perkembangan teknologi digital membuka cara baru bagi masyarakat untuk mempelajari meditasi, olah napas, dan pengenalan diri berbasis kearifan lokal Jawa. Pelajaran elemen tersebut kini merambah melalui aplikasi serta ekosistem digital.
“Teknologi hanyalah wadah. Pengetahuan bisa kita baca melalui layar, tetapi kejernihan tetap harus dilatih dari dalam diri dan dibuktikan dalam kehidupan sehari-hari,” kata perintis ekosistem pembelajaran Nafas Batin, Abdul Latif, yang dikenal publik sebagai Guru Sabdo Roso dalam keterangannya, dikutip Sabtu, 15 Agustus 2026.
Baca Juga :
DPD RI Serukan Gotong Royong Bantu Korban Gempa NTTAbdul menjelaskan bahwa platform Nafas Batin memadukan olah napas, meditasi, olah rasa, serta piwulang dan kearifan Jawa dalam satu ekosistem pembelajaran digital. Berbeda dari pendekatan konvensional yang identik dengan tatap muka, materi kini tersedia melalui tulisan, komunitas daring, pendampingan, hingga aplikasi mandiri.
Perkembangan ini mencerminkan pergeseran tren masyarakat urban dalam mencari ketenangan batin di tengah kelelahan informasi (information fatigue). Melalui ekosistem digital tersebut, salah satu konsep kearifan Jawa yang diperkenalkan adalah Neng, Ning, Nung, Nang.
Konsep tersebut diawali dari Neng (hening), melahirkan Ning (kejernihan), dilanjutkan Nung (keteguhan laku), hingga mencapai Nang (kemenangan batin).
“Nang bukan berarti menang terhadap orang lain. Yang lebih penting adalah mampu menang terhadap amarah, ketakutan, keinginan berlebihan, dan ego yang membuat kita kehilangan kejernihan,” jelas Abdul.
Perintis ekosistem pembelajaran Nafas Batin, Abdul Latif, yang dikenal publik sebagai Guru Sabdo Roso. Foto: Dok. Istimewa.
Menurutnya, ukuran keberhasilan spiritualitas bukan untuk mengejar sensasi atau merasa lebih tinggi dari orang lain. Namun, kemampuan mengendalikan emosi, mengambil keputusan dengan jernih, dan bertanggung jawab atas kehidupan.
Upaya menghadirkan piwulang Jawa dalam format digital ini menjadi jembatan agar nilai-nilai lokal tetap relevan dan adaptif bagi generasi muda tanpa kehilangan esensi intinya.
“Zaman boleh berubah, alat boleh berubah, tetapi manusia tetap perlu belajar mengenali dirinya. Selama manusia masih memiliki pikiran, rasa, keinginan, dan ego, latihan untuk kembali eling akan selalu relevan,” kata Abdul.





Komentar (0)