BANDUNG, KOMPAS - Gempa dengan magnitudo 7,7 di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, mengakibatkan 38 orang tewas dan setidaknya puluhan bangunan rusak. Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menyebut, muncul indikasi likuefaksi di Kabupaten Nagekeo, NTT, setelah gempa itu.
Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gempa dengan magnitudo 7,7 itu terjadi pada Sabtu pukul 04.58 WIB. Pusat gempa berada pada koordinat 8,41 derajat Lintang Selatan dan 121,39 derajat Bujur Timur dengan kedalaman 15 kilometer.
Pusat gempa berada di laut dengan jarak sekitar 30 kilometer arah timur laut Kabupaten Nagekeo, NTT. Nagekeo merupakan salah satu kabupaten di Pulau Flores. Sejumlah kabupaten/kota di Pulau Flores pun terkena dampak gempa tersebut.
Guncangan kuat dirasakan selama kurang lebih satu menit di beberapa wilayah, NTT seperti Kabupaten Nagekeo, Sikka, dan Manggarai Barat, serta Kota Bima, Nusa Tenggara Barat. Gempa juga dirasakan di sejumlah wilayah Sulawesi Selatan, seperti Jeneponto, Kepulauan Selayar, dan Maros.
Badan Geologi menyebut, sumber gempa tersebut berkaitan dengan Sesar Naik Busur Belakang Flores atau Flores Back-Arc Thrust. Sesar tersebur memanjang di sepanjang laut utara Kepulauan Nusa Tenggara dari utara Pulau Bali hingga utara Pulau Wetar.
Badan Geologi pun mencatat sejumlah dampak ikutan terkait gempa itu, seperti tsunami kecil, gerakan tanah, retakan tanah, dan indikasi likuefaksi.
Likuefaksi adalah fenomena saat tanah padat berubah menjadi seperti cairan akibat getaran gempa bumi. Kondisi ini terjadi karena tanah yang jenuh air kehilangan kekuatan menahan beban di atasnya.
Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Lana Saria menyatakan, indikasi likuefaksi itu berlokasi di Waekokak-Mbay, Kabupaten Nagekeo. Fenomena itu ditandai keluarnya mata air dari tanah beberapa saat setelah gempa dan munculnya semburan air bercampur pasir atau lumpur.
Lana menuturkan, indikasi likuefaksi itu berupa kerusakan tanah dan gangguan pada pondasi dengan tingkat relatif rendah hingga sedang. Fenomena itu, menurutnya, berbeda dari likuefaksi di Palu, Sulawesi Tengah, pada tahun 2018 yang dapat mengalir jauh.
“Likuefaksi ini masih dalam kategori relatif aman dan bukan seperti kasus likuefaksi seperti Palu yang dapat mengalir jauh,” kata Lana dalam konferensi pers pada Sabtu sore di Bandung, Jawa Barat.
Lana menambahkan, Badan Geologi akan mengirim tim penyelidikan ke lokasi yang terdampak untuk melakukan kajian cepat. Upaya ini memastikan fenomena alam tersebut merupakan likuefaksi atau bukan.
Berdasarkan data terbaru Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per Sabtu sekitar pukul 15.00 WIB, setidaknya 38 orang meninggal dunia akibat gempa tersebut.
Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Berton SP Panjaitan mengatakan, domisili korban yang meninggal tersebar di Kabupaten Sikka, Kabupaten Manggarai, dan Kabupaten Manggarai Timur.
Sementara itu, korban luka tersebar di Kabupaten Sikka, Kabupaten Nagekeo, Kabupaten Manggarai, dan Kabupaten Manggarai Timur.
Likuefaksi ini masih dalam kategori relatif aman dan bukan seperti kasus likuefaksi seperti Palu yang dapat mengalir jauh
Selain korban jiwa, sebanyak 2.000 orang mengungsi ataupun melakukan evakuasi mandiri. Tercatat sebanyak 54 rumah rusak berat, 9 rumah rusak sedang, dan 11 rumah rusak ringan. Selain itu, kerusakan juga terjadi pada lima fasilitas kesehatan, 1 fasilitas pendidikan, 1 gudang Bulog, 3 fasilitas ibadah, dan 6 kantor pemerintahan.
”BNPB menyampaikan bahwa data korban merupakan data sementara dan masih dapat berubah seiring proses verifikasi dan validasi oleh BPBD bersama unsur terkait. Setiap perkembangan data akan disampaikan berdasarkan hasil pendataan resmi di lapangan,” papar Berton.






Komentar (0)