HARIAN.FAJAR.CO.ID, JENEPONTO – Warga pesisir Pattontongan, Kelurahan Biringkassi, Kecamatan Binamu, Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan, menyaksikan fenomena air laut yang surut dan kembali pasang dalam hitungan menit, Sabtu (15/8/2026) pukul 08.30 Wita.
Fenomena tersebut terjadi setelah gempa bumi berkekuatan magnitudo (M) 7,7 yang mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) dan getarannya turut dirasakan di sejumlah wilayah, termasuk Jeneponto.
Seorang warga Pattontongan, Febri, mengatakan dirinya sempat merasakan getaran gempa sebelum melihat perubahan permukaan air laut.
“Terasa sekali getarannya kak. Biasa ji surut air ka, tapi dengan waktu jam. Tapi kali ini hitungan menit surut ki lagi, hitungan menit pasang lagi,” kata Febri kepada FAJAR.
Menurutnya, air laut sempat surut dengan cepat dan tidak berlangsung lebih dari lima menit sebelum kembali naik.
“Surutnya air tidak cukup lima menit, pasang lagi. Air tiba-tiba surut, tiba-tiba juga pasang,” ujarnya.
Febri menyebut fenomena tersebut terjadi berulang kali. Berdasarkan pengamatannya, air laut mengalami pasang-surut hingga sekitar lima kali dalam waktu relatif singkat.
“Tadi kalau tidak salah lima kali pasang surut air dengan hitungan menit ji,” ungkapnya.
Perubahan air laut yang terjadi secara tiba-tiba tersebut juga membuat sejumlah ikan terdampar di kawasan pesisir.
Febri mengaku sempat panik karena kondisi tersebut berbeda dari fenomena pasang-surut air laut yang biasa dilihat warga.
“Ada juga panik warga termasuk saya, karena barusannya begitu air laut. Tidak seperti biasanya,” tuturnya.
Menurut Febri, sejumlah anak-anak bahkan turun ke kawasan pantai untuk mengambil ikan yang terdampar. Namun, tidak semua ikan sempat diambil karena air laut kembali naik secara tiba-tiba.
“Sebenarnya tadi banyak ikan terdampar, tapi tidak sempat diambil semua karena airnya tiba-tiba naik lagi. Itu ji anak-anak turun ambil ikannya,” jelasnya.
Meski sempat mengalami perubahan cepat, Febri mengatakan kondisi air laut di kawasan tersebut kini telah kembali normal.
Ia juga memastikan tidak ada warga yang mengungsi saat fenomena pasang-surut tersebut terjadi.
“Tidak ada ji kak, bahkan itu ji ombak dilihat terus pasang surutnya,” katanya.
Fenomena air laut yang berubah cepat tersebut terjadi di tengah kewaspadaan masyarakat setelah gempa bumi M7,7 yang memicu peringatan dini tsunami untuk sejumlah wilayah Indonesia.(MAP).






Komentar (0)