Warga di Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan, memilih tetap bertahan di wilayah dataran tinggi menyusul gempa bumi bermagnitudo 7,7 yang mengguncang Mbay, Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu, 15 Agustus 2026.
Kepanikan melanda warga, khususnya di Kecamatan Pasilambena dan Pasimarannu, yang wilayahnya berdekatan dengan pusat gempa. Meski gempa susulan dilaporkan tidak lagi terasa, warga masih enggan turun ke pemukiman di daratan rendah karena trauma mendalam terhadap peristiwa gempa dan tsunami yang pernah terjadi pada tahun 1992 dan 2021.
"Warga masih mengungsi di wilayah ketinggian dan mereka belum mau turun untuk ke wilayah daratan karena masih trauma dengan gempa yang sebelumnya terjadi di tahun 2021 dan juga di tahun 1992 di mana saat itu ada ratusan rumah rusak dan juga menimbulkan korban jiwa," lapor jurnalis Metro TV, Ifa Musdalifah dalam tayangan Breaking News Metro TV, Sabtu, 15 Agustus 2026.
Sempat terjadi kepanikan akibat naiknya permukaan air laut setinggi kurang lebih 0,59 cm sesaat setelah guncangan hebat terjadi. Saat ini, warga di kepulauan tersebut terus waspada sembari menunggu arahan resmi dari pemerintah daerah.
Baca Juga :
Basarnas Evakuasi 3 Korban Tertimpa Bangunan Runtuh Akibat Gempa NTT
Koordinasi informasi masih terkendala oleh sulitnya akses internet di wilayah kepulauan, sehingga masyarakat sangat bergantung pada instruksi petugas kepolisian dan pemerintah setempat di lapangan. Sementara itu, pihak berwenang mengimbau para nelayan yang sempat dilarang melaut untuk tetap berhati-hati meski peringatan dini tsunami telah dinyatakan berakhir.
Pada 15 Agustus 2026, gempa bumi berkekuatan awal bermagnitudo 7,0 dengan parameter pemutakhiran menjadi bermagnitudo 7,7 terjadi pada pukul 05.58 Wita . Episenter gempa berada pada koordinat 8,41 derajat Lintang Selatan dan 121,39 derajat Bujur Timur. Pusat gempa bumi tektonik itu terjadi di wilayah laut, sekitar 30 kilometer arah timur laut Nagekeo, NTT.
Berdasarkan pemberitaan sebelumnya, BMKG sempat menerbitkan peringatan dini tsunami sesaat usai terjadi gempa tektonik tersebut. Peringatan dini tsunami berakhir pada pukul 08.30 Wita setelah hasil observasi menunjukkan tidak ada lagi kenaikan muka air laut secara signifikan.
Hasil observasi tinggi muka laut mencatat kenaikan muka air laut di sejumlah wilayah. Ketinggian tertinggi yang tercatat dalam laporan BMKG mencapai 0,94 meter di Maurole, Ende, pada pukul 06.27 Wita. Kenaikan muka air laut juga tercatat di Pelabuhan Kewapante-Sikka 0,38 meter, Flores Timur 0,25 meter, Labuan Bajo 0,36 meter, Dompu 0,17 meter, Bakalang-Alor 0,14 meter, serta sejumlah wilayah lainnya.





Komentar (0)