Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), produksi padi Jawa Tengah pada 2024 mencapai 8,89 juta ton Gabah Kering Giling (GKG). Angka ini mengukuhkan Jateng sebagai lumbung pangan dan produsen padi terbesar kedua di Indonesia.
Data BPS juga mencatat tingginya potensi subsektor peternakan di Jawa Tengah yang mampu menyerap lebih dari 800 ribu tenaga kerja dengan capaian produksi puluhan ribu ton daging per tahun.
Setya menilai kekuatan ekonomi kerakyatan dari sentra-sentra produksi pangan dan ternak tersebut akan berdampak lebih maksimal jika diintegrasikan secara langsung dengan optimalisasi lahan. Ia pun mendorong konsep pertanian dan peternakan terpadu untuk mempercepat pengentasan kemiskinan.
Gagasan integrasi tersebut pun diwujudkan melalui dukungan terhadap program percontohan Revolusi Lahan (Revola) Jateng Optimis. Program yang menjadikan Desa Susukan, Kecamatan Wanayasa, Kabupaten Banjarnegara sebagai lokasi percontohan ini dinilai tepat untuk mengoptimalkan lahan yang selama ini dibiarkan tidak digarap.
Setya mengungkapkan langkah tersebut merupakan jalan keluar untuk menjaga ketersediaan pangan sekaligus meningkatkan pendapatan masyarakat sekitar.
"Alhamdulillah kami dari DPRD bisa membersamai Pak Gubernur untuk menghadiri peresmian Revolusi Lahan di Kabupaten Banjarnegara. Ada beberapa hal yang mungkin perlu nanti kita dorong agar bisa diduplikasi di seluruh Kabupaten/Kota yang ada di Jawa Tengah," tegas Setya dalam keterangannya, Sabtu (15/8/2026).
"Karena ini adalah salah satu upaya kita untuk memberikan pemberdayaan ekonomi kepada seluruh masyarakat, khususnya bagi masyarakat petani. Karena ini adalah integrasi antara pertanian, peternakan, perkebunan, dan juga perikanan. Kita harapkan dengan adanya pola-pola seperti ini dapat menjadi langkah percepatan penanganan dan pengurangan kemiskinan," imbuhnya.
Hal tersebut disampaikannya usai menghadiri peresmian program Revolusi Lahan (Revola) Jateng Optimis. pada Senin (10/8).
Setya juga memberi perhatian khusus pada keterlibatan anak muda di sektor pertanian ini. Di Banjarnegara, pengelolaan kawasan Revola diserahkan kepada para petani muda yang sudah mulai memanfaatkan teknologi pertanian modern.
Ia mengungkapkan penggunaan alat bantu seperti pesawat tanpa awak (drone) dan mesin penyiram otomatis terbukti membuat pekerjaan petani menjadi lebih cepat dan hemat tenaga.
"Keterlibatan generasi muda dengan dukungan teknologi membuktikan bahwa sektor pertanian bisa dikelola dengan cara yang lebih maju. Ini sekaligus menjadi solusi untuk menekan angka pengangguran di desa," tambah Setya.
Setya berharap program serupa tidak hanya berhenti di Kabupaten Banjarnegara. Ia mendorong agar pengelolaan lahan kosong menjadi kawasan produktif yang memadukan pertanian dan peternakan ini bisa ditiru serta diterapkan di 35 kabupaten dan kota di seluruh Jawa Tengah.
"Jika seluruh daerah bisa memanfaatkan lahan kosong mereka seperti di Banjarnegara, kita akan memiliki ketahanan pangan yang kuat di Jawa Tengah. Harapannya, kesejahteraan masyarakat desa juga akan semakin merata," tutup Setya.
Sebagai informasi, program Revola di Desa Susukan dikembangkan di atas lahan seluas kurang lebih 10 hektare. Lahan tersebut kini tidak lagi kosong, melainkan ditanami berbagai komoditas bernilai jual seperti kopi, alpukat, padi, dan tanaman hortikultura.
Selain pertanian, kawasan ini juga diintegrasikan dengan kegiatan peternakan seperti ayam dan kambing, serta sektor perikanan. Penanaman pohon alpukat dan kopi juga dimanfaatkan sebagai tanaman penahan erosi tanah.
(prf/ega)






Komentar (0)