Pantau - Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan arahan Presiden Prabowo Subianto mengenai pertumbuhan ekonomi dan investasi semakin memperkuat posisi industri sebagai tulang punggung perekonomian nasional.
Agus mengatakan pertumbuhan dan investasi harus memberikan manfaat nyata kepada masyarakat melalui penciptaan lapangan kerja dan peningkatan kesejahteraan.
"Bapak Presiden menegaskan bahwa pertumbuhan dan investasi bukanlah tujuan akhir, tetapi instrumen untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Setiap investasi harus mampu menciptakan pekerjaan dan setiap kebijakan harus memperbaiki kehidupan masyarakat. Bagi Kementerian Perindustrian, arahan ini semakin memperkuat tekad kami untuk menjalankan industrialisasi yang inklusif, berdaya saing, dan memberikan nilai tambah sebesar-besarnya di dalam negeri," kata Menperin dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu (15/8/2026).
Kemenperin Memperkuat Industrialisasi dan HilirisasiPresiden Prabowo dalam pidatonya di Gedung Parlemen, Jakarta, Jumat (14/8/2026), menekankan Indonesia harus semakin mampu berdiri di atas kaki sendiri di tengah konflik geopolitik, perang dagang, gangguan rantai pasok, dan tekanan ekonomi dunia.
Agus mengatakan arahan tersebut diterjemahkan Kementerian Perindustrian melalui implementasi Strategi Besar Industrialisasi Nasional (SBIN).
Strategi tersebut diarahkan untuk memperkuat struktur industri nasional, mempercepat hilirisasi, meningkatkan nilai tambah dan produktivitas, memperkuat daya saing, memperluas pasar, serta menciptakan lapangan kerja berkualitas.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), industri pengolahan nonmigas pada triwulan II 2026 tumbuh 5,32 persen secara tahunan atau year on year (yoy).
Pertumbuhan tersebut lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional pada periode yang sama sebesar 5,29 persen.
Industri pengolahan juga menyumbang 18,50 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) dan tetap menjadi kontributor terbesar dalam struktur perekonomian Indonesia.
Sektor tersebut tercatat menjadi sumber pertumbuhan ekonomi terbesar dengan kontribusi mencapai 0,90 persen.
Indeks Kondisi dan Prospek Bisnis Industri Manufaktur (IKBM) tercatat pada level 52,31, sedangkan Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia pada Juli 2026 berada di level 50,2 dan Indeks Kepercayaan Industri (IKI) mencapai 53,10.
"Capaian ini menunjukkan bahwa kebijakan Presiden yang memberikan keberpihakan kuat terhadap sektor industri telah menghasilkan dampak yang konkret. Manufaktur bukan hanya tumbuh, tetapi pertumbuhannya mampu melampaui pertumbuhan ekonomi nasional. Ini menjadi modal yang sangat penting untuk terus memperbesar peranan industri sebagai motor penggerak ekonomi," tutur Menperin.
Investasi Didorong Ciptakan Lapangan Kerja dan Transfer TeknologiPemerintah akan menjaga momentum pertumbuhan industri melalui kebijakan yang memberikan kepastian usaha, memperkuat pasar domestik, meningkatkan investasi, dan menciptakan iklim industri yang semakin kompetitif.
Agus menegaskan hilirisasi perlu diperluas hingga menghasilkan produk akhir bernilai tambah tinggi dan tidak berhenti pada pengolahan komoditas menjadi produk antara.
Investasi yang masuk ke Indonesia juga didorong menciptakan lapangan kerja, memperkuat rantai pasok domestik, meningkatkan penggunaan produk dalam negeri, mengembangkan sumber daya manusia, serta membawa transfer teknologi.
Kemenperin akan mengawal arahan Presiden melalui kebijakan proindustri yang mencakup penguatan struktur industri, hilirisasi, substitusi impor, transformasi teknologi, pengembangan industri hijau, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta perluasan pasar domestik dan ekspor.
"Pesan Bapak Presiden sangat jelas bahwa Indonesia harus semakin mampu berdiri di atas kaki sendiri. Bagi kami, salah satu fondasi utama untuk mewujudkannya adalah industri nasional yang kuat dan berdaulat. Karena itu, momentum pertumbuhan manufaktur yang saat ini sudah melampaui pertumbuhan ekonomi nasional harus terus kita jaga dan tingkatkan," tegas Agus.





Komentar (0)