Bayang Tsunami Flores 1992 Kembali Bikin Panik Warga Selayar

kompas.id
5 jam lalu
Cover Berita

Ratusan warga di Pulau Bonerate, dan sejumlah titik di Selayar, Sulawesi Selatan, mengungsi ke ketinggian seiring gempa yang terjadi. Mereka masih trauma dan panik akan dampak gempa yang terjadi, utamanya ancaman tsunami. Wilayah ini telah beberapa kali diguncang gempa keras disusul tsunami, seperti pada gempa Flores 1992.

Karim (51), warga Desa Bonerate, Pasimarannu, Kabupaten Selayar, baru mengambil wudhu untuk salat Subuh saat tanah yang dipijaknya bergoyang. Seng bergetar. Gempa mengguncang pada Sabtu (15/8/2026).

Ia segera berlari keluar rumah, membawa tiga anak, istri, ayah, dan keluarga lainnya. Guncangan gempa terasa keras dan terjadi cukup lama. Mereka berkumpul di depan rumah menunggu situasi mereda.

“Gempa ini cukup lama. Saya segera bawa keluarga keluar rumah semua, jauhi bangunan,” tuturnya saat dihubungi dari Makassar.

Di belakang rumah yang berbatas laut, air laut mulai bergejolak. Lalu, airnya mulai surut. Ancaman tsunami mulai nyata.

Setelah gempa mereda, keluarga dan ratusan warga di wilayah ini bergerak ke tempat tinggi. Jaraknya sekitar dua kilometer dari kediamannya.

Sementara Karim dan pria dewasa lainnya berjaga di pemukiman dan sekitar pantai. Air laut surut sekitar 200 meter sampai di karang. Lalu, tiba-tiba air mulai naik. Ketinggian air mencapai satu meter lebih, namun tertahan tanggul yang kini telah terbangun.

Baca JugaGempa Bermagnitudo 7,7 Guncang Utara Flores

“Sekarang ada tanggul, jadi tidak limpas airnya. Kalau tahun 1992, itu gelombang sampai 100 m di daratan. Kita semua berlari ketakutan karena tidak tahu namanya tsunami,” ucapnya.

Sebanyak 2.500 orang tewas dalam gempa bumi dan tsunami yang melanda Flores pada Sabtu, 12 Desember 1992 pukul 13.29 WITA.

Kerusakan terparah terutama dialami Kota Maumere dan Pulau Babi, pulau berdiameter 2,5 kilometer di utara Flores. Dari kedahsyatan dan dampaknya, tsunami Flores merupakan salah satu yang terkuat di Indonesia, selain tsunami Aceh 2004.

Saat itu, ia menceritakan, masih duduk di bangku sekolah menengah dan baru saja pulang sekolah. Gempa berkekuatan cukup besar terjadi. Orang-orang berlarian. Ia teringat bapaknya yang belum pulang melaut.

Segera ia berlari ke tepi pantai. Di situ, air surut jauh padahal seharusnya sedang pasang. Warga bingung dengan kondisi ini. Sebagian berlari ke tempat tinggi, sebagian turun ke laut melihat fenomena ini.

Namun, tiba-tiba gelombang tinggi datang. Mereka berlarian. Karim berhasil menjauh sebelum gelombang tiba. Beberapa orang yang terjebak terpaksa memanjat pohon kelapa hingga air surut.

Baca JugaGubernur NTT: Lima Orang Dilaporkan Tewas akibat Gempa Magnitudo 7,7 di Flores

“Di situ kita hanya bisa berlari tidak tahu kenapa air naik cepat. Saya pikir bapak bisa selamat atau tidak,” ceritanya.

Beberapa jam setelahnya, bapaknya kembali dari laut. Ia sempat terombang ambing akibat gelombang namun pulang dengan selamat.

“Karena itu kami trauma kalau gempa dan air surut. Tahun 2021 juga pernah gempa besar, tapi tidak sampai tsunami. Semoga tidak ada korban dari kejadian ini, karena kami wilayah Selayar paling dekat dengan Flores,” tambahnya.

Pulau Bonerate berjarak sekitar 100 mil laut atau 185 km dari Benteng, ibu kota Kabupaten Selayar. Butuh 12 jam berlayar untuk mencapai pulau ini. Namun, dari Flores, pulau ini hanya berjarak sekitar 60 mil laut atau sekitar 112 km.

Gempa berkekuatan Magnitudo 7,7 terjadi pada Sabtu pukul 04.58 WIB. Pusat gempa berada pada koordinat 8,41 derajat Lintang Selatan dan 121,39 derajat Bujur Timur dengan kedalaman 15 km. Data Pemprov NTT, ada lima orang tewas dari kejadian ini.

BMKG pertama kali mengeluarkan peringatan dini tsunami pada pukul 05.00 WIB atau 16 detik setelah gempa bumi terjadi. Berdasarkan pemutakhiran informasi, pusat gempa berada di laut pada kedalaman 15 km, sekitar 38 kilometer timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo.

BMKG juga mencatat ada 37 aktivitas gempa bumi susulan dengan magnitudo 3,7-6,2 hingga pukul 07.07 WIB. Peringatan ini dicabut pada pukul 07.30 WIB.

Selama rentang waktu tersebut terpantau adanya kenaikan muka air laut di sejumlah titik, seperti di Pelabuhan Kewapante, Sikka setinggi 0,38 m, Flores Timur (0,25 m), Labuan Bajo (0,36 m), dan Maurole-Ende (0,94 m atau paling tinggi). Selain itu, ada Dompu (0,17 m), Bakalang, Alor (0,14 m), Baubau (0,30 m), Bulukumba (0,54 m), Kolaka (0,23 m).

Baca JugaCerita Pagi di Larantuka

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Kepulauan Selayar Alifeyanto mengatakan, peringatan dini tsunami telah dicabut BMKG pada pukul 08.31 WITA. Hal itu dilakukan setelah melihat perkembangan tsunami yang menunjukkan tren penurunan.

Meski telah dicabut, ia mengimbau agar masyarakat tetap waspada dan mengikuti perkembangan informasi resmi dari pemerintah. Terlebih lagi, sebagian masyarakat, khususnya di wilayah yang sebelumnya melakukan evakuasi, masih mengalami trauma akibat kejadian tersebut.

"Oleh karena itu, kami menginformasikan kepada masyarakat untuk tidak panik, tetapi tetap meningkatkan kewaspadaan dan memantau perkembangan keadaan," katanya.

Kondisi itu khususnya dialami warga di Kecamatan Pasimarannu dan Pasilambena. Ia mengimbau agar warga yang sebelumnya melakukan evakuasi mandiri agar kembali ke rumah masing-masing setelah situasi dinyatakan aman.

Sementara itu, Kapolres Kepulauan Selayar Ajun Komisaris Besar Didid Imawan memerintahkan seluruh jajaran untuk turun memantau sekaligus memberikan imbauan kepada masyarakat agar tetap tenang dan mengikuti perkembangan informasi resmi.

Perintah tersebut seiring kondisi masyarakat yang sempat panik dan memilih keluar dari rumah sebagai langkah antisipasi setelah merasakan guncangan gempa.

Baca JugaJejak Peradaban Jalur Rempah di Selayar

Berdasarkan laporan sementara, kondisi di sejumlah wilayah kepulauan mendapat perhatian khusus. Di Desa Lembang dan Desa Kalaotoa, sebagian warga memilih menuju wilayah yang lebih tinggi untuk mencari tempat yang dianggap aman sebagai langkah antisipasi.

Sementara itu, di wilayah daratan Pulau Selayar, situasi terpantau lebih kondusif dan aktivitas masyarakat secara bertahap kembali normal setelah sempat dikejutkan guncangan gempa.

“Kami mengimbau masyarakat untuk tetap tenang, tetap waspada, mengikuti perkembangan informasi resmi serta arahan petugas di lapangan. Jangan panik, dan mari kita bersama-sama berdoa agar kita semua senantiasa diberikan keselamatan dan dijauhkan dari segala hal yang tidak kita inginkan,” ujarnya


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Musim Tanam Tiba, Nagan Raya Manfaatkan TKD untuk Rehabilitasi Sawah Terdampak
• 2 jam lalu
0
thumb
Target Prabowo 2027: Turunkan Kemiskinan-Pengangguran, Renovasi Sekolah
• 6 jam lalu
0
thumb
Anggaran Pendidikan Rp 820,9 Triliun, Masih Termasuk MBG
• 17 jam lalu
0
thumb
Kejari Mataram Selidiki Dugaan Korupsi Anggaran Pilkada 2024 KPU Lombok Barat Rp24 Miliar
• 13 jam lalu
0
thumb
Kolaborasi dengan Pegadaian, BCA (BBCA) Luncurkan Layanan Tabungan Emas di myBCA
• 5 jam lalu
0
Berhasil disimpan.