Komisi V Minta Mitigasi Titik Rawan Tsunami-Tanah Retak usai Gempa 7,7 M di NTT

kumparan.com
2 jam lalu
Cover Berita

Wakil Ketua Komisi V DPR Syaiful Huda meminta BMKG dan Basarnas untuk selalu menginformasikan kondisi terkini di NTT, menyusul gempa berkekuatan 7,7 magnitudo yang mengguncang wilayah Nagekeo pada Sabtu (15/8).

Hal itu disampaikan Huda agar publik khususnya warga yang terdampak di NTT tidak kebingungan dalam menghadapi situasi dan bisa menyiapkan antisipasi.

“Yang pertama kita minta BMKG terus mengupdate situasi terkini. Supaya publik tidak kebingungan menghadapi situasi pasca itu, pasca gempa,” kata Huda saat dihubungi kumparan. Sabtu (15/8).

“Ini penting supaya masyarakat umum bisa mengantisipasi semua keadaan yang ada di lapangan,” lanjutnya.

Huda juga meminta Basarnas untuk mengerahkan seluruh upaya semaksimal mungkin. Selain itu juga untuk memitigasi titik-titik berpotensi rawan tsunami, longsor, hingga tanah retak.

“Yang kedua kita minta teman-teman Basarnas sudah melakukan semua upaya pertolongan dan mitigasi di titik-titik yang berpotensi sangat rawan. Baik potensi akan adanya tsunami atau potensi longsor atau potensi retakan tanah yang mengakibatkan masyarakat bisa terkena dampaknya,” jelas Huda.

“Kepada Basarnas juga kita minta untuk menerjunkan personil semaksimalnya untuk penanganan baik sambil mengantisipasi potensi berbagai hal termasuk nanti pascagempa,” sambung dia.

Huda juga mengharapkan pemerintah mengerahkan alat SAR dengan optimal untuk mengevakuasi korban hingga menangani wilayah yang terdampak.

“Termasuk menurunkan berbagai alat SAR yang dimungkinkan untuk supaya di lapangan semua masalah bisa tertangani dengan baik,” ucap Huda.

“Itu artinya berarti semua alat-alat SAR yang terdekat dari NTT bisa didatangkan untuk mengantisipasi berbagai halnya,” tambah dia.

Sebelumnya, BMKG mengungkap penyebab gempa 7,7 magnitudo yang mengguncang Nagekeo, NTT, pada Sabtu (15/8). Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Wijayanto mengatakan gempa tersebut disebabkan oleh Sesar Naik Busur Belakang Flores atau Flores Back-Arc Thrust.

"Ini adalah mekanisme gempa yang diakibatkan oleh Sesar Naik Busur Belakang Flores, gempa 7,7 magnitudo. Jadi di belakang busur Flores ini ada potensi gempa dengan maksimum 7,8 (magnitudo), 7,9 (magnitudo). Hari ini sudah rilis 7,7 magnitudo," kata Wijayanto saat konferensi pers di kantor BMKG, Sabtu (15/8).

Berdasarkan catatan sejarah, Wijayanto mengungkap gempa yang terjadi hari ini lebih besar dari 30 tahun yang lalu. Kedua gempa itu menyebabkan kerusakan.

"Dari sejarah yang ada pernah terjadi tahun 1992 magnitudo 7,5. Ini juga sangat luar biasa kerusakannya waktu itu," ujarnya.

Adapun gempa 7,7 magnitudo terjadi pada pukul 04.58 WIB dengan kedalaman 15 kilometer. Episenter gempa terletak pada koordinat 8,41 LS dan 121,39 BT, tepatnya berlokasi di laut pada jarak 30 kilometer arah timur laut Nagekeo, NTT.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Jaringan Telekomunikasi NTT Terganggu Akibat Gempa, 200 BTS Terdampak
• 2 menit lalu
0
thumb
Buperta Cibubur Macet Parah Malam Ini, Kendaraan Mengular Sampai Tol
• 15 jam lalu
0
thumb
3 Shio Dapat Rezeki Nomplok pada 15 Agustus 2026: Anjing Seperti Mimpi
• 22 jam lalu
0
thumb
Mau ke Perayaan HUT ke-81 RI? Dishub DKI Imbau Naik Transportasi Umum, Tarif Cuma Rp8
• 2 jam lalu
0
thumb
Dosen Fakultas Pertanian Unwaha Dampingi Kelompok Ternak Budi Luhur Wonosalam Produksi Biobriket
• 1 jam lalu
0
Berhasil disimpan.