Jakarta, CNBC Indonesia - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperbarui peringatan dini tsunami menyusul gempa berkekuatan magnitudo 7 yang berpusat sekitar 30 kilometer timur laut Mbay, Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Berdasarkan pemutakhiran BMKG, gelombang tsunami telah terdeteksi di 10 wilayah, mulai dari NTT, NTB, Sulawesi Tenggara hingga Sulawesi Selatan.
Gelombang tertinggi tercatat di Maurole, Ende, dengan ketinggian mencapai 0,94 meter pada pukul 05.27 WIB.
Sementara itu, gelombang tsunami juga terdeteksi di Bulukumba, Sulawesi Selatan, dengan ketinggian 0,54 meter pada pukul 05.58 WIB.
Sebelumnya BMKG melaporkan gempa terjadi pada 04.58 WIB, dengan lokasi 8,33 Lintang Selatan dan 121,32 Bujur Timur. Pusat gempa berada sekitar 38 kilometer timur laut Mbay, Nagekeo, dengan kedalaman 10 kilometer.
"#Gempa (UPDATE) Mag:7.0, 15-Agu-26 04:58:23 WIB, Lok:8.33 LS, 121.32 BT (Pusat gempa berada di laut 38 km timur laut Mbay, Nagekeo), Kedlmn:10 Km," tulis BMKG melalui akun X.
Guncangan gempa dirasakan cukup kuat di sejumlah wilayah. Intensitas mencapai IV-V MMI di Ruteng, Ende, Labuan Bajo, Maumere, dan Sumba Timur.
Sementara itu, guncangan mencapai V MMI di Kota Bima dan Kabupaten Dompu. Gempa juga dirasakan hingga Kupang dan Kabupaten Sumbawa Barat dengan intensitas IV MMI.
Warga Selayar Langsung Lari ke Bukit
Dilansir dari detik, dampak gempa juga dirasakan masyarakat di Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan.
Warga di Kecamatan Pasimarannu dan Pasilambena langsung melakukan evakuasi ke wilayah yang lebih tinggi setelah adanya peringatan tsunami.
Bupati Kepulauan Selayar Muhammad Natsir Ali mengatakan warga di kedua kecamatan tersebut termasuk yang paling cepat merespons peringatan.
Menurutnya, pengalaman gempa besar di NTT pada 2021 yang turut berdampak ke Selayar membuat masyarakat lebih sigap menghadapi potensi tsunami.
"Saya sudah langsung video call dengan pemerintah kecamatan, masyarakat yang ada di Pasimarannu, Pasilambena. Memang sempat ada kejadian di 2021 yang mengakibatkan trauma masyarakat," ujar Natsir Ali.
Ia mengatakan pengalaman tersebut membuat kesadaran masyarakat terhadap risiko gempa dan tsunami semakin tinggi.
"Alhamdulillah kesadaran masyarakat menghadapi gempa di Pasimarannu, Pasilambena cepat, mereka langsung lari ke bukit," katanya.
Belum Ada Laporan Kerusakan
Natsir memastikan hingga saat ini belum ada laporan kerusakan bangunan akibat gempa tersebut di wilayah Selayar.
Meski demikian, kepanikan sempat terjadi karena masyarakat teringat dampak gempa pada 2021.
"Panik masyarakat, pasti, karena sama kejadian yang kemarin. Tapi alhamdulillah dampaknya tidak seperti yang kemarin," ujarnya.
Ia mengatakan gempa sebelumnya sempat menyebabkan kerusakan parah pada rumah warga serta tanggul dan jalan.
"Tapi alhamdulillah sampai saat ini tidak ada. Sempat saya tanya, tidak ada rumah, sekolah yang rusak. Kami masih waspada," jelasnya.
(mae/mae)





Komentar (0)