Jejak Naskah Proklamasi Tulisan Bung Karno Nyaris Masuk Tong Sampah

liputan6.com
3 jam lalu
Cover Berita

Liputan6.com, Jakarta - Dua lembar naskah menjadi saksi penting lahirnya Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Satu ditulis tangan oleh Soekarno, berdasarkan pembicaraan bersama Mohammad Hatta dan Ahmad Soebardjo. Satu lagi merupakan naskah yang kemudian diketik Sayuti Melik.

Namun, ada cerita menarik di balik naskah tulisan tangan Soekarno tersebut. Setelah selesai diketik, naskah asli itu ternyata sempat ditinggalkan begitu saja di atas meja.

Advertisement

BACA JUGA: Susu Tertinggal dan Celana Basah Bung Hatta di Rengasdengklok

Bahkan, Sayuti Melik sempat mengira konsep tulisan tangan tersebut sudah hilang.

Kisah itu bermula pada malam 16 Agustus 1945. Penyusunan naskah Proklamasi berlangsung di rumah Laksamana Tadashi Maeda, seorang perwira tinggi Jepang, di Jalan Imam Bonjol 1, Jakarta.

Meski penyusunan dilakukan di rumah seorang petinggi militer Jepang, tidak ada orang Jepang yang ikut dalam pembahasan naskah. Maeda hanya menyediakan tempat.

Pada awal pertemuan, Soekarno bahkan menegaskan bahwa pertemuan tersebut bukan rapat Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI), melainkan rapat wakil-wakil rakyat Indonesia.

Menurut Sayuti Melik dalam buku Wawancara dengan Sayuti Melik yang disusun Arief Priyadi dan diterbitkan Yayasan Proklamasi Centre for Strategic and International Studies pada 1986, hanya tiga orang yang menyusun konsep naskah Proklamasi.

Mereka adalah Soekarno, Hatta, dan Ahmad Soebardjo.

Sementara itu, di dalam ruangan terdapat dua orang lainnya, yakni Sukarni dan Sayuti Melik.

Peran keduanya saat itu lebih banyak mengamati jalannya pembahasan.

"Kami berdua hanya menganggukkan kepala saja kalau ditanya," kata Sayuti Melik tentang perannya di ruang itu bersama Sukarni.

Dalam penyusunan konsep, Hatta dan Soebardjo lebih banyak berbicara. Soekarno kemudian menuliskan rumusan yang dibahas tersebut.

Setelah selesai, konsep tulisan tangan itu dibacakan kepada para wakil bangsa Indonesia yang hadir.

Pembahasan belum selesai. Wakil pemuda Chaerul Saleh menolak apabila naskah tersebut ditandatangani oleh anggota PPKI lainnya. Ia menyebut mereka sebagai orang-orang Jepang.

Lobi kemudian dilakukan hingga akhirnya disepakati naskah Proklamasi ditandatangani Soekarno dan Hatta atas nama bangsa Indonesia.

Setelah kesepakatan tercapai, Soekarno meminta Sayuti Melik mengetik naskah tersebut.

"Ti, ti, tik..tik!" demikian perintah Soekarno ketika itu.

Sayuti kemudian membawa konsep tulisan tangan Soekarno ke ruangan lain untuk diketik.

Dalam proses pengetikan itu, terdapat beberapa perubahan. Salah satunya mengubah frasa "wakil-wakil bangsa Indonesia" menjadi "Atas nama Bangsa Indonesia".

Sayuti juga mengaku menambahkan nama Soekarno-Hatta pada bagian akhir naskah.

"Saya berani mengubah ejaan itu adalah karena saya dulu pernah sekolah guru, jadi kalau soal ejaan bahasa Indonesia saya merasa lebih mengetahui daripada Bung Karno," kata Sayuti.

Setelah selesai mengetik, naskah tulisan tangan Soekarno justru ditinggalkan di atas meja.

Naskah ketikan kemudian dibacakan kembali dan ditandatangani oleh Soekarno dan Hatta.

Menurut Sayuti, dirinya tidak mengetik naskah tersebut dalam beberapa rangkap. Artinya, hanya ada satu salinan naskah ketikan Proklamasi.

Di titik inilah muncul pertanyaan, ke mana perginya konsep asli tulisan tangan Soekarno?


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Erick Thohir Tegaskan Pramuka Masuk Struktur Inti Pendidikan untuk Perkuat Karakter Generasi Muda
• 5 jam lalu
0
thumb
Prabowo Targetkan Tingkat Kemiskinan 2027 Turun ke 6,0-6,5 Persen
• 17 jam lalu
0
thumb
Apresiasi & Catatan Kritis Habib Aboe untuk Pidato Presiden Prabowo soal RAPBN 2027
• 11 jam lalu
0
thumb
Kerja sama Malaysia-China dorong pertumbuhan pengolahan sumber daya
• 1 jam lalu
0
thumb
Raja Salman Mendadak Keluarkan 3 Dekrit di Arab Saudi, Reshuffle Besar
• 9 jam lalu
0
Berhasil disimpan.