Memenangkan Masa Depan Indonesia

katadata.co.id
5 jam lalu
Cover Berita

Bayangkan sebuah negeri yang terbentang dari ujung barat ke timur, terdiri dari ribuan pulau, dihuni oleh ratusan bahasa, dan dihimpun oleh beragam budaya serta keyakinan. Negeri itu, dengan segala keterbatasannya, mampu menumbuhkan satu tekad yakni Indonesia merdeka. 

Delapan puluh satu tahun silam, Indonesia bukanlah bangsa yang diperhitungkan. Kita dijajah, diremehkan, dan dikelola oleh kekuatan asing. Namun ada sesuatu yang tidak bisa ditaklukkan oleh siapa pun yaitu kehendak untuk bebas dan keberanian untuk memperjuangkannya.

Kemerdekaan bukan sekadar peristiwa historis. Ia adalah kesadaran kolektif yang lahir dari luka bersama. Kesamaan nasib menyatukan petani dan pelajar, buruh dan santri, dalam satu cita-cita luhur untuk menjadi bangsa yang bermartabat dan berdaulat. 

Semangat itu tercermin dalam Pembukaan UUD 1945 yang menegaskan bahwa kemerdekaan Indonesia adalah berkat rahmat Tuhan Yang Maha Esa dan buah perjuangan seluruh rakyat Indonesia. Ia bukan hanya peristiwa fisik, tetapi juga kesadaran moral dan politik yang lahir dari penderitaan serta pengharapan bersama.

Kini, delapan dekade telah berlalu. Tantangannya tidak lagi berupa penjajahan fisik, tetapi perang gagasan dan kompetisi antarbangsa. Jika dulu semboyannya “merdeka atau mati,” kini pilihan kita adalah “maju atau tertinggal.” Dan seperti dulu, pilihan itu tetap berada di tangan kita.

Dari Luka Bersama ke Harapan Bersama

Indonesia tidak hadir begitu saja di antara bangsa-bangsa dunia. Seperti dikemukakan Nurcholish Madjid dalam Indonesia Kita, bangsa ini lahir dari kesadaran kolektif sebagai masyarakat yang mengalami penindasan. Kesadaran kebangsaan itu tidak muncul dalam sekejap, melainkan tumbuh dari pengalaman historis rakyat yang kemudian berkembang menjadi kesadaran politik di kalangan terdidik.

Menariknya, tidak semua kelompok terdidik mengalami penderitaan yang sama dengan rakyat kebanyakan. Namun, melalui akses pendidikan yang terbatas yang disediakan oleh pemerintah kolonial, lahir generasi intelektual yang mampu memahami ketidakadilan kolonialisme dan merumuskan gagasan tentang Indonesia sebagai sebuah bangsa. 

Pendidikan yang semula dirancang untuk “menjinakkan” justru melahirkan kesadaran kritis dan menjadi ruang tumbuhnya nasionalisme. Di sanalah lahir para pembuat solidaritas, jembatan antara kelompok terdidik dan rakyat, yang menyalakan api kebangsaan.

Kini wajah masyarakat Indonesia telah berubah. Kelas menengah berkembang, teknologi bergerak cepat, dan tantangan semakin kompleks. Kita butuh narasi pemersatu yang baru. Bukan lagi luka bersama, tetapi harapan bersama. Bukan sekadar mempertahankan kemerdekaan, tetapi memenangkan masa depan.

Kemajuan: Jalan Baru untuk Kemerdekaan

Jika dulu kita bersatu karena luka, hari ini kita harus bersatu karena harapan. Hidup yang lebih baik, pendidikan yang berkualitas, pekerjaan yang bermartabat, dan masa depan yang memberi ruang bagi semua anak bangsa. Kemajuan bukan lagi cita-cita segelintir elite. Ia adalah kebutuhan seluruh rakyat. Tanpa kemajuan, kemerdekaan akan kehilangan makna.

Mengapa harus sekarang? Karena waktu kita terbatas. Bappenas mencatat bahwa kita hanya memiliki sekitar tiga belas tahun sejak 2023 untuk keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah. Jika gagal, kita akan terjebak sebagai bangsa yang terlalu besar untuk dikasihani, tetapi belum cukup kuat untuk dihormati.

Di saat yang sama, dunia berubah dengan cepat. Krisis iklim, konflik geopolitik, dan revolusi kecerdasan buatan mengubah wajah peradaban. Salah satu dampak paling berbahaya dari kecerdasan buatan adalah banjir disinformasi. Data Kementerian Komunikasi dan Digital menunjukkan lebih dari seribu enam ratusan hoaks tersebar selama periode 2024-2025. Di sisi lain, studi The Economic Cost of Fake News mencatat kerugian global akibat disinformasi mencapai lebih dari seribu triliun rupiah setiap tahun.

Kita tidak boleh lengah. Seperti diingatkan Soedjatmoko dalam Dimensi Manusia dalam Pembangunan, cara kita memahami kenyataan bangsa—baik masa lalu, masa kini, maupun masa depan—akan menentukan arah dan martabat perjalanan kita ke depan.

Indonesia Tidak Lahir untuk Setengah Jalan

Kemerdekaan yang kita raih delapan puluh satu tahun lalu bukanlah garis akhir, melainkan titik awal dari sebuah proyek kebangsaan yang terus diperbarui oleh setiap generasi. Tugas generasi pendiri bangsa adalah merebut kemerdekaan. Sementara tugas generasi hari ini adalah memastikan bahwa kemerdekaan tersebut menghadirkan kesejahteraan, keadilan, dan daya saing bagi seluruh rakyat Indonesia.

Dalam konteks itulah, pembangunan nasional tidak dapat dipahami sekadar sebagai agenda pemerintahan lima tahunan. Ia harus ditempatkan sebagai ikhtiar jangka panjang untuk mewujudkan cita-cita kemerdekaan sebagaimana termaktub dalam Pembukaan UUD 1945, yakni melindungi segenap bangsa Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia.

Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto menawarkan satu narasi besar tentang pentingnya menjadikan Indonesia sebagai bangsa yang kuat, mandiri, dan berdaya saing di tengah kompetisi global yang semakin ketat. Narasi tersebut diterjemahkan ke dalam berbagai program strategis, mulai dari Makan Bergizi Gratis, Cek Kesehatan Gratis, Sekolah Rakyat, Sekolah Garuda, hilirisasi industri, hingga transformasi teknologi dan penguatan kapasitas sumber daya manusia.

Tentu, sebagaimana setiap kebijakan publik, berbagai program tersebut harus dipandang sebagai instrumen pembangunan yang terbuka untuk dievaluasi secara kritis. Keberhasilannya tidak ditentukan oleh besarnya anggaran atau popularitas kebijakan, melainkan oleh sejauh mana kebijakan tersebut mampu menghasilkan perubahan yang nyata, terukur, dan berkelanjutan dalam kehidupan masyarakat. Kemajuan bangsa tidak lahir dari slogan, tetapi dari kebijakan yang efektif, tata kelola yang baik, serta partisipasi publik yang kuat.

Pada akhirnya, kemajuan Indonesia bukan hanya tanggung jawab pemerintah. Sejarah menunjukkan bahwa kemerdekaan bangsa ini lahir dari gotong royong berbagai elemen masyarakat. Demikian pula dengan kemajuan. Negara dapat menyediakan arah dan fondasi, tetapi keberhasilannya sangat ditentukan oleh kemampuan seluruh elemen bangsa untuk membangun kepercayaan, menjaga persatuan, dan berkontribusi sesuai perannya masing-masing.

Delapan puluh satu tahun lalu, para pendiri bangsa mewariskan kemerdekaan kepada kita. Hari ini, tantangan kita adalah memastikan bahwa kemerdekaan itu tidak berhenti sebagai warisan sejarah, tetapi tumbuh menjadi kemajuan yang dapat diwariskan kepada generasi berikutnya. Indonesia tidak dilahirkan untuk berjalan setengah jalan. Ia dilahirkan untuk menjadi bangsa yang mampu memenangkan masa depannya.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Danantara Mulai Buktikan Kinerja, Presiden Paparkan Laba BUMN
• 18 jam lalu
0
thumb
Investor China Bangun Empat Tower Apartemen di IKN, Nilai Investasi Capai Rp1,25 Triliun
• 13 jam lalu
0
thumb
PKL & Bangli Kiaracondong Ditertibkan, Pemkot Siapkan 800 Kios Relokasi
• 23 jam lalu
0
thumb
Aktivitas Sinabung Meningkat, Zona Bahaya Diperluas hingga Radius 3 Km
• 21 jam lalu
0
thumb
Kepala BNPB dan Menko PMK Akan Bertolak ke Nagekeo NTT Usai Gempa M 7
• 1 jam lalu
0
Berhasil disimpan.