JAKARTA, KOMPAS.com - Bunyi kecil itu barangkali tak lagi akrab di telinga anak-anak zaman sekarang.
“Otok-otok... otok-otok...”
Suara itu berasal dari sebuah kapal kecil berbahan seng yang bergerak pelan di atas air.
Tak ada layar digital, tak ada tombol canggih, apalagi musik yang bersahut-sahutan.
Hanya api kecil, kapas yang diberi minyak, dan sebentuk kapal sederhana.
Namun, bagi Supriyatna (38), bunyi “otok-otok” itu lebih dari sekadar suara mainan.
Baca juga: Gibran Bagikan Bantuan hingga Mainan Anak ke Korban Banjir Agam, Sumbar
Dari kapal-kapal kecil itulah ia berharap membawa pulang sesuatu untuk keluarganya.
Di tengah riuh Pasar Jatinegara, Jakarta Timur, Supriyatna menggelar mainan-mainan jadul yang mungkin bagi sebagian anak terasa asing.
Ada kapal-kapalan, ikan-ikanan, mobil-mobilan, hingga yoyo.
Mainan itu ditata sederhana.
Tetapi di balik kesederhanaan tersebut, ada kehidupan yang sedang ia perjuangkan.
“Ya (mendapat uang) dari mainan kapal-kapalan aja, seadanya gitu,” ujar Supriyatna saat ditemui Kompas.com di area Pasar Jatinegara, Selasa (11/8/2026).
Dari Seng Bekas, Ada Rezeki yang Diharapkan
Mainan-mainan itu bukan dibuat sendiri oleh Supriyatna.
Ia mengambilnya dari para perajin di Kaliwadas, Cirebon, Jawa Barat.
Di tangan para perajin, seng bekas yang barangkali sudah tak lagi dianggap berguna berubah menjadi benda-benda kecil yang bisa dimainkan.
Baca juga: Menyusuri Pasar Gembrong, Surga Mainan Anak yang Kini Sepi Pembeli
Kemudian, mainan itu sampai ke lapak Supriyatna di Jatinegara.
Kapal seng menjadi salah satu dagangan yang ia andalkan.
Dengan panas api dari kapas yang diberi minyak, kapal kecil itu bisa bergerak di atas air. Gerakannya sederhana, tetapi justru itulah daya tariknya.
Kadang, anak-anak yang lewat berhenti.
Mereka datang bersama orangtuanya, memandangi kapal-kapal kecil dan mainan lain yang berjejer.
Ada yang bertanya harga. Ada pula yang hanya melihat sebentar sebelum kembali melanjutkan perjalanan.
Komentar (0)