Peristiwa kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Gunung Bromo tidak hanya berdampak secara ekologis, namun juga berimbas terhadap menurunnya mata pencaharian warga lokal akibat penutupan tempat wisata tersebut.
Ekonomi warga lokal di kawasan Gunung Bromo sebagian besar ditopang oleh industri pariwisata dengan menyediakan penginapan, penyewaan kendaraan, souvenir, makanan hingga jasa pemandu wisata.
Namun pada Sabtu (8/8/2026) pukul 22.00 WIB, pihak TNBTS resmi menutup seluruh pintu masuk wisata sampai batas waktu yang belum ditentukan karena kebakaran Bromo semakin meluas.
Kondisi tersebut secara tidak langsung mengurangi pemasukan warga. Oleh karena itu, Emil Elestianto Dardak Wakil Gubernur Jawa Timur mengungkap ada instruksi khusus kepada petugas supaya melarisi dagangan warga untuk membantu perekonomian mereka.
“Ya warung terasa tapi itu sebabnya Pak Sekda menginstruksikan kepada BPBD dan dan juga kepada semua petugas untuk makanan sehari-hari utamakan beli dari warung di situ,” kata Emil saat ditemui usai paripurna di DPRD Jatim, Jumat (14/8/2026).
Emil menyebut pembelian makanan dari warung warga cukup membantu sebab personel gabungan pemadaman kebakaran Bromo jumlahnya tidak sedikit, yakni berasal dari instansi BPBD, TNI/Polri, hingga relawan.
“Iya itu lumayan menolong (jualan warga sekitar),” tambahnya.
Diberitakan sebelumnya, Evy Afianasari Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Provinsi Jatim membenarkan bahwa kebakaran Bromo berdampak signifikan bagi industri pariwisata lokal.
Sampai saat ini pihaknya masih berupaya mengkalkulasi nilai kerugian yang dialami para warga lokal. Menurutnya nilai kerugian itu harus mendapat konfirmasi dari pihak TNBTS.
“Memang pastinya ada kerugian dari industri pariwisata. Untuk perhitungannya berapa, kami masih dalam tahap perhitungan karena pihak TNBTS pun masih belum mau berklarifikasi atau konfirmasi terkait hal itu. Mereka masih fokus dulu terhadap pemadaman api,” ujarnya.
Berdasarkan informasi resmi TNBTS, harga tiket masuk wisatawan nusantara dipatok senilai Rp54 ribu pada hari kerja dan Rp79 ribu pada hari libur. Sementara itu, tiket masuk wisatawan mancanegara senilai Rp225 ribu pada hari kerja maupun hari libur.
Evy menyebut jumlah kunjungan harian ke destinasi wisata Gunung Bromo pada hari libur dapat tembus 6 ribu orang per harinya. Sementara pada hari kerja, rata-rata jumlah kunjungan berkisar sampai dua ribu orang.
Seharusnya, lanjut Evy, momentum bulan Agustus ini menjadi periode peak season kunjungan wisatawan asing ke Gunung Bromo dan menjadi pemasukan bagi para pelaku usaha lokal di wilayah setempat.
“Ini yang banyak malah kemungkinan mancanegara karena mereka lagi summer kan. Jadi, memang ini agak mengecewakan, tapi saya yakin kalau wisatawan global pasti amat sangat paham ini, mereka juga amat sangat menghormati alam pastinya,” ungkapnya.(wld/ris/iss)





Komentar (0)