REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Jelang peringatan HUT ke-81 Republik Indonesia dan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), Ali Masykur Musa mengajak keluarga besar NU meneguhkan kembali Amanatul Wathaniyah atau amanah kebangsaan sebagai salah satu fondasi perjuangan organisasi.
Menurut Ali, semangat kebangsaan tidak boleh luntur ketika NU memasuki abad kedua. Pergantian kepemimpinan maupun dinamika internal organisasi, kata dia, tidak semestinya mengubah orientasi dasar NU sebagai organisasi yang berkhidmat kepada umat sekaligus bangsa Indonesia.
Baca Juga
Presiden Ajukan Revisi UU Kewarganegaraan Ganda ke DPR
Ketua SPPG di Jateng Diduga Keracunan Setelah Cicip MBG, Begini Kata Taj Yasin
Konser Musik Jazz Hadir di Bandung Barat, Bupati Jeje Optimistis Dongkrak Ekonomi Daerah
“Semangat kebangsaan tidak boleh luntur, siapa pun ketua umumnya,” kata Ali Masykur Musa yang juga Mudir Aly Idarah Aliyah JATMAN.
Ali menegaskan kepemimpinan di NU merupakan amanah pengabdian, bukan instrumen untuk memenuhi kepentingan pribadi maupun kelompok. Karena itu, siapa pun yang memimpin NU harus menjaga organisasi tetap berada pada orientasi keumatan dan kebangsaan.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
“NU tidak boleh dijual. NU adalah untuk umat, NU untuk bangsa, bukan NU untuk kepentingan diri sendiri,” ujar mantan Ketua Umum PB PMII periode 1991-1994 tersebut.
Menurut Ali, prinsip itu memiliki akar kuat dalam perjalanan panjang NU. Amanah kebangsaan, kata dia, harus terus menjadi bagian dari cara NU membaca persoalan sekaligus menentukan sikap terhadap tantangan yang dihadapi Indonesia.
Ia mengatakan hubungan historis NU dengan bangsa tidak cukup hanya dikenang melalui catatan masa lalu. Warisan tersebut harus diteruskan melalui kontribusi konkret ketika masyarakat dan negara menghadapi persoalan.
“Saat ada masalah bangsa, di situlah NU harus menjadi part of the solution,” katanya.
Ali menilai kebesaran NU tidak cukup diukur dari jumlah jamaah, luas struktur organisasi, maupun pengaruh sosial dan politik yang dimiliki. Ukuran yang lebih substansial, menurut dia, adalah seberapa besar NU mampu memberikan jawaban terhadap persoalan umat dan bangsa.
Semangat kebangsaan itu, lanjut Ali, merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari tradisi NU. Karena itu, identitas keislaman dan keindonesiaan tidak semestinya ditempatkan secara berhadap-hadapan.
“NU dan negara, Islam dan negara, harus ditarik dalam satu napas. Ya Indonesia, ya Islam. Ya Islam, ya Indonesia,” ujarnya.
Komentar (0)