PT Industri Jamu Dan Farmasi Sido Muncul Tbk menerima kunjungan 31 delegasi asal Taiwan di pabriknya di Bergas, Kabupaten Semarang, pada Kamis (13/8). Delegasi tersebut berasal dari berbagai pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah, akademisi, sektor pertanian, praktisi Traditional Chinese Medicine (TCM), perusahaan farmasi TCM, hingga importir tanaman obat.
Kunjungan dipimpin oleh Profesor Farmakognosi dari Departemen Ilmu Farmasi Tiongkok, Fakultas Kedokteran Tiongkok, China Medical University, Taichung, Prof. Yuan Shiun Chang, Ph.D., serta Direktur National Research Institute of Chinese Medicine yang juga menjabat sebagai Direktur Departemen Pengobatan dan Farmasi Tiongkok (TCM) di Kementerian Kesehatan dan Kesejahteraan Taiwan, Yi-Chang Su, MD, Ph.D.
Didampingi Direktur Utama Sido Muncul, Dr. (H.C.) Irwan Hidayat, para delegasi diajak berkeliling melihat langsung proses pembuatan obat herbal dan jamu Sido Muncul. Mereka juga mengunjungi sejumlah fasilitas, mulai dari laboratorium farmakologi, gudang penyimpanan bahan baku, proses evaporasi, Pusat Penelitian Rempah, hingga melihat koleksi tanaman dan hewan di Agrowisata Sido Muncul.
Menyambut kedatangan para delegasi, Irwan Hidayat juga menceritakan perjalanan Sido Muncul dari usaha keluarga hingga berkembang dan kini dikelola oleh generasi ketiga.
"Ini merupakan pabrik keempat Sido Muncul, setelah sebelumnya sempat berpindah dari tiga lokasi yang berbeda. Pabrik ini luasnya sekitar 38 hektare. Untuk lokasi pertama pabrik kami berada di Kota Semarang," ujar Irwan mengawali sambutannya.
Irwan mengatakan, Indonesia memiliki kekayaan tanaman obat yang sangat besar dan beragam. Meski demikian, masih terdapat sejumlah tantangan yang perlu dihadapi agar potensi tanaman obat dapat dikembangkan secara optimal dan berkelanjutan.
"Indonesia memiliki sumber daya tanaman obat yang luar biasa. Yang penting adalah bagaimana bahan baku tersebut dibudidayakan dengan baik, diproses secara benar, memiliki standar mutu, dan dibuktikan secara ilmiah. Kalau itu dilakukan, saya yakin Indonesia mempunyai peluang besar untuk menjadi salah satu sumber bahan baku herbal dunia," jelasnya.
Ia menyambut positif ketertarikan Taiwan terhadap tanaman obat Indonesia. Menurutnya, peluang tersebut dapat dikembangkan melalui berbagai bentuk kerja sama, mulai dari budidaya, transfer pengetahuan, penelitian, hingga penguatan standar industri obat herbal.
“Kami juga sudah bercerita bahwa kami punya kelompok tani, penelitian, dan proses produksi. Nah, kalau tertarik, mereka nantinya bisa melakukan pembelian bahan baku dari Indonesia. Di Taiwan kan lahannya terbatas, akan lebih efisien jika mereka membeli bahan baku dari Indonesia untuk kemudian diolah menjadi produk jadi di sana,” tambah Irwan.
Peluang Kerja Sama Indonesia-Taiwan Perkuat Industri Herbal di Pasar GlobalIrwan mengungkapkan, perhatian dunia internasional terhadap Sido Muncul dan industri herbal serta jamu Indonesia menunjukkan adanya peluang besar bagi Indonesia untuk memperkuat posisinya di industri herbal global.
"Saya melihat ini sebagai sesuatu yang positif. Kita tidak perlu merasa rendah diri dengan industri herbal negara lain. Kita mempunyai kekayaan bahan baku dan pengalaman yang panjang. Tugas kita adalah terus meningkatkan kualitas, standardisasi, dan pembuktian ilmiahnya”, tegas Irwan.
Irwan pun berharap, kunjungan delegasi Taiwan tersebut dapat berlanjut menjadi kerja sama konkret di bidang bahan baku, produk herbal, maupun penelitian.
"Kalau ada peluang untuk meningkatkan perdagangan tanaman obat dengan Taiwan, tentu kami menyambut baik. Tetapi yang lebih penting adalah membangun kerja sama jangka panjang. Kita bisa bekerja sama dalam penelitian, budidaya, standardisasi, pendidikan, maupun pengembangan produk herbal," harap Irwan.
Sementara itu, Prof. Yuan Shiun Chang mengaku kagum melihat fasilitas produksi di pabrik Sido Muncul yang inovatif dan telah menggunakan teknologi modern. Ia menilai, Sido Muncul memiliki standar dan sistem yang baik dalam produksi jamu dan obat herbal.
"Kami sangat terkesan dengan skala perusahaan ini. Standarnya juga sangat tinggi. Sangat bagus dan sangat mengesankan. Kami terkesan," ucap Prof Yuan.
Menurut Prof Yuan, meski penggunaan obat herbal sudah umum di Taiwan, hingga kini belum ada pabrik herbal dengan skala dan teknologi seperti Sido Muncul di negaranya
"Di Taiwan kami tidak menyebutnya jamu. Kami memiliki pabrik farmasi tradisional China yang memproduksi berbagai jenis sediaan obat tradisional China. Ada beberapa pabrik yang berbeda," jelas dia.
Ia juga menilai, meski bentuk industrinya berbeda, terdapat kesamaan dari sisi standar produksi. Industri obat tradisional di Taiwan juga harus memenuhi standar Good Manufacturing Practice (GMP).
"Saya kira cukup mirip karena kami juga harus memenuhi standar GMP. Kami juga terus meningkatkan standar produksi," tegas Prof Yuan.
Dalam kunjungannya ke Sido Muncul, delegasi Taiwan juga mempelajari pengelolaan bahan baku tanaman obat, mulai dari budidaya, pengumpulan, pengolahan, ekstraksi, hingga penjaminan mutu.
Delegasi turut membawa daftar 100 tanaman obat Traditional Chinese Medicine (TCM) yang menjadi komoditas utama impor Taiwan. Sejumlah tanaman obat yang selama ini telah diimpor dari Indonesia, seperti cengkeh, akar Helminthostachys zeylanica, lada, dan rimpang Curcuma longa, turut menjadi objek kajian dalam kunjungan tersebut.
Peneliti Utama BRIN Bidang Tanaman Obat dan Herbal, Yuli Widiastuti, yang turut mendampingi delegasi Taiwan, juga menilai Sido Muncul menjadi salah satu perusahaan yang representatif untuk memperlihatkan perkembangan industri jamu di Indonesia.
“Menurut saya, yang representatif untuk industri jamu di Indonesia sekarang ya Sido Muncul,” kata Yuli.
Menurutnya, kunjungan ini juga menjadi relevan karena China Medical University memiliki perhatian besar terhadap pengembangan pengobatan tradisional. Selain kedokteran konvensional, universitas tersebut memiliki bidang khusus Traditional Chinese Medicine (TCM), termasuk rumah sakit dan tenaga medis yang fokus pada pengobatan tradisional.





Komentar (0)