Kado HUT RI Kodim 1407/Bone Bangun Jembatan TMMD, Puluhan Tahun, Petani Tadangpalie Tak Lagi Berenang Bawa Gabah

harianfajar
1 jam lalu
Cover Berita

HARIAN.FAJAR.CO.ID, BONE — Air Sungai Lemo pernah menjadi saksi bisu dari perjuangan panjang petani di Desa Tadang Palie, Kecamatan Sibulue, Bone.

Sebelum adanya jembatan gantung yang dibangun melalui program TMMD Kodim 1407/Bone, masyarakat harus berjibaku dengan jembatan bambu dan derasnya air Sungai Lemo.

Para petani yang menggantungkan hidup di ladang dan persawahan di seberang harus meniti dengan hati-hati saat lewat. Apalagi saat memikul gabah hasil panen mereka ke rumah.

Warga desa Tadang Palie gotong royong memperbaiki jembatan bambu sebelum adanya jembatan gantung dari TMMD Kodim 1407/Bone

Bahkan dalam beberapa kasus, petani kerap kali terjatuh dan harus merelakan gabah mereka basah.

Kondisi ini sudah cukup lama, masyarakat di sana bahkan tak ingat berapa puluh kali jembatan bambu hasil patungan di sungai itu diganti.

Yang mereka ingat, kerusakan jembatan dengan material bambu terjadi hampir tiap tahun, kala musim penghujan saat air-air deras dari hulu melewati sungai ini.

Entah karena dibawa oleh luapan sungai, atau karena lapuk setelah tiap hari berjuang menopang petani yang menyeberang.

Saat jembatan bambu rusak atau hanyut, mereka mau tidak mau harus menyeberang demi menyelamatkan hasil panen. Gabah dipikul di atas kepala, sementara air sungai bisa mencapai dada.

Bagi petani, menunggu tidak selalu menjadi pilihan. Terutama ketika musim panen tiba. Gabah tidak bisa dibiarkan terlalu lama.

Jika terlambat dibawa pulang dan tidak segera dikeringkan, gabah dapat rusak, bahkan padi bisa tumbuh di dalam karung.

Sehingga petani harus berenang, demi bisa membawa hasil buminya pulang ke rumah.

“Pernah ada gabahnya petani yang hanyut dibawa air, itu pernah kejadian,” ujar Kepala Dusun Sampobea, Hermansyah, kepada FAJAR, Kamis, 13 Agustus 2026.

“Petani itu kan kehidupan mereka, Pak,” sambungnya.

Bagi orang yang tidak bekerja sebagai petani, mungkin kehilangan gabah terlihat seperti kehilangan barang biasa. Namun bagi mereka yang menanam dan merawatnya sejak awal, gabah adalah hasil dari kerja keras mereka selama berbulan-bulan. Karena itu, setiap gabah yang jatuh ke sungai membawa kerugian tersendiri.

Jembatan bambu itu juga tidak bisa dilalui kendaraan bermotor. Petani yang hendak menuju sawah hanya bisa berjalan kaki. Ketika harus membawa hasil panen, gabah dipikul.

Bagi petani, persoalan semakin pelik ketika alat pertanian harus dipindahkan ke seberang sungai.

Traktor tidak bisa begitu saja melewati jembatan bambu sehingga harus dibongkar. Ban dilepas hingga mesin harus dibuka. Pegangan dan bagian-bagian lainnya dipisahkan. Satu per satu dibawa. Setelah berada di seberang, traktor kembali dirakit.

Bahkan, ketika air sungai belum memungkinkan untuk diseberangi, traktor-traktor itu hanya dibiarkan berjejer di pinggir sungai menunggu air surut.

Kawasan yang dilayani jembatan tersebut seyogianya bukanlah wilayah pertanian kecil. Ada sekitar 270 hektare area persawahan yang terdaftar.

Dan sekitar 300 kepala keluarga diperkirakan menggantungkan hidup melewati jembatan ini. Dalam sehari, ratusan orang disebut berlalu-lalang menuju kawasan persawahan.

Jembatan itu menjadi akses terdekat bagi warga menuju sejumlah wilayah. Akses tersebut menghubungkan kawasan Dusun Sampobea dengan sejumlah wilayah lain, termasuk Dusun Tamalanrea, Desa Cinnong, Desa Kalibong dan Desa Parippung.

Dari wilayah Desa Tadang Palie, akses juga berkaitan dengan Dusun Jennae, Dusun Panyili, Dusun Sampobea hingga Dusun Cabbengge.

Ia menjadi penghubung aktivitas warga. Penghubung petani dengan sawah. Penghubung hasil panen dengan rumah.

Dan bagi warga Sampobea, jembatan penghubung yang dibangun Kodim 1407/Bone itu telah dinantikan selama bertahun-tahun.

“Saya hampir menangis kemarin waktu jembatan ini dibangun. Dulu tiap hari saya selalu bersedih melihat petani yang lalu lalang di atas jembatan bambu. Karena ada jembatan ini. Saya agak ini, Pak, agak mimpi, kenapa bisa ada di sini,” haru Hermansyah.

Ia pernah berbicara dengan warga mengenai harapan tersebut. Mereka sama-sama tahu bagaimana sulitnya kehidupan tanpa jembatan yang layak.

“Sekian tahun. Saya sering bercerita sama bapak-bapak di sana, kaya mimpi kita ini adanya jembatan ini,” ujarnya.

Di balik pembangunannya ada personel Kodim 1407/Bone bersama masyarakat yang bekerja secara gotong royong melalui program TMMD. Mereka ikut membantu proses pengerjaan.

Hermansyah menyebut antusiasme masyarakat sangat besar. Personel TNI dan warga bekerja bersama menyelesaikan pembangunan yang selama ini dinantikan.

Dandim 1407/Bone, Letkol Inf Laode Muhammad Idrus mengatakan melalui program TMMD, pembangunan jembatan gantung bukan hanya soal membangun fisik. Ada kehidupan masyarakat yang ikut berubah setelah akses dibuka.

“Maka dari itu pembangunan di desa tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang megah. Kadang, satu jembatan sudah cukup untuk mengubah cara seseorang bekerja,” ujarnya.

Bagi petani Tadang Palie, jembatan itu menghemat tenaga, menghemat waktu.

Mengurangi risiko. Dan yang paling penting, memberi rasa aman ketika membawa hasil panen.

Menurut Laode, jembatan gantung tersebut menjadi bentuk kehadiran pembangunan hingga ke wilayah yang selama ini hanya bisa mengandalkan swadaya masyarakat.

Dan bagi warga, kehadiran itu datang pada waktu yang juga istimewa. Menjelang peringatan 81 tahun kemerdekaan Indonesia.

“Mungkin tidak ada pita besar yang harus digunting. Tidak ada hadiah yang dibungkus. Tidak ada kotak yang perlu dibuka. Tetapi bagi petani Tadang Palie, jembatan itu bisa menjadi hadiah yang jauh lebih berarti,” jelasnya.

Sebab kemerdekaan bagi mereka terasa ketika bisa pergi ke sawah tanpa takut terjebak sungai. Ketika bisa membawa hasil panen tanpa harus mempertaruhkan keselamatan.

Dan ketika gabah yang dipanen dengan susah payah bisa sampai ke rumah dalam keadaan utuh. (an)


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
KPK Gali Eks Dirut BJB Yuddy Renaldi Soal Mekanisme Pengadaan Iklan
• 19 jam lalu
0
thumb
Tim Gabungan Padamkan 1,5 Hektare Lahan Karhutla di Pelalawan Riau
• 18 jam lalu
0
thumb
Petugas Gabungan Musnahkan 17 Ribu Batang Ganja di Aceh Utara
• 20 jam lalu
0
thumb
Denny Sumargo & Olivia Allan Lakukan Program Bayi Tabung Kelima Kalinya
• 23 jam lalu
0
thumb
Jordy Wehrmann Sukses Jalani Operasi Bahu, Kini Fokus Pemulihan
• 4 jam lalu
0
Berhasil disimpan.