Kepala BGN Respons Cepat 256 Siswa di Karo Keracunan, Ancam Tutup-Copot SPPG

kumparan.com
4 jam lalu
Cover Berita

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono merespons cepat kasus dugaan 256 siswa di 5 sekolah tingkat SMA/SMK dan SMP diduga mengalami keracunan setelah mengkonsumsi Makanan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, pada Kamis (13/8).

Sudaryono langsung melakukan video call dengan Bupati Karo Antonius Ginting. Dalam percakapan itu, ia menyampaikan permintaan maaf kepada Bupati Karo atas kejadian tersebut.

Ia juga berjanji akan melakukan perbaikan dan investigasi untuk mengetahui penyebab siswa mengalami gejala keracunan.

"Terima kasih Pak Bupati, terima kasih atas responsnya yang prima. Saya perbaiki ini, minta maaf. Kita niat hari kan kasih gizi anak-anak ini kok ada, kami investigasi Pak. Nanti kami investigasi, dapurnya kami tutup, kami suspend dapurnya. Kemudian kepala SPPG-nya kami copot Pak," ujar Sudaryono dikutip dari akun Instagram pribadinya, @sudaru_sudaryono, Jumat (14/8).

Sudaryono mengatakan BGN akan memperbaiki layanan MBG. Ia juga meminta maaf atas kinerja Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kabupaten Karo yang dinilai belum maksimal.

"Kami berusaha memperbaiki layanan Pak Bupati. Jadi, nah minta tolong, kalau gitu saya tetap, walaupun saya minta maaf karena performa yang kurang baik dari anak buah saya di lapangan. Tapi saya minta tolong Pak Bupati untuk diinvestigasi juga, dibantu investigasi dari kamu termasuk cek lab (laboratorium) makanannya dicek gitu," ujar Sudaryono.

Menanggapi hal tersebut, Antonius mengatakan pihaknya bersama Dinas Kesehatan telah mengambil sampel makanan yang masih tersisa untuk diperiksa di laboratorium.

"Siap Pak. Kami memang sebelumnya sampel makanan yang masih ada tersisa melalui Kepala Dinas Kesehatan juga kami sudah mintakan untuk apa bahan persiapan untuk pemeriksaan," ucap Antonius.

"Sebetulnya setelah kami lihat tadi semua, tidak ada satu pun yang mengkhawatirkan," sambungnya.

Sudaryono mengatakan pengawasan terhadap pelaksanaan MBG di daerah perlu diperketat. Ia menyebut hal tersebut sejalan dengan Keputusan Presiden (Keppres) mengenai pembentukan Satuan Tugas (Satgas) MBG.

Ia pun meminta bantuan Bupati Karo untuk meningkatkan monitoring agar kejadian serupa tidak kembali terjadi.

"Tapi apa pun komitmen Pak Bupati, seperti tadi mungkin Pak Bupati juga tadi kalau kita zoom seluruh kepala daerah intinya kami Satgas yang di mana Keppres-nya Pak Presiden yang sudah ditandatangani terkait Satgas MBG itu kita butuh pengawasan lebih ketat Pak di daerah. Nanti kami meminta tolong Pak Bupati untuk dibantu monitoring dan lain-lain supaya tidak boleh lagi ada satu anak pun, enggak boleh ada yang keracunan Pak Bupati," imbuh Sudaryono.

256 Siswa Diduga Keracunan

Kepala Cabang Dinas Pendidikan Sumut Wilayah IV, Zulkarnain Barus, mengatakan peristiwa tersebut terjadi saat jam makan siang sekitar pukul 13.00 WIB, Kamis (13/8).

Data sementara menunjukkan terdapat tiga sekolah jenjang SMA/SMK yang terdampak, yakni SMA Negeri 1 Berastagi, SMK Swasta Bersama, dan SMA Swasta Bersama. Selain itu, dua sekolah jenjang SMP juga terdampak, yakni SMP Bersama dan SMP Negeri 3 Kabanjahe.

"Kalau totalnya, karena siswa kita yang jenjang SMA/SMK itu kita ada tiga sekolah (yang kena). Sekolah kita ada tiga, SMA Negeri 1 Berastagi, SMK Swasta Bersama dan SMA Swasta Bersama," ujar Zulkarnain.

Berdasarkan data sementara, sebanyak 256 siswa diduga mengalami keracunan. Jumlah tersebut masih dapat bertambah seiring pendataan dan pemeriksaan terhadap siswa lainnya.

Zulkarnain menyebut dugaan sementara gejala tersebut berkaitan dengan menu ikan dencis gulai yang disajikan dalam paket MBG.

"Kalau menunya yang saya lihat itu, sayurnya sayur wortel sama kol, ikannya dencis gulai sama sambal. Diperkirakan itu dari ikan dencis itu perkiraan sementara. Begitu dimakannya langsung gatal-gatal mulutnya, artinya makanya gejala awal langsung mulutnya gatal-gatal gitu. Baru kulitnya gatal, apa namanya sesak," pungkasnya.

Menurut Zulkarnain, kondisi para siswa yang menjalani perawatan di rumah sakit saat ini stabil. Ia menduga sebagian siswa mengalami sesak akibat kepanikan setelah muncul gejala.

"Gitu yang sesak, mungkin karena panik juga. Sebenarnya kondisinya stabil di rumah sakit, karena panik di awal," imbuh Zulkarnain.

Saat ini, para siswa yang mengalami gejala tersebut masih menjalani perawatan di sejumlah rumah sakit di Kabupaten Karo.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Kasus Mutilasi Pria di Depok: HIV, Donor Darah, dan Emosi Publik
• 11 jam lalu
0
thumb
Sinopsis Drama Korea She Was Pretty yang Dibintangi oleh Hwang Jung Eum, Sembunyikan Identitas demi Cinta yang Lama Hilang
• 9 jam lalu
0
thumb
Cegah TPPO, Imigrasi Sulut Tunda Keberangkatan 500 WNI
• 10 jam lalu
0
thumb
Jarum, Benang, dan Rezeki yang Tak Putus untuk Mahendar Selama 30 Tahun
• 2 jam lalu
0
thumb
Deretan Poin Penting Pidato Presiden Prabowo di Sidang Tahunan MPR
• 1 jam lalu
0
Berhasil disimpan.