Universitas Trisakti Hadirkan SI-KASEP untuk Perkuat Deteksi dan Pengendalian TBC di Masyarakat Badui

pantau.com
57 menit lalu
Cover Berita

Pantau - Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti menghadirkan aplikasi SI-KASEP untuk meningkatkan deteksi dini dan pengendalian tuberkulosis (TBC) bagi masyarakat Badui di Kabupaten Lebak, Banten.

SI-KASEP merupakan singkatan dari Sistem Informasi–Kenali, Amati, Skrining, Edukasi, dan Pengobatan yang memadukan teknologi digital dengan pemberdayaan masyarakat serta kearifan lokal.

Ketua Pelaksana PKM Universitas Trisakti dr. Purnamawati Tjhin mengatakan intervensi kesehatan terhadap masyarakat adat membutuhkan pendekatan berbeda karena harus mempertimbangkan nilai dan kebiasaan masyarakat setempat.

Teknologi yang digunakan juga harus sederhana, mudah dipahami, dan dapat membantu masyarakat maupun kader kesehatan dalam kehidupan sehari-hari.

“Karena itu, SI-KASEP dirancang tidak hanya sebagai aplikasi, tetapi sebagai bagian dari proses pemberdayaan masyarakat dan kader kesehatan,” kata Purnamawati dalam keterangan di Lebak, Jumat (14/8/2026).

SI-KASEP Usung Lima Pilar Pengendalian TBC

Aplikasi SI-KASEP dikembangkan untuk menjawab keterbatasan akses informasi kesehatan, pemeriksaan berkala, deteksi dini, serta pemantauan pengobatan TBC di lingkungan masyarakat adat.

Melalui aplikasi tersebut, masyarakat dan kader kesehatan didorong aktif mengenali gejala TBC, memantau kondisi kesehatan, menjalani skrining awal, memperoleh edukasi, dan mendampingi proses pengobatan hingga tuntas.

SI-KASEP mengusung lima pilar yang saling terintegrasi, yakni Kenali, Amati, Skrining, Edukasi, dan Pengobatan.

Tahap Kenali bertujuan meningkatkan kemampuan masyarakat dalam mengetahui tanda dan gejala TBC, sedangkan tahap Amati mendorong pemantauan rutin terhadap kondisi kesehatan diri sendiri maupun anggota keluarga.

Informasi hasil pemantauan selanjutnya dapat digunakan untuk menentukan kebutuhan skrining agar kasus TBC dapat ditemukan sedini mungkin.

Proses skrining dilakukan dengan dukungan aplikasi serta pendampingan kader dan tenaga kesehatan sehingga warga yang memiliki gejala atau faktor risiko dapat diarahkan menjalani pemeriksaan lanjutan di fasilitas pelayanan kesehatan.

Pada tahap Edukasi, SI-KASEP menyediakan informasi mengenai TBC melalui materi yang mudah dipahami, termasuk menggunakan gambar dan video serta penjelasan mengenai pencegahan penularan dan kepatuhan pengobatan.

Tahap Pengobatan diarahkan untuk mendukung pasien yang telah didiagnosis TBC agar menjalani terapi sesuai anjuran tenaga kesehatan hingga tuntas guna meningkatkan keberhasilan pengobatan serta mencegah penularan dan resistensi obat.

Kader Kesehatan Didorong Jadi Penggerak Masyarakat

Tim PKM Universitas Trisakti juga memberikan edukasi dan pendampingan kepada kader kesehatan karena mereka menjadi penghubung antara masyarakat, program kesehatan, dan fasilitas pelayanan kesehatan.

“Kami ingin kader tidak hanya menjadi pengguna aplikasi, tetapi juga menjadi penggerak masyarakat. Dengan demikian, teknologi yang dikembangkan dapat benar-benar digunakan dalam kehidupan sehari-hari dan menjadi bagian dari sistem pemantauan kesehatan masyarakat,” tambah dr. Purnamawati.

Kehadiran SI-KASEP disebut mendapat respons positif dari masyarakat, kader kesehatan, serta perangkat Desa Adat Kanekes.

“Program ini baik karena membantu masyarakat memahami penyakit TBC dengan cara yang sederhana dan sesuai dengan kondisi warga. Jika gejalanya dapat dikenali lebih cepat, masyarakat juga dapat segera mendapatkan pemeriksaan dan pengobatan,” ujar salah seorang perwakilan masyarakat adat.

Program tersebut merupakan bagian dari kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti dengan dukungan Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Trisakti serta skema Hibah Pengabdian kepada Masyarakat DIKTI/Kemdiktisaintek.

SI-KASEP selanjutnya diharapkan dapat dikembangkan dan diintegrasikan dengan pelayanan kesehatan setempat melalui koordinasi bersama puskesmas serta kader kesehatan.

“Kami berharap SI-KASEP tidak berhenti sebagai sebuah aplikasi atau kegiatan pengabdian dalam satu periode. Kami ingin inovasi ini dapat terus digunakan, dikembangkan, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Pada akhirnya, teknologi harus mampu mendekatkan layanan kesehatan kepada masyarakat, termasuk masyarakat yang tinggal di wilayah dengan karakteristik geografis dan sosial budaya yang khusus,” pungkas dr. Purnamawati.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
269 Murid di Karo Keracunan MBG, Sampel Makanan Diuji di Laboratorium
• 15 jam lalu
0
thumb
Prabowo Diharap Umumkan Kenaikan Gaji Guru Saat Pidato di Sidang Tahunan Besok
• 15 jam lalu
0
thumb
BNN Gerebek Kampung Bahari, Pramono: Pemprov DKI Dukung Sepenuhnya
• 17 jam lalu
0
thumb
Kemendagri Perkuat Kolaborasi dan Profesionalisme Keprotokolan Lintas Kelembagaan
• 18 jam lalu
0
thumb
Helikopter Apache Milik AS Jatuh di Texas, 2 Tentara AD Tewas
• 21 jam lalu
0
Berhasil disimpan.