Menjemput Harapan dari Migas Nonkonvensional

kompas.id
4 jam lalu
Cover Berita

Potensi minyak dan gas nonkonvensional menjadi secercah harapan baru untuk meningkatkan produksi di tengah tren penurunan produksi migas alamiah akibat semakin banyaknya lapangan yang berusia tua (mature). Pengembangan migas nonkonvensional di Blok Rokan, Riau, membawa harapan tersebut, meski proses pembuktiannya masih memerlukan waktu.

Pengembangan migas nonkonvensional (MNK) menjadi salah satu upaya untuk meningkatkan produksi siap jual (lifting) minyak bumi. Dalam memperkuat ketahanan energi, pemerintah dan badan usaha terus berupaya mengurangi defisit minyak bumi. Pasalnya, untuk memenuhi kebutuhan nasional yang belum tercukupi, Indonesia masih mengandalkan impor minyak mentah dan bahan bakar minyak (BBM).

Menurut data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), realisasi lifting minyak Indonesia pada 2025 sebanyak 605.300 barel per hari (BOPD). Meski di atas target APBN, angka itu menggambarkan tren penurunan lifting minyak bumi. Sebagai perbandingan, pada 2015, lifting minyak sebesar 788.000 BOPD. Capaian pada 2025 juga jauh di bawah target yang digaungkan, yakni 1 juta BOPD pada 2030.

Hal tersebut tak terlepas dari kondisi sumur-sumur migas di Indonesia yang umumnya sudah tua, sehingga dibutuhkan teknologi untuk mengoptimalkan potensi yang tersimpan. Salah satunya dengan pengembangan MNK, termasuk di Rokan.

Baca JugaMinyak dan Gas Nonkonvensional Jadi Tumpuan

Sebagai catatan, MNK adalah hidrokarbon yang terbentuk dan terperangkap di batuan reservoir berpermeabilitas (kemampuan batuan meloloskan fluida melalui pori-pori) rendah, yang berupa batuan lempung. Berbeda dengan migas konvensional yang bermigrasi ke batuan penyimpan, MNK terperangkap di batuan induknya di titik kedalaman hingga sekitar 3 kilometer (km) dari permukaan tanah.

Kondisi itu membutuhkan teknologi khusus seperti pengeboran horizontal dan stimulasi perekahan hidrolik. Dalam mengupayakan itu, PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) telah mengerjakan fase eksplorasi di Sumur Gulamo dan Sumur Kelok, yang kemudian dinyatakan sebagai discovery (penemuan). Selanjutnya ialah tajak untuk tiga sumur appraisal guna memastikan ukuran, bentuk, kualitas, dan perkiraan cadangan.

Direktur Eksekutif ReforMiner Institute Komaidi Notonegoro, dihubungi pada Jumat (7/8/2026), mengatakan, pengembangan MNK membawa harapan, terutama di tengah kebutuhan Indonesia meningkatkan produksi minyak mentah. Namun, perjalanannya masih panjang, termasuk hingga nanti diketahui apakah proyek tersebut dapat mencapai keekonomian atau tidak.

”Migas nonkonvensional sendiri teknologinya masih baru, apalagi di Indonesia. Masih sama-sama belum tahu polanya, juga karakteristiknya. Bagaimana reservoir-nya, hingga apakah bisa langsung digenjot (produksinya) atau tidak. Jadi, masih akan melihat dulu dan semua pada akhirnya adalah tentang keekonomian,” ujar Komaidi.

Ia mencontohkan, perbedaan karakteristik minyak yang dihasilkan, termasuk tingkat kekentalannya, juga akan menentukan keekonomian dari proyek tersebut. Hal tersebut berkaitan dengan teknologi maupun jenis kimia yang diperlukan untuk mengoptimalkannya.

Semua upaya tersebut, imbuh Komaidi, membutuhkan biaya yang tidak kecil. ”Sejauh ini, kalau data pemerintah, kan, biaya eksplorasi maupun eksploitasi MNK bisa 1,5-2 kali lipat dibandingkan konvensional. Bisa jadi karena tingkat kedalamannya atau juga karena jumlahnya. Nanti waktu yang akan menjawabnya,” lanjutnya.

Baca JugaIndonesia Tanpa Migas, Mungkinkah?

Regulasi teranyar terkait MNK ialah Keputusan Menteri (Kepmen) ESDM Nomor 246 Tahun 2026 tentang Percepatan Pelaksanaan Pengusahaan Minyak dan Gas Bumi Nonkonvensional Wilayah Kerja Rokan yang ditetapkan pada 11 Juni 2026. Pada Kepmen itu disebutkan pengusahaan migas nonkonvensional dapat diajukan baik sebagai bagian dari Wilayah Kerja (WK) migas konvensional eksisting, maupun menjadi WK migas nonkonvensional baru.

Selain itu, disebutkan dalam pelaksanaan kegiatan berdasarkan kontrak kerja sama migas konvensional yang telah ditetapkan, pelaksanaan MNK pada WK dilakukan penetapan bagi hasil dan insentif. Itu sesuai dengan kelayakan teknis dan keekonomian, dengan memperhitungkan besaran investasi dan operasi; harga migas; serta volume hasil produksi migas.

Siapkan tajak perdana

Perusahaan pertama di Indonesia yang mengembangkan MNK ialah PHR. Pencarian sumber daya MNK, jenis shale oil (minyak serpih) dan shale gas (gas serpih), dilakukan PHR sejak 2023 melalui pengeboran perdana sumur eksplorasi MNK. Pada Desember 2024, PHR mengonfirmasi sumur MNK Gulamo Det-1 dinyatakan sebagai discovery, setelah dilakukan evaluasi hasil data fracturing serta uji rekahan. Kemudian disusul Sumur Kelok.

Direktur Utama PHR Muhamad Arifin di Bogor, Jawa Barat, Kamis (30/7/2026), mengatakan, PHR saat ini tengah mempersiapkan tahapan pengeboran tiga sumur appraisal, yang dijadwalkan tajak pada Desember 2026. Dengan demikian diharapkan target tambahan produksi dari MNK bisa semakin dekat diwujudkan.

”Mulai tahun ini kami akan melakukan pengeboran sumur appraisal lalu demonstrasi. Insyaallah kami bor beberapa sumur untuk bisa menambah pundi-pundi minyak buat PHR dan juga buat negara,” kata Arifin.

Baca JugaPacu ”Lifting” Minyak, Berbagai Inovasi Diupayakan di Rokan

Secara rinci, Arifin menuturkan, pengeboran dilakukan pada tiga sumur appraisal. Setelah itu, akan dilakukan pengeboran delapan sumur demonstrasi. Apabila sukses, menurut rencana akan dilakukan pengeboran sebanyak sekitar 400 sumur untuk pengembangannya. ”Kalau semua dikembangkan secara menyeluruh, (potensi) ada 6 miliar sampai 7 miliar barel,” lanjutnya.

Ia mengakui, pengembangan MNK bukan tanpa tantangan. Salah satu tantangan utamanya adalah pemilihan teknologi karena pendekatan yang digunakan berbeda dengan migas konvensional. Itu mencakup karakteristik reservoir hingga jenis minyak yang dihasilkan. Pada migas konvensional, batuan tempat minyak terperangkap memiliki pori-pori yang cukup baik sehingga migas lebih mudah keluar. Sementara pada MNK, batuannya lebih rapat dan minyak cenderung lebih sulit mengalir.

Berkaca pada Argentina

Pengembangan migas nonkonvensional di Argentina menunjukkan bagaimana pemanfaatan sumber daya shale dapat menjadi salah satu penggerak pertumbuhan ekonomi. Indonesia dapat berkaca pada pengalaman tersebut, terutama di tengah upaya mengembangkan potensi migas nonkonvensional di Blok Rokan.

Berdasarkan laporan Reuters, pada Senin (10/8/2026), perusahaan minyak milik negara Argentina, YPF, melaporkan laba bersih sebesar 1,21 miliar dolar AS pada triwulan II-2026. Angka itu melonjak dibandingkan laba bersih 58 juta dolar AS pada periode yang sama tahun lalu. Kinerja positif itu didorong oleh peningkatan produksi shale, rekor tingkat pengolahan minyak, serta kenaikan harga minyak di pasar internasional.

Sebagai bagian dari catatan tersebut, produksi minyak shale YPF melonjak 47 persen secara tahunan menjadi rata-rata 213.000 BOPD. Perusahaan pun menargetkan produksi minyak shale meningkat menjadi 250.000 BOPD pada akhir 2026. Total produksi minyak mentah YPF mencapai 266.000 BOPD, tetapi produksi gas alam perusahaan turun 6 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Baca JugaBahlil: Prabowo Minta Persoalan ”Lifting” Minyak Diselesaikan

Sebelumnya, mengutip S&P Global pada April 2026, Argentina diproyeksikan mampu mencapai produksi minyak 1 juta BOPD tahun ini dan mempertahankan pertumbuhan pesat. Itu seiring semakin banyak perusahaan yang mengajukan insentif pajak pemerintah untuk mengembangkan proyek-proyek hulu berskala besar di lapangan shale Vaca Muerta.

”Saya kira kita akan menyentuh produksi 1 juta barel minyak tahun ini,” ujar Wakil Menteri Energi dan Pertambangan Argentina Daniel Gonzalez di Buenos Aires.

Angka tersebut akan meningkat 26 persen dibandingkan rata-rata produksi 793.000 BOPD pada 2025. Produksi itu juga melampaui angka terbaru sebesar 874.000 BOPD pada Februari 2026, sekaligus memecahkan rekor produksi sebelumnya sebesar 846.950 BOPD yang tercatat pada 1998, berdasarkan data Sekretariat Energi Argentina.

Gonzalez, yang juga mantan CEO YPF yang merupakan produsen minyak terbesar Argentina, mengatakan, pertumbuhan pesat dan target baru 1 juta BOPD menjadi tonggak yang sebelumnya tak terperkirakan. Salah satu pendorong pertumbuhan itu adalah Vaca Muerta, sebagai salah satu formasi shale terbesar di dunia yang kini menarik investasi baru serta pemain baru.

Pada akhirnya, potensi MNK diharapkan menahan laju penurunan produksi dari lapangan-lapangan konvensional yang semakin mature. Namun, untuk mewujudkan itu, dibutuhkan teknologi, investasi, kepastian regulasi, serta keekonomian yang memadai, hingga dikonversi menjadi produksi. Pengalaman Argentina dengan Vaca Muerta menunjukkan migas nonkonvensional dapat menjadi sumber pertumbuhan baru.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Pria di Purwakarta Siksa Anak demi Uang, Rumah yang Menakutkan
• 4 jam lalu
0
thumb
Detik-Detik Longsor Tambang Emas Ilegal di Pohuwato Timbun Pekerja, 6 Korban Dievakuasi
• 23 jam lalu
0
thumb
Reza Arap Tetap Rayakan Mendiang Lula Meski Dihujat Netizen: Saya Tidak Peduli
• 5 jam lalu
0
thumb
Diburu Bareskrim, Ini Peran WN China yang Palsukan Akta
• 22 jam lalu
0
thumb
Empat Anak Michael Bambang Hartono Warisi Saham Masing-Masing Rp52 Triliun
• 19 jam lalu
0
Berhasil disimpan.