Harga Daging Sapi di Pasar Legi Ponorogo Tembus Rp150 Ribu per Kg

beritajatim.com
4 jam lalu
Cover Berita

Ringkasan Berita:

Ponorogo (beritajatim.com) – Harga daging sapi di Pasar Legi Ponorogo mengalami kenaikan cukup tajam. Pada Jumat (14/8/2026), harga daging sapi kualitas super di pasar tersebut mencapai Rp150 ribu per kilogram. Kenaikan harga disebut mulai terasa sejak momentum Idul Adha dan terus berlanjut hingga kini.

Salah satu pedagang daging sapi di Pasar Legi Ponorogo, Ardi Arganata, mengatakan kenaikan harga kali ini cukup signifikan. Harga Rp130 ribu per kilogram yang sebelumnya masih mudah diperoleh kini sudah sulit didapat dari pemasok. Kondisi tersebut kemudian mendorong kenaikan harga jual daging kepada konsumen.

“Puncak tinggi sampai Rp150 ribu per kilogram per hari ini. Itu lonjakan dari Hari Raya Idul Adha itu sudah sampai hari ini kenaikan hampir 7 kali kenaikan,” kata Ardi, warga Jalan Sulawesi, Kelurahan Banyudono.

Menurut Ardi, kondisi tersebut berbeda dengan kenaikan harga daging sapi yang biasanya terjadi menjelang Idul Fitri. Saat itu, harga daging sapi sekitar Rp130 ribu per kilogram masih bisa diperoleh pedagang dari pemasok untuk kemudian dijual kepada konsumen.

Namun, saat ini harga Rp130 ribu per kilogram terkadang baru didapat pedagang ketika membeli daging dari pemasok. Kondisi tersebut membuat pedagang harus menyesuaikan kembali harga jual berdasarkan jenis dan kualitas daging.

Untuk daging sapi kualitas super, Ardi kini mematok harga Rp150 ribu per kilogram. Sementara itu, daging yang digunakan untuk kebutuhan masakan seperti rawon dijual sekitar Rp125 ribu per kilogram.

“Kalau yang super Rp150 ribu per kilogram. Rawon Rp125 ribu per kilogram,” ungkapnya.

Kenaikan harga daging sapi juga berdampak pada pola pembelian konsumen. Ardi mengatakan pembeli kini cenderung menyesuaikan jumlah daging yang dibeli dengan kemampuan masing-masing.

Meski harga naik, Ardi masih berani menyimpan stok daging sapi. Keputusan tersebut dilakukan karena dirinya memiliki pelanggan tetap yang mengambil daging secara rutin.

Pedagang juga melakukan penyesuaian agar daging sapi tetap dapat dijangkau pelanggan. Salah satunya dengan mencampur jenis daging sesuai kebutuhan pembeli.

“Sekarang mau nggak mau ikut nyokong super biar menyetarakan harga, campur,” katanya.

Ardi menjelaskan, salah satu faktor yang dimungkinkan mendorong kenaikan harga adalah kelangkaan sapi. Ardi tidak melakukan pemotongan sapi sendiri dan memperoleh pasokan daging dari pihak lain. Kondisi di tingkat peternak disebut turut memengaruhi ketersediaan sapi yang masuk ke pasar.

“Penyebabnya salah satunya mungkin kelangkaan sapi,” tegas Ardi.

Di tengah kenaikan harga, aktivitas jual beli daging sapi di Pasar Legi Ponorogo masih berlangsung. Ardi mengatakan dirinya rata-rata mampu menjual sekitar 50 hingga 70 kilogram daging sapi dalam sehari.

Jumlah penjualan tersebut masih bertahan karena sebagian pembeli merupakan pelanggan yang sudah rutin berbelanja. Namun, kenaikan harga tetap membuat konsumen harus menyesuaikan jumlah pembelian dengan kondisi keuangan mereka.

Kenaikan harga daging sapi juga dirasakan konsumen Pasar Legi Ponorogo. Siti Khotijah, warga Desa Mrican, Kecamatan Jenangan, mengatakan dirinya tetap membeli daging sapi meski harganya mengalami kenaikan.

Bagi Siti, daging sapi masih menjadi salah satu kebutuhan untuk memenuhi konsumsi keluarganya.

“Ya mau nggak mau, namanya kebutuhan sehari-hari,” kata Siti.

Siti mengatakan daging sapi yang dibeli digunakan untuk kebutuhan makan anak-anaknya. Salah satu anaknya masih bersekolah, sedangkan anak lainnya sudah bekerja.

Dia juga menyebut anaknya yang masih sekolah tidak mendapatkan program Makan Bergizi Gratis (MBG), sehingga setiap hari membawa bekal makanan dari rumah.

“Buat anak sekolah. Buat konsumsi harian. Anak tidak pernah dapat MBG,” ungkapnya.

Sebelum harga daging sapi naik, Siti biasanya membeli daging dengan harga sekitar Rp120 ribu hingga Rp125 ribu per kilogram. Kini, kenaikan harga membuat jumlah daging yang dibeli harus disesuaikan dengan uang yang tersedia.

“Kalau sekarang harga naik ini, ya secukupnya uang. Kadang setengah kilo, yang penting anaknya makan bergizi dari rumah,” pungkasnya. [end/beq]


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Laba Pupuk Indonesia Tembus Rp8,51 Triliun di Semester I 2026, Berkat Transformasi Danantara
• 21 jam lalu
0
thumb
Richard Lee Jatuh Sakit Akui Buntut Kelelahan Tunggu Sidang Mulai
• 43 menit lalu
0
thumb
Danantara Mulai Hitung Pembelian Saham BEI: Tergantung Kapitalisasi PDB RI
• 19 jam lalu
0
thumb
Beda Agama, Bisa Gagal Adopsi? Ini Aturan Kesamaan Agama COTA dan CAA
• 20 jam lalu
0
thumb
73 Akun Diburu! Mendes PDT Yandri Lapor Bareskrim Soal Warung Tutup Gegara Kopdes
• 21 jam lalu
0
Berhasil disimpan.