CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Di tengah padatnya kawasan perkotaan Makassar dan wilayah sekitarnya, sulit membayangkan bahwa kawasan ini pernah menjadi salah satu pusat kota dan perdagangan paling ramai di Sulawesi Selatan berabad-abad lalu.
Jejaknya masih dapat ditelusuri melalui Somba Opu, kawasan yang kini berada di Kabupaten Gowa.
Pada masa kejayaan Kerajaan Gowa-Tallo, kawasan tersebut bukan sekadar benteng, melainkan pusat pemerintahan, permukiman, sekaligus bandar perdagangan internasional.
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sulawesi Selatan mencatat Somba Opu berkembang menjadi pusat kota.
Kawasannya dihuni masyarakat Gowa sekaligus pedagang dari berbagai wilayah, termasuk Denmark, Inggris, Portugis, hingga Gujarat.
Di sekitar benteng terdapat kantor dagang atau loji serta pasar yang berkembang di sekitar muara Sungai Jeneberang.
Aktivitas perdagangan yang berlangsung di kawasan itu membuat Somba Opu menjadi salah satu simpul penting perdagangan di Indonesia bagian timur.
Pemprov Sulsel bahkan menyebut Makassar-Gowa telah menjadi bandar internasional komoditas rempah sejak abad ke-16.
Namun, kejayaan tersebut berakhir setelah konflik antara Kerajaan Gowa dan VOC.
Pada 1669, Benteng Somba Opu jatuh dan kemudian dihancurkan. Menariknya, jejak kota yang pernah hidup di kawasan tersebut tidak serta-merta hilang.
Somba Opu kemudian sempat terendam air laut selama ratusan tahun. Para ahli baru menemukan kembali sisa-sisa benteng tersebut pada dekade 1980-an, sebelum kawasan itu direkonstruksi pada 1990-an.
Penemuan tersebut menjadi penting karena Somba Opu bukan hanya menyisakan tembok pertahanan.
Penelitian arkeologi menemukan berbagai tinggalan yang membantu menggambarkan kehidupan kota pada masa Kerajaan Gowa-Tallo.
Kajian arkeologi mencatat pengungkapan sisa-sisa aktivitas kota Somba Opu dilakukan melalui rangkaian ekskavasi sejak 1983 hingga 1992.
Berbagai temuan arkeologis dari proses tersebut kini disimpan di museum yang berada di kompleks situs Somba Opu.
Penelitian arkeologi juga menunjukkan bahwa kawasan Somba Opu, Ujung Pandang, dan sekitarnya merupakan wilayah pusat perkembangan Kerajaan Gowa-Tallo.
Dua kota pelabuhan, Somba Opu dan Tallo, bahkan berkembang hingga pemukiman pedagang di antara keduanya menyatu dan kemudian dikenal sebagai Makassar.
Karena itu, istilah “kota tua di bawah perkotaan Makassar” lebih tepat dipahami sebagai gambaran tentang lapisan sejarah dan jejak permukiman lama yang tertutup atau berubah akibat perkembangan alam dan kota, bukan berarti terdapat sebuah kota lengkap yang berada tepat di bawah gedung-gedung Makassar saat ini.
Jejak tersebut menunjukkan bahwa sebelum Makassar tumbuh menjadi kota modern, kawasan pesisir Gowa-Tallo telah lebih dahulu menjadi ruang hidup masyarakat multikultural sekaligus salah satu pusat perdagangan penting di kawasan timur Nusantara.
Hari ini, sebagian besar jejak itu mungkin tidak lagi terlihat dalam bentuk kota seperti dahulu.
Namun, di balik benteng, tanah, dan tinggalan arkeologi yang tersisa, sejarah Somba Opu memperlihatkan bahwa Makassar dan kawasan sekitarnya berdiri di atas lapisan peradaban yang jauh lebih tua daripada wajah kotanya sekarang.





Komentar (0)