Bahasa Baru Transformasi: Melihat Pembangunan Ketika Hasil Terbesarnya Belum Terlihat

republika.co.id
12 jam lalu
Cover Berita

Oleh: Azis Subekti, pendiri Serikat Masyarakat Produktif Indonesia, Anggota DPR RI Fraksi Gerindra.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA-Ada satu kelebihan pembangunan infrastruktur yang jarang dibicarakan: ia mudah menjelaskan dirinya sendiri.

Jalan yang dahulu rusak menjadi mulus. Jembatan menghubungkan dua wilayah. Bandara, bendungan, pelabuhan, dan kereta api hadir sebagai benda yang dapat dilihat dan digunakan. Masyarakat tidak membutuhkan penjelasan panjang untuk mengetahui bahwa sesuatu telah berubah.

Baca Juga
  • 7 Bentuk Siksa Neraka yang Diabadikan dalam Alquran, Ada Satu yang Paling Berat
  • Ayat Kursi Jika Dibedah Ternyata Terdiri dari 10 Kalimat Penuh Makna, Berikut Penjelasannya
  • 6 Sifat Tercela yang Dibenci Allah SWT, Sebagian Besar Banyak Dijumpai Saat Ini

Pembangunan manusia tidak mempunyai kemewahan semacam itu.

Ketika seorang anak memperoleh makanan bergizi hari ini, kita tidak dapat segera melihat bagaimana intervensi itu memengaruhi kesehatan, kemampuan belajar, produktivitas, dan kehidupannya dua puluh tahun kemudian.

.rec-desc {padding: 7px !important;}

Ketika koperasi dibangun di desa, yang terlihat mungkin baru organisasinya, bukan perubahan struktur ekonomi yang hendak diciptakannya.

Ketika tata kelola sumber daya alam diperbaiki, masyarakat tidak selalu dapat melihat nilai ekonomi yang dahulu hilang dan kini mulai tinggal di dalam negeri.

Di sinilah terdapat persoalan komunikasi dalam transformasi pembangunan Indonesia hari ini: kita sedang mengerjakan banyak hal yang hasil akhirnya membutuhkan waktu, tetapi masih menjelaskannya dengan bahasa pembangunan yang menuntut hasil segera.

Masalahnya bukan infrastruktur versus pembangunan manusia. Keduanya diperlukan. Persoalannya adalah jam pembangunan mereka berbeda.

Jalan dapat selesai dalam tiga tahun. Pembentukan kualitas manusia membutuhkan belasan tahun.

Sebuah regulasi dapat diubah dalam hitungan bulan, tetapi perubahan institusi membutuhkan waktu lebih panjang. Kemandirian pangan, air, dan energi tidak lahir dari satu musim produksi.

Sementara masyarakat hidup hari ini. Politik bekerja lima tahunan. Media bekerja harian. Media sosial bekerja dalam hitungan menit.

 

Loading...
.img-follow{width: 22px !important;margin-right: 5px;margin-top: 1px;margin-left: 7px;margin-bottom:4px}
Ikuti Whatsapp Channel Republika
.img-follow {width: 36px !important;margin-right: 5px;margin-top: -10px;margin-left: -18px;margin-bottom: 4px;float: left;} .wa-channel{background: #03e677;color: #FFF !important;height: 35px;display: block;width: 59%;padding-left: 5px;border-radius: 3px;margin: 0 auto;padding-top: 9px;font-weight: bold;font-size: 1.2em;}
Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.
@font-face { font-family: "LPMQ"; src: url("https://static.republika.co.id/files/alquran/LPMQ-IsepMisbah.ttf") format("truetype"); font-weight: normal; font-style: normal } .arabic-text { font-family: "LPMQ"; font-weight: normal !important; direction: rtl; text-align: right; font-size: 2.5em !important; line-height: 49px !important; }

Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Eks Waka BGN Minta Status Tersangka di Kasus Korupsi MBG Dicabut
• 14 jam lalu
0
thumb
Dunia Pendidikan Kembali Heboh, Guru SD Diduga Cubit 27 Siswa gara-gara Tak Hafal Asmaul Husna Viral
• 16 jam lalu
0
thumb
Sidang Tahunan MPR, Muzani Minta Kritik Tanpa Menghina
• 2 jam lalu
0
thumb
Melonjak Tiga Kali Lipat dalam Sebulan, Karhutla Sumsel Dihantui Potensi Kian Parah
• 6 jam lalu
0
thumb
Lini Belakang PSIS Makin Tangguh Hadapi Musim 2026/2027: Stok Melimpah meski Tanpa Pemain Asing
• 23 jam lalu
0
Berhasil disimpan.