Tapanuli Selatan, tvOnenews.com - Sebuah video memperlihatkan seorang guru Sekolah Dasar (SD) di Tapanuli Selatan (Tapsel) viral di media sosial. Ia bernama Desi Sihombing, guru SD Groga, Batangtoru diduga mencubit 27 siswa.
Guru SD tersebut merupakan guru mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI). Ia diduga kerap menghukum para siswa hingga ada yang mengaku mendapat cubitan sebanyak 80 kali perkara tidak hafal Asmaul Husna.
Dilihat tvOnenews.com dari video viral di media sosial pada Kamis (13/8/2026), Desi menghadiri pertemuan mediasi dengan orang tua dan puluhan siswa. Ia menjelaskan alasan dirinya memberikan hukuman tersebut.
"Tujuan saya sebenarnya hanya ingin mendidik anak bapak ibu semua," ujar Desi.
Lanjut Desi, guru mata pelajaran PAI itu juga menegaskan hukuman tersebut hanya sebatas mendidik para siswa. Ia menyatakan dirinya sama sekali tidak menganiaya puluhan muridnya.
"Tidak ada niat saya sedikit pun membully, menganiaya," tegasnya.
DS menyampaikan rekam jejaknya di dunia pendidikan. Ia mengaku telah lama berkecimpung terkait pekerjaannya sebagai tenaga pengajar.
Ia mengungkapkan bahwa dirinya sebelumnya pernah menjadi guru di taman kanak-kanak (TK). Di sisi lain, ia mengaku tindakannya terhadap para siswa sebagai kesalahan.
Ia berjanji akan memperbaiki tindakannya. Guru SD di Tappsel itu memastikan tidak melakukan hal tersebut karena dinilai berlebihan.
"Saya mohon ke bapak ibu agar berkenan hati untuk menerima kekhilafan saya. Saya akui tindakan saya ini sudah salah," ucapnya dengan suara bergetar.
Video pernyataan guru SD tersebut mendadak viral. Tak sedikit publik justru mempertanyakan keputusan yang kerap kali diambil oleh orang tua siswa setelah anaknya mendapat hukuman di sekolah.
Mereka membandingkan hukuman dari guru antara zaman dulu dan era sekarang. Menurut mereka, hukuman zaman dulu lebih keras sebagai tanda mendidik para siswa, sedangkan para orang tua kerap lebih pilih melaporkan tindakan tersebut ke polisi.
Sebelumnya, kasus guru SD di Tapsel diduga memberikan hukuman berupa cubitan terhadap 27 siswa terungkap setelah salah satu orang tua siswa berinisial MS protes.





Komentar (0)