TANGERANG SELATAN, KOMPAS.com — Kemacetan lalu lintas menjadi makanan sehari-hari bagi para pengendara yang melintas di Jalan Raya Pondok Cabe, tepatnya pertigaan Bukit Cirendeu, Tangerang Selatan.
Sebagai salah satu jalan utama yang berbatasan langsung dengan Jakarta Selatan, koridor ini kerap mengalami penumpukan kendaraan yang cukup parah, terutama di area pertigaan jalan.
Titik pertigaan di depan Bukit Cirendeu menjadi salah satu simpul kepadatan karena merupakan titik pertemuan arus kendaraan dari berbagai arah.
Baca juga: Pemotor Lawan Arah di Rawa Buaya Jakbar, Warga: Kalau Memutar Jauh dan Macet
Tak hanya disebabkan oleh meluapnya volume kendaraan para pekerja dari wilayah penyangga menuju ibu kota, keberadaan persimpangan jalan, aktivitas sekolah, hingga lalu lalang penyeberang jalan kerap menjadi pemicu utama kemacetan di ruas jalan ini.
Berdasarkan pantauan di lapangan, kepadatan paling parah konsisten terjadi pada jam sibuk kerja.
Pada pagi hari, kemacetan mulai mengular sekitar pukul 06.00 hingga 08.00 WIB seiring berbarengannya jam berangkat kantor dan jam masuk sekolah.
Sementara pada sore hari, kepadatan kembali memuncak mulai pukul 16.00 hingga 19.00 WIB saat arus balik warga.
Salah seorang warga setempat, Dede (33), mengungkapkan bahwa selain lalu lalang kendaraan pekerja, keberadaan penyeberang jalan dan anak sekolah di pertigaan tersebut turut memicu melambatnya laju kendaraan.
"Mungkin anak sekolah, bisa jadi pas waktu di persimpangan ada yang mau menyeberang," ujar Dede saat diwawancarai di lokasi, Kamis (13/8/2026).
Dede juga menambahkan bahwa jalur utama dan pertigaan ini kerap menjadi perlintasan menuju berbagai kawasan tempat hiburan, pusat perbelanjaan, serta pusat kegiatan masyarakat.
Baca juga: Benang Kusut Macet Pasar Serpong: Jalan Sempit hingga Saling Tuding Angkot dan Pemotor
Alhasil, volume kendaraan makin berlipat ganda pada jam-jam tertentu.
Meski petugas dari Dinas Perhubungan (Dishub) kerap disiagakan di titik pertigaan dan lokasi rawan lainnya, tak jarang celah pengaturan jalan diisi oleh relawan lalu lintas liar atau biasa dikenal sebagai 'Pak Ogah'.
Kehadiran mereka pun memicu perdebatan di kalangan pengguna jalan yang tiap hari melintas.
Pandangan para pengguna jalan harian yang rutin melintasi Jalan Raya Pondok Cabe terkait keberadaan 'Pak Ogah' di titik pertigaan memang terbelah.
Seorang pengendara sepeda motor, Rian (32), yang setiap hari melintasi pertigaan Pondok Cabe menuju arah Lebak Bulus untuk bekerja, mengaku cukup terganggu dengan pola pengaturan lalu lintas yang dinilainya tidak teratur.






Komentar (0)