KOMPAS.com – Surabaya Great Expo (SGE) 2026 mencatat perputaran ekonomi Rp 7,751 miliar selama lima hari penyelenggaraan.
Pameran yang berlangsung di Exhibition Hall Grand City Surabaya pada Rabu (5/8/2026) hingga Minggu (9/8/2026) tersebut juga mencatat 48.022 pengunjung.
Capaian itu melampaui target awal Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya yang memproyeksikan transaksi Rp 7 miliar dengan jumlah pengunjung sekitar 47.650 orang.
Dari total perputaran ekonomi tersebut, transaksi langsung mencapai Rp 5,05 miliar. Sementara itu, potensi transaksi bisnis tidak langsung tercatat sebesar Rp 2,701 miliar.
Baca juga: Wali Kota Surabaya Siapkan Sekolah Rakyat di Lahan 6 Hektar di Tambak Wedi
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi mengatakan, capaian SGE 2026 menunjukkan besarnya kebutuhan pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) terhadap ruang pemasaran.
Menurut Eri, SGE tidak hanya menjadi ruang transaksi, tetapi juga diarahkan untuk memperkuat ekosistem usaha melalui pemasaran produk, legalitas, jejaring bisnis, hingga pembukaan peluang pasar yang lebih luas.
“SGE ini sejak beberapa tahun terakhir sudah menggerakkan uang lebih dari Rp 30 miliar. Setiap pameran rata-rata perputarannya Rp 7 miliar sampai Rp 9 miliar,” ujar Eri seperti dikutip dari siaran pers yang diterima Kompas.com, Kamis (13/8/2026).
Sepanjang 2022-2025, SGE mencatat perputaran transaksi lebih dari Rp 30,3 miliar. Dalam periode yang sama, sekitar 370 UMKM binaan Pemkot Surabaya telah difasilitasi melalui kegiatan tersebut.
Baca juga: Eri Cahyadi Kembali Temukan Pungli di SWK Surabaya, Pedagang Harus Bayar Rp5,1 Juta
Selain menyediakan ruang promosi, Pemkot Surabaya juga mendorong pemenuhan legalitas usaha bagi UMKM. Sekitar 450 legalitas usaha telah difasilitasi melalui penerbitan Nomor Induk Berusaha (NIB), sertifikasi halal, hingga pendaftaran merek.
“Ini menunjukkan bahwa tempat bagi UMKM untuk memasarkan produknya memang sangat dibutuhkan,” kata Eri.
Eri menegaskan, Pemkot Surabaya tidak ingin fungsi SGE berhenti pada kegiatan promosi.
Menurut dia, UMKM membutuhkan dukungan yang lebih mendasar agar mampu berkembang dan memasuki pasar yang lebih luas.
Baca juga: HUT Ke-81 RI, Pemkot Surabaya Beri Promo Tarif Transportasi Publik Rp 81
Karena itu, legalitas usaha menjadi bagian penting dalam konsep pengembangan UMKM melalui SGE. Produk yang dipasarkan juga diharapkan tidak hanya menarik dari sisi kemasan dan kualitas, tetapi memiliki fondasi usaha yang kuat untuk memperluas pasar.
“Pameran ini bukan hanya soal menampilkan dan menjual produk, melainkan bagaimana kami memberikan sertifikat halal, membantu sertifikat merek, ini yang sangat dibutuhkan UMKM. Pemerintah tugasnya memfasilitasi,” ujar Eri.
Eri juga menilai, SGE menjadi momentum untuk memperkenalkan produk lokal Surabaya kepada masyarakat dan wisatawan.
Menurut dia, kualitas produk lokal perlu terus diperkenalkan agar masyarakat memiliki lebih banyak pilihan sekaligus meningkatkan permintaan terhadap produk UMKM Surabaya.
Baca juga: Peringati HAN 2026, Pemerintah Pusat Apresiasi Komitmen Pemkot Surabaya Penuhi Hak Anak
“Pemkot juga harus menjadi marketing bagi UMKM. Produk lokal Surabaya, baik pakaian maupun makanan, harus kami tunjukkan kepada masyarakat bahwa kualitasnya luar biasa dan bisa menjadi pilihan warga ataupun wisatawan,” tegasnya.
Pendekatan tersebut sekaligus memperluas peran Pemkot Surabaya dalam ekosistem UMKM. Pemerintah daerah tidak hanya membuat kebijakan dan memberikan bantuan, tetapi juga membuka akses agar produk pelaku usaha dapat bertemu dengan pasar.
Gabungkan pameran dan layanan publikKonsep penguatan ekosistem UMKM juga diterapkan dalam SGE 2026 melalui penggabungan aktivitas perdagangan dengan pelayanan publik.
Pengunjung tidak hanya dapat melihat dan membeli produk, tetapi juga memperoleh layanan perizinan, pendampingan sertifikasi halal, pendaftaran merek, hingga layanan paspor.
Baca juga: Wali Kota Surabaya Perketat Pengawasan Sekolah untuk Cegah Perundungan dan Kekerasan
Eri menyebut konsep tersebut sebagai one-stop-shopping. Dengan konsep itu, masyarakat dapat memenuhi kebutuhan konsumsi sekaligus mengurus sejumlah kebutuhan administrasi dalam satu tempat.
“Jadi, orang bisa menikmati makanan, melihat dan membeli pakaian, sekaligus mendapatkan pelayanan publik. Ke depan, kegiatan seperti ini akan lebih sering kita gerakkan untuk memasarkan UMKM Surabaya,” tuturnya.
Ruang pelayanan publik dan konsultasi dalam SGE 2026 juga mencakup layanan keimigrasian, BPOM, pendaftaran merek, sertifikasi halal, informasi dan proses ekspor, hingga layanan kesehatan.
Selain pameran, SGE 2026 diisi dengan pertunjukan seni dan tari, talkshow, workshop, fashion show, hiburan, kompetisi, kegiatan komunitas, serta aktivitas yang melibatkan dunia pendidikan.
Baca juga: Pemkot Surabaya Salurkan Bantuan Pendidikan kepada 7.380 Siswa SMA Sederajat
Pengembangan UMKM dalam SGE 2026 juga diperluas ke sektor ekonomi kreatif. Salah satunya melalui kolaborasi desainer dengan anak-anak Rumah Anak Prestasi atau RAP dalam menghasilkan desain batik.
Siapkan Sub ExpocenterPemkot Surabaya juga menyiapkan Surabaya Urban Creative Hub atau Sub Expocenter di kawasan eks Hi-Tech Mall sebagai ruang untuk mempertemukan pelaku usaha dengan pasar.
Fasilitas tersebut diarahkan untuk mewadahi anak muda yang bergerak di bidang ekonomi kreatif dan industri digital.
Produk lokal, kreativitas, serta pengembangan bisnis berbasis teknologi akan ditempatkan dalam satu ekosistem.
Baca juga: Pemkot Surabaya Raih Penghargaan RTLH Tertinggi, Target Tuntaskan 7.196 Rutilahu pada 2027
“Di Sub Expocenter, anak-anak muda yang bergerak di ekonomi kreatif dan digital kami fasilitasi. Produk lokal Surabaya, kreativitas anak muda, dan ekonomi kreatif akan dikumpulkan di sana,” ujar Eri.
Eri juga mendorong agar pameran UMKM dapat digelar sekitar tiga bulan sekali. Dengan frekuensi yang lebih rutin, pelaku usaha tidak perlu menunggu satu tahun untuk kembali memperoleh ruang promosi.
“Jadi, ada tempat untuk menampilkan barang-barang UMKM, dilihat masyarakat, dan dipasarkan. Ketika kami memfasilitasi, pergerakan ekonomi akan berjalan sendiri,” katanya.
Menurut Eri, tugas pemerintah adalah membuka akses dan menyediakan ruang. Setelah itu, pelaku usaha diharapkan mampu memanfaatkan kesempatan tersebut untuk mengembangkan bisnis secara mandiri.
Baca juga: Pemkot Surabaya Ajak Warga Beralih ke Parkir Digital, Pembayaran Makin Mudah dan Transparan
“Kalau pemerintah sudah memfasilitasi, UMKM yang akan bergerak sendiri. Karena itu, kami harus sering mengadakan kegiatan yang sifatnya memfasilitasi,” tuturnya.
Kepala Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah serta Perdagangan atau Dinkopumdag Kota Surabaya Mia Santi Dewi mengatakan, SGE menjadi salah satu ruang strategis untuk mempertemukan pelaku usaha, pembeli, dan masyarakat.
Melalui tema “Surabaya Business Start”, Pemkot Surabaya ingin menjadikan SGE sebagai ruang yang menghasilkan jejaring bisnis produktif, bukan sekadar aktivitas perdagangan sesaat.
“Kami berharap, dampaknya tidak berhenti pada transaksi selama pameran, tetapi berlanjut pada pertumbuhan usaha yang berkelanjutan,” kata Mia.
Baca juga: Bentuk Karakter Anak, Wali Kota Surabaya Terapkan Sekolah Masuk Pagi dan Pulang Tanpa PR sejak 2022
Mia menilai, berakhirnya SGE secara fisik tidak boleh diartikan sebagai berakhirnya peluang bisnis yang telah terbentuk.
Karena itu, ia mendorong pelaku UMKM mempertahankan kontak bisnis, melanjutkan pembicaraan kerja sama, serta mengembangkan produk berdasarkan respons pasar yang diperoleh selama pameran.
“Saya berharap, setelah SGE selesai, justru akan muncul lebih banyak transaksi, kolaborasi, pelanggan baru, dan tentu lebih banyak UMKM yang naik kelas,” ujar Mia.
Menurut dia, ukuran keberhasilan UMKM seharusnya dilihat dari perkembangan usaha setelah mengikuti pameran, termasuk perluasan pasar dan peningkatan omzet.
Baca juga: Lengkapi Program Pemkot, Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi Ajak Warga Saling Peduli
“Kami ingin SGE tidak hanya menjadi acara tahunan, tetapi menjadi mesin penggerak ekonomi dan etalase produk-produk terbaik di Kota Surabaya,” tegas Mia.
Diikuti 106 pesertaDirektur PT Dayapromo Mitra Tama atau Dyandra Promosindo M Kushendarman selaku penyelenggara mengatakan, capaian SGE 2026 meningkat dibandingkan penyelenggaraan tahun sebelumnya.
Menurut dia, indikator keberhasilan pameran tidak hanya dilihat dari nilai transaksi langsung.
“Capaian tersebut menjadi salah satu indikator bahwa Surabaya Great Expo tidak hanya memberikan ruang promosi dan transaksi, tetapi juga memberikan peluang kemitraan, business networking, pengembangan pasar, serta kerja sama jangka panjang bagi para peserta pameran,” ujar Kushendarman.
Baca juga: Program Prioritas Eri Cahyadi di Periode Kedua Jadi Wali Kota Surabaya
Sebagai informasi, SGE 2026 diikuti 106 peserta dengan total 142 stan. Para peserta berasal dari perangkat daerah, badan usaha milik daerah (BUMD), badan usaha milik negara (BUMN), pelaku UMKM, koperasi, perusahaan swasta, asosiasi usaha, hingga pelaku usaha dari berbagai daerah di Indonesia.
“Keberagaman peserta menjadikan SGE sebagai ruang untuk mempertemukan pelaku usaha, pemerintah, dan masyarakat dalam membangun interaksi serta peluang kolaborasi. Kami menyampaikan terima kasih atas dukungan seluruh pihak,” kata Kushendarman. (ADV)






Komentar (0)