JAKARTA, KOMPAS.com - Setiap hari, kendaraan melintas di Jalan Daan Mogot. Jalan sepanjang 27,5 kilometer itu membentang dari Grogol, Jakarta Barat, hingga Sukarasa, Kota Tangerang.
Nama Daan Mogot begitu akrab bagi warga Jakarta dan Tangerang.
Namun, di balik nama yang tertera di papan jalan itu, tersimpan kisah seorang pemuda yang memilih berjuang untuk Indonesia dan gugur ketika usianya bahkan belum genap 19 tahun.
Menjelang peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, kisah Mayor Elias Daniel Mogot atau yang lebih dikenal sebagai Daan Mogot kembali mengingatkan bahwa kemerdekaan yang dirayakan setiap 17 Agustus tidak lahir tanpa pengorbanan.
Baca juga: Jangan Cuma Tahu Jalannya, Ini Kisah Pahlawan di Balik Nama Imam Bonjol
Dikutip dari beberapa pemberitaan Kompas.com, Kamis (13/8/2026), Daan Mogot merupakan pahlawan asal Manado yang gugur dalam Pertempuran Lengkong pada 25 Januari 1946.
Namanya kemudian diabadikan sebagai nama jalan yang menjadi salah satu jalur utama penghubung Jakarta dan Tangerang.
Bukan sekadar nama jalan
Daan Mogot lahir dengan nama Elias Daniel Mogot di Manado, Sulawesi Utara, pada 28 Desember 1928.
Ia merupakan anak kelima dari tujuh bersaudara pasangan Nicolaas Mogot dan Emilia Inkiriwang.
Jalan hidupnya kemudian berubah ketika Jepang menduduki Indonesia.
Pada usia 14 tahun, Daan Mogot terpilih mengikuti Seinen Dojo, sebuah pelatihan militer pada masa pendudukan Jepang.
Dari sana, langkahnya di dunia militer terus berlanjut.
Ia kemudian terpilih menjadi anggota Pembela Tanah Air (PETA) angkatan pertama pada 1943.
Baca juga: TB Simatupang, Jenderal yang Namanya Kini Terjebak di Tengah Kemacetan
Usianya saat itu bahkan belum memenuhi persyaratan umum untuk menjadi anggota PETA.
Namun, kemampuan dan kecerdasannya membuat Daan Mogot dipercaya menduduki posisi sebagai Shodancho, setingkat komandan peleton.
Komentar (0)