Kemenkes Akan Skrining TBC di Seluruh Pesantren, Sasar 7 Juta Santri

kumparan.com
3 jam lalu
Cover Berita

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin berencana memperluas skrining tuberkulosis (TBC) ke seluruh pondok pesantren di Indonesia. Kebijakan ini didorong kondisi pesantren yang dinilai memiliki kepadatan hunian tinggi sehingga berpotensi meningkatkan penularan TBC.

Budi mengatakan dirinya baru mengetahui jumlah pondok pesantren di Indonesia mencapai sekitar 42 ribu dengan jumlah santri lebih dari 7 juta orang.

"Tadi saya kaget juga, ternyata ada 42.000 pondok pesantren dengan jumlah santri mencapai lebih dari 7 juta," kata Budi saat meninjau skrining TBC dan Cek Kesehatan Gratis (CKG) di pesantren dan permukiman padat penduduk di Kapuk Muara, Penjaringan, Jakarta Utara, Kamis (13/8).

Menurut Budi, kepadatan tempat tinggal menjadi salah satu faktor yang membuat risiko penularan TBC di pesantren perlu mendapat perhatian. Ia membandingkan kondisi tersebut dengan temuan skrining di Lapas Nusakambangan.

Budi mengatakan skrining TBC menggunakan rontgen di Nusakambangan menemukan sekitar 3 persen kasus, lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional yang disebut sekitar 0,3 persen.

"Kenapa?, karena di penjara itu tidurnya tumpuk-tumpuk. Satu tempat, satu ruangan itu banyak," jelas dia.

Dari kondisi tersebut, Budi kemudian melihat adanya kesamaan dengan sejumlah pesantren yang memiliki kamar dengan banyak penghuni.

"Saya langsung ingat, wah, saya tuh dulu sering jalan ke pesantren-pesantren, wah itu benar-benar tumpuk-tumpukannya lebih atas bawah kiri kanan gitu kan, tumpuk-tumpukannya. Padat sekali, jadi saya pikir wah ini harus skrining di pesantren, ujar Budi.

Ia mengatakan pemerintah akan menggunakan perangkat rontgen portabel yang dapat dibawa menggunakan sepeda motor untuk melakukan skrining dari pesantren ke pesantren.

Budi juga menegaskan rencana tersebut akan menyasar seluruh pondok pesantren di Indonesia.

"Nah, sekarang kita akan jalan dari pesantren ke pesantren untuk mencari penderita TB," kata Budi.

"Kalau diobati pasti sembuh kok dan tidak menular. Jadi teman-teman tidak usah takut, obatnya manjur," tambahnya.

Budi juga menjelaskan, TBC dapat disembuhkan apabila penderita menjalani pengobatan secara rutin.

"Kalau ketemu, harus minum obat selama 6 bulan rutin setiap hari. Empat bulan pertama satu obat tertentu, sisanya dua bulan diganti. Ini mesti diminum tiap hari," jelas dia.

Budi berharap skrining yang lebih masif di pesantren dapat mempercepat penemuan kasus, sehingga penderita segera mendapatkan pengobatan dan risiko penularan di lingkungan pesantren dapat ditekan.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Direktur Niaga Garuda Indonesia (GIAA) Reza Aulia Diberhentikan
• 11 jam lalu
0
thumb
3 Rekomendasi Drakor Tentang Idol dan Orang Biasa, Salah Satunya Dibintangi Bae Suzy
• 5 jam lalu
0
thumb
Konflik Monyet di Sejumlah Daerah, Komisi IV Minta Kemenhut Kendalikan Populasi
• 22 jam lalu
0
thumb
Como Terancam Sanksi FFP UEFA, Chelsea hingga Aston Villa Pernah Merasakan
• 5 jam lalu
0
thumb
Persib Sudah Lolos, 4 Klub Indonesia Ini Masih Terancam Sanksi FIFA
• 1 jam lalu
0
Berhasil disimpan.