Jumlah Penganggur Terdidik Lumayan Banyak, Kemnaker Ungkap Penyebabnya

jpnn.com
8 jam lalu
Cover Berita

jpnn.com - JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah penganggur berlatar belakang lulusan perguruan tinggi (Diploma IV, S1, S2, hingga S3) di Indonesia mencapai 1.033.182 orang per Mei 2026.

Angka ini mencakup sekitar 14,31 persen dari total 7,22 juta penganggur di Indonesia.

BACA JUGA: Dukung Job Fair 2026 Jadi Upaya DPRD Kota Bogor Kurangi Pengangguran

Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) menilai ketidaksesuaian antara kompetensi angkatan kerja dengan kebutuhan dunia usaha dan industri (skill mismatch) merupakan faktor utama dari jumlah penganggur terdidik yang cukup tinggi.

“Fenomena pengangguran lulusan perguruan tinggi disebabkan adanya mismatch antara kompetensi jabatan dengan keterampilan yang dimiliki, hingga rendahnya literasi digital dan soft skills,“ kata Kepala Badan Perencanaan dan Pengembangan Ketenagakerjaan (Barenbang) Kemnaker Anwar Sanusi saat dihubungi di Jakarta, Kamis (13/8).

BACA JUGA: Kemendagri Dorong Pemda Lebih Inovatif Tangani Inflasi, Kemiskinan, dan Pengangguran

Lebih lanjut, Anwar mengatakan faktor lainnya ialah pertumbuhan lapangan kerja formal yang lambat, sementara itu jumlah lulusan baru (fresh graduate) perguruan tinggi makin tinggi.

“Pertumbuhan lapangan kerja formal belum sebanding dengan jumlah lulusan baru, ditambah preferensi lulusan yang cenderung menunggu pekerjaan formal tertentu,” ujar dia.

BACA JUGA: Kemendagri Apresiasi Praktik Baik Sejumlah Daerah dalam Penurunan Pengangguran

Selain itu, ia memandang perkembangan teknologi dan transformasi industri yang berlangsung cepat belum sepenuhnya diikuti oleh sistem pendidikan dan pelatihan, sehingga banyak lulusan belum memiliki kompetensi yang dibutuhkan pasar kerja.

Kepala Biro Humas Kemnaker Faried Abdurrahman Nur Yuliono menambahkan, keterbatasan pengalaman kerja, penguasaan soft skills, serta sertifikasi kompetensi juga menjadi faktor yang mempengaruhi rendahnya penyerapan tenaga kerja.

“Sektor yang paling merasakan tantangan ini ialah sektor industri padat teknologi. Di beberapa kawasan industri, seperti di Batam misalnya, investasi yang masuk membutuhkan kualifikasi yang sangat spesifik,” kata Faried.

Kondisi ini, lanjut dia, menyebabkan industri belum dapat menyerap tenaga kerja secara maksimal dikarenakan terbatasnya ketersediaan tenaga kerja lokal yang memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan industri.

Faried mengatakan, Kemnaker juga terus berupaya untuk mengatasi mismatch antara lulusan pendidikan dan kebutuhan industri.

Beberapa langkah yang dilakukan antara lain melalui penyelarasan kurikulum dengan kebutuhan kompetensi industri, penguatan keterlibatan industri dalam proses pembelajaran, dan peningkatan kompetensi tenaga pendidik.

“Selanjutnya, perluasan praktik kerja dan pengalaman industri bagi siswa, serta evaluasi secara berkala berdasarkan perkembangan kebutuhan tenaga kerja, sehingga lulusan memiliki kompetensi yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja,” ujarnya. (antara/jpnn)


Redaktur & Reporter : Soetomo Samsu


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Penampakan Api Besar Hanguskan Hutan Kalimantan, Asap Membubung Tinggi
• 9 jam lalu
0
thumb
DPR Akan Mencermati RAPBN 2027, Puan Pastikan Program Pemerintah Harus Bermanfaat bagi Rakyat
• 13 jam lalu
0
thumb
Wawasan Polling SS: Usulan Pilkada Hanya Pilih Kepala Daerah Direspon Beragam oleh Masyarakat
• 11 jam lalu
0
thumb
The Desicion Makers: Antara Kebebasan dan Ancaman Provokasi
• 9 jam lalu
0
thumb
Tutup Besok! Ini Syarat dan Cara Daftar PCPM Bank Indonesia Angkatan 41
• 8 jam lalu
0
Berhasil disimpan.