Foto udara memperlihatkan kepulan asap akibat kebakaran lahan di Desa Tumbang Nusa, Pulang Pisau, Provinsi Kalimantan Tengah, Kamis (13/8/2026). (REUTERS/Ajeng Dinar Ulfiana)
2/9Warga di wilayah Kalimantan saat ini tengah berjibaku melawan kebakarn lahan yang menghanguskan tanaman dan perkebunan seiring terus meluasnya kobaran api di kawasan tersebut. (REUTERS/Ajeng Dinar Ulfiana)
Di pinggiran Pontianak, ibu kota Provinsi Kalimantan Barat, seorang warga bernama Agus Sunggodo mengatakan bahwa kebakaran di dekat permukiman telah menyebabkan rumah-rumah tertutup kabut asap tebal. (REUTERS/Ajeng Dinar Ulfiana)
4/9"Asapnya tebal dan itu adalah area yang belum pernah terbakar sebelumnya, jadi apinya sangat besar," ujarnya. (REUTERS/Ajeng Dinar Ulfiana)
Di wilayah tetangga, Kalimantan Tengah, warga di Pulang Pisau mengatakan bahwa tanaman dan perkebunan mereka musnah akibat kebakaran tersebut. Mereka menyebut kondisi kekeringan yang dipicu oleh musim kemarau panjang menyulitkan upaya mendapatkan cukup air untuk memadamkan api. (REUTERS/Ajeng Dinar Ulfiana)
6/9Indonesia menghadapi musim kemarau yang lebih panjang dan parah tahun ini seiring menguatnya fenomena El Nino, yang meningkatkan risiko kekeringan, kebakaran hutan, dan polusi udara. (REUTERS/Ajeng Dinar Ulfiana)
7/9Data Kementerian Kehutanan menunjukkan bahwa 107.465 hektare lahan terbakar antara bulan Januari hingga Juni tahun ini; angka ini mencerminkan peningkatan sebesar 110% dibandingkan periode yang sama pada tahun 2023, saat El Nino terakhir kali berdampak pada Indonesia. (REUTERS/Ajeng Dinar Ulfiana)
8/9Di sisi lain perbatasan di Pulau Kalimantan, 11 wilayah di negara bagian Sarawak, Malaysia, mencatat tingkat kualitas udara yang tidak sehat pada hari Selasa (11/8), menurut data dari departemen lingkungan hidup Malaysia. (REUTERS/Ajeng Dinar Ulfiana)
9/9Kebakaran lahan di Pulang Pisau, Provinsi Kalimantan Tengah, Rabu (12/8/2028). (REUTERS/Ajeng Dinar Ulfiana)





Komentar (0)