Haedar Nashir Terima Status Wartawan Utama, Kenang Beritanya Pernah Disobek

detik.com
4 jam lalu
Cover Berita
Jakarta -

Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir menerima status Wartawan Utama dari Dewan Pers. Haedar mengenang masa saat dirinya menjadi wartawan di media milik Muhammadiyah, Suara Muhammadiyah, yang dimulai pada tahun 1984.

"Jadi saya menjadi wartawan Suara Muhammadiyah tahun 1984. Saya yakin sebagian ada yang mungkin baru lahir atau belum lahir. Menjadi wartawan pemula di Suara Muhammadiyah, media yang tertua di Indonesia, lahir tahun 1915," kata Haedar dalam pidatonya usai menerima status Wartawan Utama di Universitas Muhammadiyah Jakarta, Tangerang Selatan, Kamis (13/8/2026).

Baca juga: Haedar Nashir Minta Tak Ada Kompromi untuk Pelaku Pelecehan di UAD dan UMY

Haedar kemudian mengenang masa-masa perjuangannya saat menjadi wartawan. Dia mengaku pernah sampai berjalan kaki untuk mencari berita.

"Saya selama hampir 5 tahun itu betul-betul digembleng oleh Pak Hazim Amir (Pemimpin Redaksi Suara Muhammadiyah saat itu) untuk menjadi wartawan lapangan. Wartawan lapangan yang memungut berita dari berbagai tempat, daerah, naik bis, jalan kaki, kemudian naik kereta biasa, dan seluruh kendaraan yang ya harus saya manfaatkan di Jawa, luar Jawa," katanya.

Haedar juga mengaku naskah berita yang dia buat pernah disobek sebab tidak sesuai standar. Dia juga bercerita naskah beritanya pernah dicoret dengan tinta merah.

"Dan pengalaman itu menurut saya betul-betul menjadi wartawan, bukan hanya penulis. Menjadi penulis saya punya cerita sendiri. Menjadi wartawan yang tidak jarang berita saya bikin itu, itu tidak dipakai. Bahkan satu-dua disobek gitu. Kan sakit hati. Bikin sudah merasa diri ini benar, baik gitu sesuai dengan prinsip jurnalistik. Tidak, disobek di depan kita. Ada juga yang dia selalu pakai bolpoin tinta merah," kenang dia.

Perjalanan tersebut kemudian membawa Haedar akhirnya menjadi Pemimpin Redaksi Suara Muhammadiyah. Haedar mengatakan dirinya tidak toleran dengan wartawan yang menulis secara asal-asalan.

"Baru setelah perjalanan itu, saya selain menjadi wartawan masuk redaksi, dan di situlah kemudian tidak harus selalu ke lapangan, tapi menjadi redaktur. Dan modal itu pula yang kemudian setelah saya jadi pimpinan redaksi, bertahan biasa 5 hari. Sikap saksama, cermat, dan kadang juga terpengaruh oleh pengalaman itu ada semacam deprivasi relatif. Saya tidak toleran terhadap teman-teman SM yang menulis asal-asalan," katanya.

Baca juga: Menlu RI Terbang ke Iran Malam Ini, Ketum PBNU dan Muhammadiyah Ikut Dampingi

Dia kemudian berterima kasih kepada Dewan Pers yang telah memberinya status Wartawan Utama. Dia bercerita status Wartawan Utama adalah hal yang dia inginkan sebelumnya.

"Jadi terima kasih kepada Dewan Pers Nasional, kepada Lembaga Uji Kompetensi Wartawan UMY, dan media yang telah mengatur secara administratif. Kenapa dulu saya sempat tidak, tidak dapat? Waktu itu kan rasanya zaman-zaman dulu ya, kita dapat kartu wartawan itu pikirannya ada macam-macam lah gitu. Jadi teman-teman ikut tes, saya nggak ikut gitu. Ya nggak apa-apa lah, yang penting jadi wartawan gitu. Tapi lama-kelamaan terpikir juga ingin dapat Kartu Utama," katanya.




(gbr/gbr)

Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Gali Memori Kolektif, Kelompok Riset FIB UI Kembangkan Pariwisata Berkelanjutan di Candi Cangkuang Garut
• 18 jam lalu
0
thumb
Kejagung Tetapkan 2 Tersangka Korupsi Transfer Pricing PT TPL
• 19 jam lalu
0
thumb
MK Tegaskan Aturan Pemisahan Pemilu Nasional-Daerah Harus Tuntas Sebelum Tahapan 2029
• 23 jam lalu
0
thumb
Jaga Ekonomi Tetap Tumbuh, Mendagri Tito Minta Forkopimda Sumatera Perkuat Sinergi
• 21 jam lalu
0
thumb
Kaesang Berencana Maju dari Dapil Puan pada Pemilu 2029, Puan Maharani: Hak Setiap Parpol
• 16 jam lalu
0
Berhasil disimpan.