Bank Indonesia (BI) berupaya mengelola uang rupiah yang lebih ramah lingkungan melalui program Pengelolaan Uang Rupiah (PUR) Berkelanjutan. Salah satu fokusnya mengubah Limbah Racik Uang Kertas (LRUK) yang sebelumnya banyak berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) menjadi energi atau produk baru.
Kepala Departemen Pengelolaan Uang BI, Anwar Bashori, mengatakan program ini bagian dari komitmen BI terhadap agenda Sustainable Development Goals (SDGs) dan Paris Agreement. Program PUR Berkelanjutan juga telah dimasukkan dalam Blueprint Pengelolaan Uang Rupiah (BPPUR) 2024-2030.
"DPU telah menyusun Blueprint Pengelolaan Uang Rupiah (BPPUR) 2024-2030 dengan salah satu program utama berupa PUR Berkelanjutan melalui pemanfaatan Limbah Racik Uang Kertas yang ramah lingkungan, yang diharapkan telah terimplementasikan di seluruh satuan kerja kas pada tahun 2030 sebagaimana target BPPUR 2024-2030,” jelas Anwar, dalam keterangan tertulis, Senin (10/8).
Hingga 2026, program pemanfaatan LRUK lewat skema Waste to Energy (WtE) dan Waste to Product (WtP) telah diterapkan di 32 dari 46 Kantor Pusat dan Kantor Perwakilan BI. Artinya, sekitar 70 persen kantor telah mengimplementasikan PUR Berkelanjutan. Menurut Anwar, pemanfaatan LRUK bisa menghasilkan penurunan emisi karbon dibandingkan jika limbah uang kertas dibuang ke TPA (landfill).
"Pemanfaatan limbah racik uang kertas (LRUK) secara berkelanjutan memiliki manfaat yang tidak kalah penting berupa biaya avoidance atau biaya yang dapat dihindari karena pengalihan pengolahan LRUK dari landfill menjadi WtE,” kata Anwar.
Selain mengurangi dampak lingkungan, perubahan pengelolaan limbah juga berpotensi menekan biaya pengolahan LRUK melalui implementasi WtE secara kolaboratif.
Anwar menekankan program PUR Berkelanjutan pada dasarnya merupakan upaya BI mengubah pola pengelolaan uang rupiah agar tidak berhenti pada pencetakan, pengedaran, dan pemusnahan.
"Oleh karena itu, melalui Blueprint Pengelolaan Uang Rupiah 2024-2030, Bank Indonesia mengembangkan pendekatan PUR Berkelanjutan dengan mendorong pemanfaatan LRUK melalui skema WtE dan WtP, sehingga limbah yang dihasilkan dapat memberikan benefits sekaligus mengurangi dampak terhadap lingkungan,” tutur Anwar.
Raih Penghargaan Internasional
Program PUR Berkelanjutan mendapat pengakuan internasional. BI meraih penghargaan The Winner dari International Association of Currency Affairs (IACA) dalam kategori “Best New Environmental Sustainability Project” 2026. Penghargaan diberikan atas program Rupiah Waste to Worth Collaboration, yang mengedepankan tiga aspek utama, yakni Collaboration, Institutional Leadership, dan implementasi WtE dan WtP.
Kata Anwar, capaian itu tidak terlepas dari sinergi berbagai pemangku kepentingan, khususnya kantor perwakilan BI yang telah menjalankan pemanfaatan LRUK secara inovatif.
"Ke depan, Bank Indonesia akan terus memperkuat tata kelola, pengawasan, serta kolaborasi guna mendukung terwujudnya ekosistem pengelolaan uang rupiah yang berkelanjutan menuju net zero waste,” ujar dia.
Tak Cuma Limbah, Material Uang Juga Diperhatikan
Upaya ramah lingkungan juga dilakukan dalam aspek lain dari siklus hidup uang rupiah. Anwar mengatakan BI telah menerapkan coating pada hasil cetak uang kertas Tahun Emisi 2022 dengan harapan masa edar uang bisa lebih panjang.
Selain itu, kendaraan yang digunakan untuk pengiriman uang secara bertahap telah menggunakan standar Euro 4 yang lebih ramah lingkungan untuk membantu mengurangi emisi karbon dari aktivitas pengedaran uang.
"Penggunaan kendaraan untuk pengiriman uang terstandar euro 4 yang lebih ramah lingkungan secara bertahap telah diimplementasikan, sehingga diharapkan dapat mengurangi emisi karbon yang ditimbulkan dari aktivitas pengedaran,” tutur Anwar.
Di sisi lain, BI juga menempatkan edukasi sebagai bagian dari pengelolaan rupiah. Masyarakat tak hanya diajak memahami nilai rupiah sebagai alat pembayaran, tapi juga bagaimana rupiah dikelola sepanjang siklus hidupnya secara bertanggung jawab.
"Edukasi merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Pengelolaan Uang Rupiah (PUR) karena membangun pemahaman masyarakat mengenai nilai strategis rupiah, termasuk pentingnya pengelolaan uang rupiah yang berkelanjutan,” ungkap Anwar.
Salah satu sarana edukasi yang digunakan adalah Festival Rupiah Berdaulat Indonesia (FERBI). BI menjalankan edukasi melalui program Cinta, Bangga, dan Paham (CBP) Rupiah, kunjungan edukatif, kolaborasi dengan perguruan tinggi, pemerintah daerah, komunitas, media, juga berbagai kanal digital. Pada tahun 2026, FERBI akan diselenggarakan pada tanggal 14-16 Agustus 2026 di Istora Senayan, Jakarta.






Komentar (0)