Prancis telah melarang panggilan telemarketing yang tidak diminta. Langkah ini disebut kelompok konsumen sebagai revolusi kecil bagi industri penjualan.
Mengutip BBC News, mulai Selasa (12/8), panggilan telemarketing yang tidak diminta dilarang bagi perusahaan di semua sektor, meskipun terdapat beberapa pengecualian.
Panggilan hanya diperbolehkan jika berkaitan dengan kontrak yang sebelumnya telah dibuat oleh seseorang, atau jika perusahaan telah memperoleh persetujuan terlebih dahulu untuk menghubungi orang tersebut terkait pemasaran.
“Tidak bisa cukup ditekankan bahwa ketenangan dan kedamaian adalah sebuah hak, dan sudah waktunya berhenti membuat konsumen terus-menerus menerima penawaran yang tidak mereka inginkan,” kata kelompok advokasi konsumen Que Choisir Ensemble dalam sebuah pernyataan dikutip Kamis (13/8).
“Hal yang sama juga berlaku di dunia maya dan di jalanan, yang dipenuhi dengan berbagai ajakan untuk berbelanja atau mengonsumsi," tambah presiden kelompok tersebut, Marie-Amandine Stévenin.
Ia mengatakan kelompoknya telah lama memperjuangkan penghapusan anggapan otomatis bahwa seseorang yang berada di rumah atau menjalani kehidupan pribadinya adalah calon pelanggan.
“Ini merupakan kemenangan bagi konsumen, yang sebagian besar memang tidak ingin menerima panggilan penjualan,” ujarnya.
Namun, perubahan undang-undang tersebut mendapat kritik dari sejumlah kelompok bisnis, serta pejabat di Maroko, yang sektor pusat layanan panggilannya sangat bergantung pada pasar Prancis.
Seorang menteri pemerintah memperkirakan pembatasan telemarketing tersebut dapat menyebabkan hilangnya hingga 50.000 pekerjaan, menurut laporan surat kabar Maroko Le Matin.
Kepala asosiasi perdagangan penjualan langsung Prancis, Fédération de la Vente Directe (FVD), juga mengkritik reformasi tersebut karena dinilai menambah beban administratif bagi perusahaan.
“Perusahaan harus mendapatkan persetujuan tertulis dari pelanggan, dan juga harus menyimpan bukti persetujuan tersebut,” kata Frédéric Billon, sebagaimana dikutip The New York Times.
Menurut laporan parlemen tahun 2025, 97 persen masyarakat merasa terganggu oleh panggilan telemarketing. Para penulis laporan tersebut bahkan mencatat dengan nada bercanda bahwa isu ini merupakan salah satu dari sedikit hal yang mampu menyatukan masyarakat Prancis.
Laporan yang sama menemukan bahwa 72 persen warga Prancis mengaku dihubungi melalui telepon seluler setidaknya sekali dalam seminggu, sementara 38 persen mengatakan mereka menerima panggilan telemarketing setiap hari.
Jerman, Austria, dan Italia termasuk negara-negara Eropa yang menerapkan pembatasan signifikan terhadap panggilan telemarketing, yang sering disebut sebagai cold calls.
Di Inggris, sebagian besar panggilan telemarketing masih diperbolehkan, selama penerima belum menyatakan keberatan dan nomor mereka tidak tercantum dalam daftar resmi individu atau perusahaan yang tidak ingin menerima panggilan.






Komentar (0)