Sorak-sorai sekelompok orang dengan aneka busana daerah dan unik memecah suasana di lokasi Pusdiklat Gulkarmat di kawasan Ciracas, Jakarta Timur, Rabu (12/8/2026). Arak-arakan yang terdiri dari laki-laki dan perempuan itu mengawali anggota tim yang hendak berjuang dalam lomba ketangkasan pemadam kebakaran bertajuk Jakarta Fire Fighter Challenge (JFFC) 2026.
Mereka membawakan yel-yel diiringi musik sembari berjalan ke lokasi lomba di hanggar latihan fasilitas tersebut. Lagu-lagu penyemangat untuk berjuang meraih juara ini adalah bentuk dukungan mereka sebagai suporter petugas Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Gulkarmat) yang akan berlomba mewakili wilayah setiap kota di Provinsi Jakarta. Gaung yel-yel terasa seperti pertandingan sepak bola di stadion yang diiringi lagu-lagu penyemangat dari suporter.
Hari itu adalah hari kedua pelaksanaan lomba yang mengusung tema ”Bergerak Maju Menuju Era Baru Jakarta”. Pada hari pertama sebelumnya, ajang kategori hose laying ini mengadu ketangkasan beregu beranggotakan lima orang. Kategori ini mempertandingkan perlombaan tata cara pemadaman kebakaran dan menjinakkan api.
Pada hari kedua, kompetisi mempertandingkan kategori perseorangan brave heart menguji ketangguhan dari pesonel damkar, baik operasional pemadaman maupun taktik operasi penyelamatan. Kategori ini menguji keterampilan mereka menggunakan peralatan, seperti selang karet, tangga, dan tali di dalam misi pemadaman kebakaran dan penyelamatan. Setiap wilayah mengirimkan dua orang terbaiknya dalam ajang ini.
Peserta memanjat gedung dengan tali tambang saat mengikuti kompetisi Jakarta Fire Fighter Challenge 2026.
KOMPAS/RIZA FATHONI
Peserta meniti tali dengan teknik monkey crawling saat mengikuti kompetisi Jakarta Fire Fighter Challenge (JFFC) 2026.
KOMPAS/RIZA FATHONI
Peserta mengevakuasi boneka korban seberat 20 kilogram dalam kompetisi Jakarta Fire Fighter Challenge (JFFC) 2026.
KOMPAS/RIZA FATHONI
Sesaat setelah bendera start dikibarkan, personel yang mengenakan harnes, helm, dan membawa tabung oksigen di punggung bergegas mengawali misi dengan membawa tangga seberat 15 kilogram secepat mungkin untuk disandarkan pada dinding gedung hanggar setinggi empat lantai. Ia kemudian mengulurkan dua selang karet sepanjang 15 meter dengan menarik menggunakan bahunya untuk kemudian menggulungnya kembali. Setelah itu, dua gulungan selang itu harus dibawa ke titik di bawah gedung hanggar dan diikat dengan tali.
Selesai mengikat selang dengan tali, petugas kemudian naik menggunakan tangga yang telah disandarkan di dinding ke lantai dua untuk menarik dua selang tersebut ke atas. Kekuatan otot lengan personel diuji saat menarik kedua selang seberat 50 kilogram ini menggunakan tali. Selanjutnya, ia harus turun dengan teknik rapeling dengan tali untuk mengevakuasi boneka korban yang digantungkan di dinding ke bawah secara tandem.
Setelah itu peserta harus bergegas naik lagi ke atas dengan tali tambang. Setelah mencapai lantai dua, petugas harus meniti tali dengan teknik commando crawling ke menara di seberang gedung hanggar dan melanjutkan penyeberangan dengan teknik monkey crawling ke garis finis. Tantangan terakhir adalah misi evakuasi korban dengan menggotong boneka seberat 20 kilogram dari gedung hanggar kembali ke titik finis.
Capaian waktu peserta berkisar dari 4-6 menit untuk keseluruhan misi tersebut. Namun, rekor waktu bukan segalanya. Bagi juri, ketepatan dalam teknik menggunakan dan memperlakukan peralatan serta ketepatan teknik dalam proses penyelamatan dalam misi juga menjadi penilaian yang penting.
Kondisi fisik peserta rata-rata terkuras setelah menyelesaikan misi lomba. Guna mengantisipasi segala kemungkinan, petugas kesehatan siap menyambut para peserta untuk memulihkan kondisi. Stamina para peserta sangat diuji dalam perlombaan ini. Energi dan stamina yang terlatih dibutuhkan saat peserta membawa berbagai beban berat, berlari, naik dengan tangga dan tali serta meniti tali. Ada peserta yang kehabisan napas sehingga harus dibantu rekan-rekannya dengan dipapah untuk duduk di velbed. Namun, ada pula yang masih sanggup tegak berdiri dan minum meski sedikit terengah-engah.
Hal itu dialami Prasojo, wakil Jakarta Pusat yang sehari-harinya bertugas di Gulkarmat sektor Tujuh Tanah Abang. ”Capek sih, lumayan. Yang penting pesan-pesan untuk yang lain tetap tenang dan konsisten dalam berlaga karena lomba ini setahun sekali,” jelas Prasojo.
Prasojo dan regunya telah berlatih mempersiapkan ajang ini selama lebih dari dua bulan penuh. Perwakilan perseorangan kategori brave heart ini dipilih karena keunggulan dari segi mental, fisik, dan konsistensi.
Menurut dia, tantangan terberat dalam tugas di lapangan adalah kebakaran gedung bertingkat, seperti yang terjadi di Gedung Bapenda hampir sepekan lalu. ”Itu paling rumit dibandingkan pemadaman di permukiman padat penduduk. Karena gedung itu berkaitan dengan penyelamatan orang yang terjebak,” ujarnya sambil meneguk minuman.
Kepala Pusat Pendidikan dan Latihan (Kapusdiklat) Dinas Gulkarmat Provinsi Jakarta Jon Vendri mengatakan, kegiatan ini untuk memantik semangat teman-teman di wilayah kota ini supaya terus berlatih dan berlatih menjadi yang terbaik. Harapannya agar teman-teman di lapangan tetap bersemangat untuk berusaha menjadi damkar yang lebih tangguh lagi dan bisa diandalkan oleh masyarakat.
Menurut dia, ajang lomba tahun ini agak berbeda dengan dua tahun yang lalu. ”Kalau tahun kemarin kita ada water rescue. Jadi ada tiga kategori, water rescue, braveheart, dan hose laying. Tahun ini karena ada efisiensi anggaran, kita hanya menanggarkan dua jenis lomba,” jelasnya.
Baginya, tantangan Gulkarmat ke depan adalah perkembangan pembangunan kota dan permukiman padat penduduk yang makin banyak. “Jadi kebakaran di permukiman padat itu tetap menjadi tantangan kita dari tahun ke tahun. Kemudian perkembangan pembangunan gedung tinggi itu menjadi tantangan kita juga. Kemudian juga transportasi, adanya MRT, kemudian LRT, dan perkembangan teknologi,” tambahnya.
Dinas Gulkarmat berkomitmen tetap memanfaatkan perkembangan teknologi untuk melengkapi peralatan dalam upaya-upaya pemadaman kebakaran guna menghadapi tuntutan kerja di lapangan. Termasuk juga permintaan layanan penyelamatan yang cukup banyak dan terus meningkat dari hari ke hari.






Komentar (0)