Kisah Uli di Pinggir Flyover Tomang Jakbar, Membuka Pintu Pendidikan bagi Anak Kurang Mampu

kompas.com
5 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS.com - Area taman di pinggir Flyover Tomang, Jakarta Barat, menjelma menjadi ruang kelas terbuka bagi anak-anak dengan keterbatasan ekonomi untuk belajar setiap Minggu sore.

Di bawah jalan layang Tomang, puluhan anak belajar sambil bermain bersama di sebuah ruang kelas terbuka bernama Sekolah Anak Mentari Indonesia.

Mereka menghabiskan waktu siang hingga sore hari di sebuah lahan terbuka beralaskan tanah, tepat di bawah rimbunnya pohon-pohon besar.

Baca juga: Bapak-bapak Tarik Tambang Pakai Daster, Tawa Pecah di Terminal Kampung Rambutan Saat Lomba 17-an

Anak-anak itu memulai kegiatan dengan berbaris dan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Setelah itu, mereka melepas sandal dan duduk melingkar di atas terpal.

KOMPAS.com/Ridho Danu Prasetyo Seorang anak di Sekolah Anak Mentari Indonesia mempelajari cara menggunakan kamera digital milik seorang relawan di pinggiran flyover Tomang, Jakarta Barat
Di tengah-tengah mereka, berbagai macam buku bacaan dihamparkan untuk dipilih dan dibaca bersama para relawan.

Sementara, anak-anak yang lebih besar, mulai dari SD dan SMP, berpindah tempat dan duduk berjejer di lahan miring yang tersusun dari bebatuan kali di samping jalan layang.

Sekolah Anak Mentari Indonesia merupakan inisiasi sekolah gratis di wilayah pinggiran Jakarta yang dihidupi oleh seorang guru les privat bernama Uli Zainuddin (40), atau yang akrab disapa Kak Uli.

Selama belasan tahun, ia menyisihkan waktu, uang, dan tenaganya untuk mendidik anak-anak yang tinggal di area pinggir Kali Tomang.

Awal Mula Sekolah Anak Mentari

Perjalanan Sekolah Anak Mentari Indonesia membentang cukup panjang sejak 2009.

Awalnya, gerakan ini sama sekali tidak berkaitan dengan pendidikan, melainkan hanya sebuah aksi sosial berbagi makanan untuk para pengamen di kolong flyover.

"Dari 2009 ya. Pertama kali tuh di kolong Flyover Tomang, yang dulu belum ada rumah pompa. Dulu banyak pengamen yang tinggal di sana, di pinggir kali, kolong flyover, kita bagi-bagi makanan untuk buka puasa," ucap Uli mengenang awal mula perjalanannya.

Saat itu, targetnya adalah membagikan makanan berbuka puasa kepada para pemulung yang tinggal di area kolong jembatan.

Baca juga: Tiang Portal Misterius Muncul di Menteng Diduga Permintaan Pejabat, Pramono: Saya Cek Dulu

Namun, kegiatan itu berubah arah ketika hati Uli terpanggil melihat kenyataan pahit bahwa banyak anak usia sekolah di lingkungan tersebut yang buta huruf.

Uli yang berprofesi sebagai guru merasa perlu memberikan kesempatan belajar yang sama kepada anak-anak pengamen dan pemulung tersebut.

"Jadi memang dari dulu fokusnya baca dan tulis untuk anak-anak pemulung itu ya, selama bertahun-tahun," kata Uli.

Setelah beberapa tahun berselang, pemerintah mendirikan sebuah rumah pompa, memaksa para pengamen dan pemulung yang sebelumnya tinggal di area tersebut semakin terpinggirkan.

Mereka harus berpindah tempat dan tak lagi mengikuti kelas terbuka yang diadakan Uli.

Meski demikian, Sekolah Anak Mentari tetap berjalan dengan segmentasi murid yang mulai berubah.

Kini, Uli mencoba menjadikan Sekolah Anak Mentari sebagai jembatan bagi anak-anak yang tertinggal dalam mengikuti kurikulum sekolah, tetapi tidak mampu membayar biaya kursus di luar sekolah.

Kesenjangan Pendidikan Indonesia

Bagi Uli, kesenjangan antara tuntutan kurikulum pendidikan formal dan kemampuan anak-anak di permukiman padat di pinggiran Jakarta merupakan salah satu persoalan nyata yang masih dihadapi.

Salah satunya adalah masih adanya anak-anak sekolah dasar yang belum memiliki kemampuan membaca dan menulis.

Baca juga: Tak Lagi Narik, Mantan Sopir Angkot Uzur di Bogor Kini Dibayar Rp 120.000 Sehari Bersihkan Kota

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

"Saya senang mengajar anak-anak, saya suka dengan anak kecil. Jadi ngelihat anak yang enggak bisa baca tuh kayaknya gemas banget sih. Aduh, umur udah SD tuh seharusnya udah bisa baca, karena kan kurikulum sekarang udah benar-benar harus bisa baca menjawab pertanyaan," tutur Uli.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Tanggapi Penyidikan Kematian Sutrimo, Pakar: yang Berpotensi Merusak Fakta Hukum adalah Keterangan
• 11 jam lalu
0
thumb
Realisasi Tambahan TKD Aceh Selatan Tembus 48 Persen, Pemulihan Pascabencana Terus Dipacu
• 20 jam lalu
0
thumb
Pura-pura Diculik, Mahasiswa di Makassar Minta Tebusan Rp 90 Juta ke Ortu
• 13 jam lalu
0
thumb
Profil Calon Deputi Gubernur Senior BI Aida S Budiman
• 22 jam lalu
0
thumb
Pemkab Tapteng Percepat Realisasi TKD Rp 123,727 Miliar Untuk Pemulihan Pascabencana
• 18 jam lalu
0
Berhasil disimpan.