Menjemput kembali kejayaan kopi Tombo Batang

antaranews.com
16 jam lalu
Cover Berita
Batang (ANTARA) - Sebelum aroma kopi menjadi bagian dari tren gaya hidup perkotaan, warga Desa Tombo di Kecamatan Bandar, Kabupaten Batang, Jawa Tengah, sudah lebih dulu akrab dengan si "Emas Hitam"ini.

Jejaknya merentang panjang, berakar sejak era kolonial Belanda, ketika kopi Tombo pernah menembus pasar internasional dan menjadi tulang punggung perekonomian warga secara turun-temurun.

Namun, roda zaman berputar. Kejayaan itu perlahan meredup diterjang ketatnya persaingan pasar dan peralihan fokus ke komoditas lain.

Kini, dari lereng pegunungan Batang, embusan angin perubahan kembali berdesir. Semangat untuk membangkitkan kembali identitas dan masa keemasan kopi Tombo mulai menyala. membawa misi ganda untuk kesejahteraan ekonomi sekaligus kelestarian alam.

Sejarah kopi di Desa Tombo diyakini bermula antara tahun 1800 hingga awal 1900-an.

Pemerintah kolonial Belanda yang berbekal pengetahuan geografi, geologi, dan iklim saat itu menilai kawasan pegunungan Tombo sangat ideal untuk budi daya tanaman perkebunan. Selain rempah seperti pala, kopi menjadi komoditas utama yang dikembangkan di sana.

Pasca-kemerdekaan Indonesia, tata kelola perkebunan dialihkan kepada negara di bawah PT Perkebunan Nusantara (PTPN) IX. Melalui Afdeling Jolotigo yang mencakup kawasan Wonodadi dan Tombo seluas sekitar 500 hektare, varietas Robusta, khususnya klon Tugusari, mulai didominasi.

Puncaknya terjadi pada dekade 1990-an. Kala itu, produksi kopi Tombo di bawah PTPN diperkirakan mencapai 100 ton dan sukses menembus pasar ekspor di Asia hingga Timur Tengah.

Sayangnya, memasuki era reformasi di awal tahun 2000-an, kebijakan perkebunan berubah. Areal perkebunan kopi di-replantasi menjadi perkebunan teh. Masa kejayaan kopi Tombo pun seolah berakhir, catatannya mulai kabur, dan jejak ekspor langsungnya meredup.



Menjaga Tradisi di Tangan Petani

Meski perkebunan skala besar berganti wajah, kopi tidak pernah benar-benar pergi dari Tombo. Para bekas pekerja perkebunan membawa pulang pengetahuan yang mereka miliki, mulai dari teknik pemeliharaan, pemanenan, hingga pengolahan pascapanen, ke pekarangan dan kebun mandiri milik mereka.

Dari petak-petak tanah rakyat inilah tradisi kopi Tombo bertahan. Robusta klon Tugusari tetap dirawat dan dipertahankan sebagai identitas lokal. Walau saat itu rantai distribusinya terbatas pada pasar lokal dan regional karena belum adanya pelaku ekspor berbasis desa, api semangat warga untuk berkebun kopi tak pernah padam.

Saat ini strategi baru dirancang untuk mengembalikan kejayaan kopi Tombo, kali ini melalui diversifikasi varietas dan pendekatan ramah lingkungan. Berada di ketinggian sekitar 900 meter di atas permukaan laut (mdpl), Tombo dinilai sangat potensial untuk pengembangan kopi Arabika.

Melalui kolaborasi lintas sektor yang melibatkan Pemerintah Desa Tombo, Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH), Cabang Dinas Kehutanan Wilayah IV DLHK Jawa Tengah (CDK IV), serta kepedulian pihak swasta seperti PT Bhimasena Power Indonesia (BPI) —pengelola PLTU Batang— program penguatan kapasitas petani resmi bergulir.

Semangat kebangkitan ini diwujudkan salah satunya melalui Bimbingan Teknis (Bimtek) Budi Daya Kopi Arabika yang digelar di Pondok Sidawung pada Selasa (11/8). Pelatihan ini menjadi bagian dari program Daerah Aliran Sungai (DAS) Lestari, yang mengintegrasikan peningkatan ekonomi warga dengan perlindungan ekosistem.

"Mulai dari penanaman sampai penanganan hama dan penyakit sudah cukup jelas. Ke depan akan saya terapkan dan pahami dalam pengelolaan tanaman kopi," ujar Tarmujo, salah satu petani peserta pelatihan yang antusias menyerap materi teknis.

Kepala Desa Tombo, Mustajab, menyambut positif modal semangat para petaninya.

"Alhamdulillah, petani sangat antusias. Banyak pertanyaan yang disampaikan dan mudah-mudahan pengetahuan ini mendukung pengembangan kopi Arabika di Tombo sekaligus berdampak pada peningkatan ekonomi masyarakat," ungkapnya.

Sebagai langkah konkret, sebanyak 5.400 bibit kopi Arabika, termasuk varietas Lini S dan Ateng Super asal Aceh Tengah, disiapkan untuk didistribusikan kepada 13 petani di 27 bidang tanah menjelang musim hujan.

Menariknya, pengembangan ini tidak merusak fungsi hutan. Seluruh lokasi penanaman dilakukan di atas lahan milik petani di luar kawasan hutan. Tanaman kopi dipilih karena tergolong Multi-Purpose Tree Species (MPTS), yakni tanaman yang bernilai ekonomi tinggi dari buahnya sekaligus memiliki fungsi ekologis untuk mengikat tanah, mencegah erosi, dan menjaga kestabilan DAS.



Merajut Masa Depan Kolaboratif

Langkah pembinaan ini dipastikan tidak berhenti pada pembagian bibit dan pelatihan singkat. Pendampingan berkala akan terus dilakukan untuk memastikan bibit tumbuh optimal di lapangan.

General Manager Stakeholder Relation PT Bhimasena Power Indonesia, Aryamir H. Sulasmoro, menegaskan pentingnya keberlanjutan program tersebut.

"Dukungan terhadap masyarakat tidak hanya berupa penyediaan bibit, tetapi juga bagaimana pengetahuan dan kemampuan petani dapat terus berkembang," jelasnya.

Dukungan serupa datang dari Pemerintah Kabupaten Batang. Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan UKM Kabupaten Batang, Wahyu Budi Santosa, menyatakan kesiapan pihaknya untuk memfasilitasi legalitas hingga menjembatani petani dengan pembeli (buyer) maupun eksportir.

"Kami mengupayakan dan memfasilitasi terkait perizinan maupun mempertemukan petani kopi pada beberapa pengusaha ekspor dan Pemprov Jateng. Selama ini, kopi Tombo memang diekspor seperti ke Malaysia dan negara di Timur Tengah," kata Wahyu.

Langkah ini mempertegas bahwa pengembangan Arabika tidak hadir untuk menggusur Robusta Tugusari, melainkan melengkapinya. Dalam beberapa tahun ke depan, diversifikasi hingga varietas Liberika diproyeksikan membuat pilihan kopi Tombo semakin kaya.

Perjalanan merawat dan membangkitkan kembali kejayaan kopi Tombo memang membutuhkan waktu. Bibit yang baru ditanam memerlukan proses untuk tumbuh, dirawat, dan akhirnya berbuah manis bagi perekonomian warga.

Namun bagi masyarakat Tombo, kopi bukan lagi sekadar kenangan manis masa lalu atau sekadar buah yang dipanen. "Emas Hitam" adalah perpaduan antara pengetahuan yang diwariskan, ekonomi yang berputar di tangan petani, dan upaya menjaga bumi tetap hijau untuk generasi mendatang. Langkah-langkah kecil hari ini adalah pijakan awal untuk merajut masa depan kopi Tombo yang lebih mandiri dan berkelanjutan.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Cerita Haru Bayi Alfaro Diselamatkan dari Tragedi Kebakaran KM Putri Yasmin di Lombok
• 5 jam lalu
0
thumb
Juknis Terbit, SPPG Wajib Serap Telur Peternak dengan Harga Rp26.500 per Kg
• 3 jam lalu
0
thumb
Direktur Niaga Garuda Indonesia (GIAA) Reza Aulia Diberhentikan
• 15 jam lalu
0
thumb
Jelang TEI ke-41, KJRI Dubai Intensifkan Diplomasi Ekonomi dan Penggalangan Calon Pembeli
• 21 jam lalu
0
thumb
S&P 500 dan Nasdaq Menguat, Saham AI Jadi Penopang Utama
• 17 jam lalu
0
Berhasil disimpan.