Emiten Poultry CPIN-JPFA Cs Diproyeksi Bangkit di Semester II-2026

idxchannel.com
58 menit lalu
Cover Berita

Prospek industri perunggasan diperkirakan membaik pada paruh kedua 2026 seiring pemulihan harga ayam dan meningkatnya permintaan dari program MBG.

Emiten Poultry CPIN-JPFA Cs Diproyeksi Bangkit di Semester II-2026. (Foto: Magnific)

IDXChannel - Prospek industri perunggasan diperkirakan membaik pada paruh kedua 2026 seiring pemulihan harga ayam dan meningkatnya permintaan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Kondisi tersebut dinilai mampu menopang pemulihan laba PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) dan PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA), meski biaya pakan berpotensi meningkat.

Baca Juga:
9 Saham Indonesia Bertahan di MSCI Global Standard Index, Cek Daftarnya

Analis Bahana Sekuritas Abdusshomad Cakra Buana dalam riset yang terbit pada 7 Agustus 2026 mempertahankan rekomendasi 0verweight untuk sektor poultry dengan CPIN dan JPFA sebagai pilihan utama (top picks).

Bahana memperkirakan pemulihan harga ayam menjadi katalis utama kinerja sektor pada semester II-2026 (2H26). Harga live bird (LB) di Jawa telah kembali ke sekitar Rp24.000 per kilogram, ditopang perbaikan disiplin pasokan serta berlanjutnya program MBG.

Baca Juga:
9 Saham Terdepak dari MSCI Small Cap Index, Ada ARTO hingga RATU

Kondisi tersebut menjadi angin segar setelah kinerja industri melemah pada kuartal II 2026. Harga LB di Jawa Barat turun 15 persen secara kuartalan menjadi Rp18.681 per kilogram, sementara harga day-old chick (DOC) merosot 27 persen menjadi Rp4.976 per ekor.

Penurunan harga tersebut terjadi setelah berakhirnya periode lebaran, melemahnya permintaan selama bulan Suro, serta gangguan operasional dalam pelaksanaan program MBG.

Baca Juga:
MSCI Coret CPIN dan GOTO dari Indeks Global

Tekanan tersebut tercermin pada kinerja CPIN. Laba inti perseroan turun sekitar 60 persen secara kuartalan pada 2Q26.

Bahana memperkirakan JPFA juga mengalami tekanan serupa pada bisnis poultry, meski bisnis pakan ternaknya diperkirakan tetap relatif kuat berkat model bisnis cost-plus.

Namun, tekanan pada kuartal II dinilai bersifat sementara. Bahana memperkirakan laba inti CPIN dan JPFA dapat melonjak setidaknya sekitar 60 persen secara kuartalan pada kuartal III-2026 (3Q26), seiring pemulihan harga LB.

Proyeksi tersebut telah memperhitungkan potensi kenaikan biaya pakan akibat risiko El Niño terhadap harga jagung serta rencana pengadaan soybean meal (SBM) secara terpusat melalui Berdikari dengan asumsi margin 10 persen.

Bahana pun menaikkan asumsi harga LB 2026 menjadi Rp21.300 per kilogram dari sebelumnya Rp20.000 per kilogram.

Dengan asumsi tersebut, estimasi laba inti agregat sektor poultry untuk 2026 dinaikkan menjadi Rp11,2 triliun dari Rp10,2 triliun, atau sekitar 11 persen di atas konsensus.

MBG Jadi Penopang Permintaan

Dari sisi permintaan, program MBG diperkirakan menjadi salah satu penggerak utama harga ayam pada 2H26.

Berdasarkan analisis bottom-up Bahana, jumlah penerima manfaat harian MBG berpotensi mencapai sekitar 74 juta orang pada Desember 2026. Angka tersebut memperhitungkan libur sekolah pada Juni 2026 dan asumsi bahwa program untuk siswa hanya berjalan pada hari sekolah.

Dengan demikian, rata-rata penerima manfaat harian sepanjang 2026 diperkirakan mencapai 66,4 juta orang. Sementara itu, total penerima manfaat pada 2H26 diproyeksikan meningkat 23 persen dibandingkan 1H26.

Bahana menilai peningkatan tersebut berpotensi memberikan dukungan yang lebih kuat terhadap permintaan produk unggas sekaligus membantu menjaga harga ayam pada paruh kedua tahun ini.

Valuasi Masih Murah

Di tengah prospek pemulihan tersebut, valuasi saham poultry juga dinilai masih menarik. CPIN diperdagangkan pada sekitar 7,7 kali estimasi price-to-earnings (P/E) 2026, sedangkan JPFA sekitar 5,5 kali.

Valuasi tersebut masing-masing berada sekitar satu dan dua standar deviasi di bawah rata-rata lima tahun.

Menurut Bahana, posisi investor domestik pada sektor poultry juga masih berada di sekitar level terendah dalam lima tahun.

Sentimen terhadap saham poultry turut tertekan oleh pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan penghapusan CPIN dari indeks MSCI Standard seiring diturunkan ke Small Cap.

Namun, perbaikan fundamental industri dinilai mulai membuka ruang bagi re-rating.

Pemulihan harga ayam diperkirakan dapat mengimbangi kenaikan biaya pakan, sehingga memberikan ruang kenaikan bagi saham-saham poultry. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Kejagung Tetapkan 2 Tersangka Korupsi Transfer Pricing PT TPL
• 8 jam lalu
0
thumb
Korban Tewas Kecelakaan Feri di Zimbabwe Bertambah Jadi 44 Orang
• 1 jam lalu
0
thumb
Dari 0,1 Persen Kini 11,41 Persen, Makassar Tancap Gas Pendataan Perlinsos Digital
• 10 jam lalu
0
thumb
Warga Paseban Sulap Sampah Plastik Jadi Cuan
• 22 jam lalu
0
thumb
Tiga Kilometer Demi Air, Warga Situbondo Rela Meniti Jalan Terjal untuk Isi Galon
• 22 jam lalu
0
Berhasil disimpan.