JAKARTA, KOMPAS.com - Sejumlah pedagang atribut kemerdekaan di kawasan Senen, Kramat, Jakarta Pusat, hingga Matraman, Jakarta Timur, mulai mengeluhkan penjualan yang lebih sepi menjelang peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI.
Padahal, momentum menjelang 17 Agustus biasanya menjadi kesempatan bagi pedagang untuk meraup pendapatan tambahan.
Mereka membuka lapak hanya dalam waktu singkat, mulai akhir Juli atau awal Agustus hingga beberapa hari setelah perayaan kemerdekaan.
Namun, tahun ini sejumlah pedagang mengaku harus menghadapi pembeli yang lebih berhitung.
Baca juga: Pedagang Atribut 17 Agustus Berjualan di Trotoar, Pemprov DKI Minta Fungsi Pejalan Kaki Dijaga
Sebagian konsumen memilih menggunakan kembali atribut tahun sebelumnya dan hanya membeli barang yang dianggap penting.
Kompas.com menemukan fenomena tersebut saat melakukan pengamatan pada Jumat (7/8/2026) di sepanjang kawasan Senen-Kramat hingga Matraman. Lebih dari 20 pedagang musiman terlihat membuka lapak di sejumlah titik.
Lapak-lapak tersebut dipenuhi berbagai atribut bernuansa merah putih, mulai dari bendera, umbul-umbul, lampion, rumbai-rumbai, bendera kecil, aksesori, hingga hiasan untuk kendaraan dan lingkungan.
Sebagian lapak menggunakan rangka bambu atau kayu yang dipasang memanjang mengikuti trotoar. Barang dagangan digantung pada rangka hingga memenuhi sebagian ruang pejalan kaki.
Ica (47), salah satu pedagang atribut 17 Agustus di kawasan Matraman, mengatakan dirinya sudah berjualan atribut kemerdekaan sejak sekitar tahun 2000-an.
Baca juga: Jelang 17 Agustus, Trotoar Senen-Matraman Dijajah Pedagang Bendera Musiman
Setiap tahun, Ica kembali berjualan menjelang Agustus. Namun, kondisi penjualan tahun ini menurutnya jauh berbeda dibandingkan tahun lalu.
"Penjualan bisa menurun. Jauh," kata Ica saat ditemui Kompas.com, Jumat (7/8/2026).
Menurut Ica, pada tanggal yang sama tahun lalu, pembeli sudah mulai ramai berdatangan. Tahun ini, kondisi tersebut belum terlihat.
Bahkan hingga 7 Agustus, dia mengaku pembelinya masih sangat sedikit.
Ica menilai kondisi ekonomi yang sedang lesu ikut memengaruhi keputusan masyarakat untuk membeli atribut kemerdekaan.
Baca juga: 30 Kg Beras Dibagikan Mulai 17 Agustus, Siapa yang Berhak Menerimanya?
"Orang-orang lebih berhemat beli atribut. Ada yang buat sendiri mungkin," ujar dia.
Menurut dia, masyarakat yang masih memiliki bendera atau hiasan dari tahun sebelumnya cenderung memilih menggunakannya kembali.
"Yang masih ada dipakai," kata Ica.
Tahun lalu, Ica berjualan sejak 25 Juli hingga 16 Agustus dan memperoleh omzet kotor sekitar Rp 10 juta. Tahun ini, dia belum yakin bisa mencapai angka tersebut.
Kondisi serupa dirasakan Ibrahim (33), pedagang asal Cirebon, Jawa Barat, yang sudah sekitar 10 tahun berjualan atribut kemerdekaan secara musiman.
Ibrahim mengatakan, pada sekitar 8 atau 9 Agustus tahun lalu, pembeli sudah mulai ramai. Tahun ini, jumlah pembeli justru masih jarang.
Baca juga: Bantuan Beras 30 Kg untuk Warga pada 17 Agustus, Apa Itu Program Bantuan Pangan Beras?
"Yang jelas beda saja sama tahun-tahun kemarin," ujar dia.
Dari 1 hingga 7 Agustus 2026, omzet Ibrahim baru sekitar Rp 5 juta. Pada periode yang sama tahun lalu, omzetnya bisa lebih dari Rp 5 juta, bahkan mencapai sekitar Rp 10 juta.
Padahal, Ibrahim menyiapkan modal sekitar Rp 12 juta untuk membeli barang dagangan. Tahun lalu, omzet kotornya sekitar Rp 15 juta selama kurang lebih tiga minggu berjualan.
Artinya, keuntungan yang diperoleh setelah memperhitungkan modal tidak sebesar angka omzet yang terlihat.
"Kurang lebih," kata Ibrahim ketika ditanya mengenai keuntungan sekitar Rp 3 juta dari omzet Rp 15 juta dan modal Rp 12 juta.
Barang yang dijual Ibrahim cukup beragam. Ada bando seharga Rp 15.000 hingga Rp 20.000, aksesori hiasan pintu Rp 25.000, lampion Rp 35.000-Rp 45.000, hingga rumbai-rumbai sepanjang lima meter yang dibanderol Rp 175.000.
Baca juga: Lomba 17 Agustus, Tradisi yang Tak Lekang Dimakan Waktu
Untuk bendera, harganya bisa mencapai Rp 175.000, tergantung ukuran dan bahan.






Komentar (0)