Sering Pakai AI? Ini Risiko Keamanan Siber yang Jarang Disadari

viva.co.id
4 jam lalu
Cover Berita

VIVA – Penggunaan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) kini semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari. Mulai dari mencari informasi, membuat tulisan, mengolah data, hingga membantu pekerjaan profesional, berbagai layanan berbasis AI menawarkan kemudahan dan efisiensi.

Namun, di balik manfaat tersebut, terdapat risiko keamanan siber yang perlu diperhatikan. Informasi yang dimasukkan ke dalam layanan AI dapat menjadi celah apabila pengguna tidak memahami cara menjaga data dan privasi. Risiko ini tidak hanya berlaku bagi perusahaan besar, tetapi juga individu dan pelaku usaha kecil.

Baca Juga :
Ramai TV 100 Inci Pakai Teknologi AI, Apa Fungsinya?
Layanan Berkecepatan Tinggi dengan Jangkauan Luas, Telkom Perkenalkan Connectivity+

Berikut sejumlah risiko keamanan siber yang perlu diketahui ketika sering menggunakan AI.

1. Data pribadi dapat ikut terekspos

Salah satu risiko yang sering luput dari perhatian adalah kebiasaan memasukkan informasi pribadi ke dalam layanan AI. Pengguna terkadang memasukkan nama lengkap, nomor telepon, alamat, dokumen, percakapan pribadi, hingga informasi pekerjaan tanpa mempertimbangkan konsekuensinya.

Karena itu, pengguna sebaiknya menghindari memasukkan data sensitif ke layanan AI, terutama apabila informasi tersebut sebenarnya tidak diperlukan untuk menghasilkan jawaban.

2. Informasi pekerjaan bisa menjadi celah keamanan

AI juga semakin banyak digunakan untuk membantu pekerjaan. Tanpa disadari, pengguna dapat menyalin dokumen internal, strategi bisnis, data pelanggan, atau informasi perusahaan ke dalam chatbot untuk diringkas maupun dianalisis.

Kebiasaan tersebut berpotensi menimbulkan masalah apabila informasi rahasia tidak dikelola dengan baik. Penggunaan AI dalam lingkungan kerja perlu disertai aturan yang jelas mengenai jenis data yang boleh dan tidak boleh dimasukkan.

3. AI dapat dimanfaatkan untuk serangan siber

Kemajuan AI tidak hanya membantu pengguna melakukan pekerjaan secara lebih cepat. Teknologi yang sama juga dapat dimanfaatkan pihak tidak bertanggung jawab untuk membuat serangan digital menjadi lebih meyakinkan.

Salah satunya adalah pembuatan pesan phishing yang tampak lebih natural dan personal. Penipu juga dapat memanfaatkan AI untuk menyusun konten yang dirancang agar korban percaya, kemudian menyerahkan data pribadi atau kredensial akun.

4. Pengguna dapat terlalu percaya pada hasil AI

Risiko keamanan tidak selalu berasal dari teknologi itu sendiri. Ketergantungan berlebihan terhadap AI juga dapat menjadi persoalan.

Baca Juga :
BPK Ungkap Tantangan Government 5.0 Menuju Indonesia Emas 2045, dari AI hingga Keamanan Siber
Peralatan Rumah Tangga Makin Pintar pada 2026, Teknologi Baru Membantu Menghemat Waktu, Listrik, dan Biaya
Rumah Makin Pintar di 2026, Teknologi Baru Mulai Mengambil Alih Pekerjaan Rumah yang Selama Ini Dilakukan Manual

Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Pintu Keluar Stasiun Tanah Abang Disebut Rawan Copet, Warga: Daerah Sini Juga Banyak Tukang Palak
• 4 jam lalu
0
thumb
Cara Menjadi Teman yang Baik agar Pertemanan Awet dan Selalu Positif
• 6 jam lalu
0
thumb
BRI Super League: PSM Umumkan Tim Kepelatihan yang Mendampingi Darije Kalezic
• 12 jam lalu
0
thumb
Kebiasaan Mencuci Wajah yang Bikin Iritasi
• 15 jam lalu
0
thumb
Polri Bantah Rutan Bareskrim Sarang Narkoba, Hasil Tes Seluruh Tahanan Negatif
• 10 jam lalu
0
Berhasil disimpan.