Bagi Sharin dan Aras, menjadi Paskibraka DKI Jakarta bukan sekadar soal mengenakan seragam dan berdiri di barisan saat upacara 17 Agustus. Di balik latihan fisik dan mental yang mereka jalani, keduanya membawa mimpi masing-masing.
Sharin, siswi SMAN 39 Jakarta, baru mengenal dunia Paskibra ketika duduk di bangku SMA. Ketertarikan itu memantik niatnya melangkah lebih jauh hingga menjadi bagian dari Paskibraka DKI.
“Kalau saya, saya mengikuti ekskul paskib itu sejak SMA. Saya baru mengenal paskibra juga dari SMA dan saya melanjutkan ingin menjadi paskibraka,” kata Sharin saat ditemui di Balai Kota DKI Jakarta, Rabu (12/8).
Perjalanan menuju titik tersebut tidak selalu mudah. Salah satu tantangan yang masih dirasakan Sharin adalah ketika harus membuka formasi dan memastikan barisannya tetap lurus.
“Menurut saya tantangannya itu saat membuka formasi, saya sulit untuk meluruskan barisan atau shaf saya,” ujarnya.
Namun, tantangan tersebut justru menjadi bagian dari proses yang ingin ia tuntaskan. Kini, Sharin tinggal menunggu hari ketika latihan panjang itu berujung pada tugas yang selama ini ia impikan.
“Yang pasti tujuan kami berdua, itu kami ingin sukses mengibarkan bendera merah putih di Balai Kota atau di tongkat Provinsi DKI Jakarta,” kata Sharin.
Sementara Aras, siswa SMAN 28 Jakarta, memiliki perjalanan yang berbeda. Ia sudah mengenal kegiatan Paskibra sejak duduk di bangku SMP dan terus membawanya hingga kelas 10 SMA.
Di tim pengibaran, Aras juga memiliki tugas yang spesifik. Ia bertugas sebagai penahan bendera yang berada di antara pembentang dan penggerek saat proses pengibaran.
“Kalau saya sebagai calon pengibar bendera pusaka, bertugas sebagai penahan untuk menahan bendera dari pembentang dan penggerek,” katanya.
Bagi Aras, pengalaman menjadi Paskibraka tidak berhenti pada upacara 17 Agustus. Latihan fisik dan mental yang telah dijalani juga ingin ia jadikan bekal untuk mengejar cita-cita berikutnya.
“Kita sudah melaksanakan latihan mental dan fisik, kami ingin melanjutkan ke sekolah kedinasan,” ujar Aras.
Bagi mereka, upacara 17 Agustus bukan sekadar akhir dari latihan berbulan-bulan, tetapi juga satu langkah menuju mimpi yang lebih jauh.






Komentar (0)