Kesepian Dapat Mengubah Cara Otak Membaca Sinyal Tubuh

kompas.id
2 jam lalu
Cover Berita

Kesepian telah menjadi persoalan global. Penelitian terkait kondisi kesehatan pun semakin banyak dilakukan. Salah satunya penelitian yang mengaitkan antara kesepian dan dampak pada tubuh dan cara kerja otak. Selama ini, kesepian lebih sering dikaitkan dengan suasana hati.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah mengklasifikasikan kesepian sebagai masalah kesehatan global yang tidak bisa diabaikan. Setidaknya satu dari enam orang di dunia mengalami kesepian. Kondisi kesepian bahkan dikaitkan dengan lebih dari 871.000 kematian tiap tahunnya atau setara dengan 100 kematian setiap jam.

Selama ini, banyak psikolog menyebut kesepian sebagai rasa tidak nyaman akibat kehilangan koneksi sosial. Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa masalah kesepian ternyata jauh lebih kompleks.

Baca JugaBahaya Kesepian
Baca JugaMasyarakat yang Meromantisasi Kesepian

Kesepian ternyata juga berkaitan dengan cara otak merespons emosi negatif dan ancaman sosial terhadap diri sendiri. Hal itu terungkap dalam studi baru dari Hiroshima University yang terbit di Jurnal Biological Psychology pada Agustus 2026.

Dalam studi tersebut, para peneliti mengungkap hubungan antara kesepian dan interosepsi atau kemampuan otak dalam membaca sinyal tubuh yang salah satunya adalah detak jantung. Interosepsi berperan penting untuk membentuk pengalaman emosi seseorang.

Penelitian dilakukan setidaknya pada 39 orang dewasa muda yang sehat. Tes dilakukan dalam satu sesi berdurasi 60 menit. Para partisipan diminta untuk mengisi kuesioner tentang kesepian, kesadaran akan tubuh, dan gejala depresi.

Setelah itu, partisipan diminta untuk melakukan dua jenis tes detak jantung. Pada tes pertama, mereka diminta untuk menghitung detak jantungnya sendiri selama 25-50 detik. Pada tes kedua, mereka diminta mendengarkan rangkaian nada dan menilai apakah nada itu selaras dengan detak jantung mereka.

Orang yang kesepian memiliki skor lebih rendah pada empat aspek kesadaran tubuh. Empat aspek tersebut, meliputi kepercayaan pada tubuh, kemampuan regulasi diri, kesadaran emosi, dan kebebasan dari kekhawatiran.

Selanjutnya, partisipan melakukan pengukuran aktivitas otak dengan menggunakan Elektroensefalografi (EEG). Secara bersamaan, aktivitas jantung juga diukur dengan Elektrokardiogram (EKG). Kedua pemeriksaan ini digunakan untuk melihat hubungan otak dan jantung secara langsung.

Serial Artikel

Kesepian Mengintai Mahasiswa

Kesepian diam-diam menggerus mahasiswa, dari skripsi hingga tuntutan keluarga. Dukungan sosial penting agar tak berujung gangguan mental.

Baca Artikel

Dalam studi yang dipimpin oleh Assistant Professor Hiroshima University, Kentaro Ono tersebut disebutkan, ”Orang yang lebih kesepian ternyata mampu mendeteksi detak jantung mereka seakurat orang lain. Namun cara mereka memaknai dan merasakan sinyal tubuh tersebut sangat berbeda.”

Kesadaran rendah

Orang yang kesepian memiliki skor lebih rendah pada empat aspek kesadaran tubuh. Empat aspek tersebut, meliputi kepercayaan pada tubuh, kemampuan regulasi diri, kesadaran emosi, dan kebebasan dari kekhawatiran.

Dari studi ini mengungkapkan bahwa kesepian tidak berkaitan langsung dengan tingkat perhatian seseorang pada tubuhnya, melainkan bagaimana seseorang tersebut menilai sinyal yang diterima secara emosional. Dari hasil pemeriksaan EEG, orang yang kesepian menunjukkan respons gelombang otak yang lebih lemah terhadap detak jantung mereka sendiri.

Perbedaan responsi tersebut disebutkan dalam studi murni karena terkait dengan kesepian. Faktor lain, seperti depresi, usia, dan jenis kelamin tidak bisa menjelaskan perbedaan tersebut. Studi ini dinilai dapat menjadi bukti yang kuat yang menghubungkan langsung antara kondisi kesepian dan respons tubuh dari sinyal jantung ke otak.

Dari studi terpisah, kesepian juga diketahui dapat memengaruhi fungsi kognitif seseorang. Studi yang dipimpin oleh Luis Carlos Venegas-Sanabria dari Universidad del Rosario, Kolombia mengungkapkan bahwa kesepian sejak awal bisa berpengaruh pada fungsi memori di otak.

Baca JugaKita Membutuhkan Otak Kedua
Baca JugaManfaat Mengunyah, dari Kesehatan Pencernaan sampai Otak

“Kesepian tampak memengaruhi kondisi awal memori seseorang, bukan kecepatan penurunannya dari waktu ke waktu,” kata Luis.

Menurut dia, temuan ini menegaskan pentingnya penanganan kesepian yang berpengaruh pada kemampuan kognitif seseorang, terutama pada lansia. Selama ini, kesepian dan isolasi sosial dianggap sebagai faktor risiko demensia. Sejumlah studi menunjukkan bahwa kesepian dapat mempercepat penurunan kognitif.

Namun dari studi ini, kesepian tidak terbukti mempercepat penurunan memori pada seseorang. Penurunan memori secara umum terjadi seiring bertambahnya usia, tidak spesifik pada orang kesepian. Meski begitu, studi ini mengungkapkan bahwa kesepian memang dapat memicu penurunan daya ingat.

“Orang yang kesepian memiliki daya ingat yang lebih rendah dibandingkan yang tidak, namun itu tidak membuat penurunan daya ingatnya menjadi lebih cepat dibandingkan yang tidak mengalami kesepian,” tutur Luis.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Media Belanda Beri Sanjungan Selangit kepada Bintang Timnas Indonesia Ole Romeny usai Tembus Tim Terbaik Liga Belanda
• 1 jam lalu
0
thumb
Bripka Iman Dijebloskan ke Patsus Terkait Kematian Tragis Winda Loreza
• 13 jam lalu
0
thumb
Wanita Medan Winda Lorenza Meninggal, Apa Benar Saksi KPK?
• 12 jam lalu
0
thumb
Bea Cukai Masih Kaji Wacana Penambahan Layer Cukai Rokok
• 20 jam lalu
0
thumb
BPK Puji Tata Kelola Keuangan BSSN, Jadi Contoh Lembaga Pemerintah Paling Responsif
• 19 jam lalu
0
Berhasil disimpan.