Satu per Satu Syahid, Kisah Ulama Aceh Pemimpin Perlawanan terhadap Penjajah

republika.co.id
2 jam lalu
Cover Berita

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Di tengah gempuran militer Belanda pada awal abad ke-20, para ulama Aceh tampil sebagai motor utama perlawanan lewat perang sabil. Satu demi satu mereka gugur syahid dalam pertempuran, namun semangat jihad melawan penjajah itu tidak pernah padam hingga lebih dari satu dekade kemudian.

Dalam periode awal abad ke-20, rakyat Aceh masih berperang melawan penjajahan yakni kolonial Belanda. Namun rakyat Aceh juga telah mulai berkenalan dengan unsur-unsur kebudayaan Barat, yaitu pendidikan modern yang mengakibatkan timbulnya berbagai perubahan dalam kehidupan masyarakat Aceh.

Baca Juga
  • Kritik Tajam Ulama Klasik kepada Penguasa yang Telantarkan Petani dan Fakir Miskin
  • Purbaya Duduk 30 Menit di Kelas, Ini Penilaiannya soal Papan Digital
  • Petani Sawit Masuk Hilirisasi, Koperasi Disiapkan Jadi Pemilik Pabrik CPO

Pada awal tahun 1900 perlawanan terhadap Belanda masih terus berlangsung, antara lain dipimpin oleh Sultan Muhammad Daud Syah, Teuku Panglima Polem Raja Daud, Teungku Di Matale, Teungku Di Barat (Pasai Aceh Utara), Tengku Cot Plieng, Teungku Alue Keutapang, Teungku Di Reubee, Tengku Di Beureueh, Teungku Di Lam Gut (Pidie), Teuku Ben Peukan Meureudu, Teungku Di Krueng Sinagen, Teuku Ben Blang Pidie, Habib Meulaboh, dan teungku-teungku dari Tiro seperti Teungku Chik Mayet dan Teungku Di Buket.

Walaupun Sultan Aceh Muhammad Daud Syah terpaksa menyerah pada bulan Januari 1903, namun peperangan melawan Belanda masih terus berlangsung. Teungku Cot Plieng beserta pengikutnya melakukan penyerangan secara terus-menerus terhadap Belanda.

.rec-desc {padding: 7px !important;}

Pun demikian di Aceh Utara, perang sabil terus berlanjut yang dipimpin oleh Teungku Di Barat dan Teungku Di Matale bersama-sama dengan pemimpin adat lainnya, yaitu Teungku Chik Di Tunong, Pang Nanggroe, dan Cut Meutia, dilansir dari buku Tokoh Agama Dalam Perjuangan Kemerdekaan 1945-1950 di Aceh karya Rusdi Sufi, Muhammad Nasir, dan Zulfan terbitan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1997.

Perang melawan penjajah alias kolonial Belanda juga terjadi di Gayo Alas. Untuk menundukkan daerah tersebut, pemerintah kolonial Hindia Belanda mengirimkan Letnan Kolonel Van Daalen untuk mengadakan hubungan politik dengan raja-raja di sana. Di daerah Gayo, Van Daalen mendapat perlawanan yang sengit.

Rakyat Gayo, baik laki-laki maupun perempuan, bahkan anak-anak sekalipun, dengan gagah berani mempertahankan setiap jengkal tanah pusaka mereka dari gempuran serdadu Belanda.

 

Loading...
.img-follow{width: 22px !important;margin-right: 5px;margin-top: 1px;margin-left: 7px;margin-bottom:4px}
Ikuti Whatsapp Channel Republika
.img-follow {width: 36px !important;margin-right: 5px;margin-top: -10px;margin-left: -18px;margin-bottom: 4px;float: left;} .wa-channel{background: #03e677;color: #FFF !important;height: 35px;display: block;width: 59%;padding-left: 5px;border-radius: 3px;margin: 0 auto;padding-top: 9px;font-weight: bold;font-size: 1.2em;} @font-face { font-family: "LPMQ"; src: url("https://static.republika.co.id/files/alquran/LPMQ-IsepMisbah.ttf") format("truetype"); font-weight: normal; font-style: normal } .arabic-text { font-family: "LPMQ"; font-weight: normal !important; direction: rtl; text-align: right; font-size: 2.5em !important; line-height: 49px !important; }

Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Jadwal SIM Keliling Bandung Hari Ini 12 Agustus 2026, Cek Lokasi dan Persyaratan
• 10 jam lalu
0
thumb
Siapkan 8 Pilot Kapal Ahli di Indonesia Timur, PJM Gandeng TNI AL dalam Pendidikan Pandu Tingkat II
• 2 jam lalu
0
thumb
Capai Lebih dari 700 Kilometer, Simak 10 Bandara Terluas di Dunia
• 19 jam lalu
0
thumb
Kuota Menuju Kabah: Ketika Ibadah Bertemu Kekuasaan
• 10 jam lalu
0
thumb
DPR RI Dorong Usut Tuntas Penyelundupan 1,3 Ton Ketamin
• 19 jam lalu
0
Berhasil disimpan.