Ilusi Perang Dunia Ketiga

republika.co.id
4 jam lalu
Cover Berita

Oleh: Mohammad Ayub Mirdad, Dosen Hubungan Internasional, FISIP, Universitas Airlangga dan Koordinator Lab Centre for Strategic and Global Studies (CSGS)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Setiap kali konflik di Timur Tengah memasuki babak baru, satu pertanyaan lama kembali mengemuka: apakah ini awal Perang Dunia Ketiga? Kekhawatiran itu menguat ketika Iran memperingatkan bahwa ultimatum Presiden Trump dapat memicu perang global, sementara belanja militer dunia mencapai titik tertinggi sejak berakhirnya Perang Dingin.

Namun, pertanyaan itu keliru. Bahaya terbesar bukanlah pecahnya Perang Dunia Ketiga, melainkan perang regional yang perlahan meluas melintasi batas wilayah, aktor, dan sektor kehidupan global tanpa pernah secara resmi menjadi perang dunia.

Dalam pengertian historisnya, Perang Dunia memerlukan arsitektur politik yang tidak dimiliki krisis Amerika Serikat-Iran saat ini. Perang Dunia I dan II menjadi konflik global karena sistem aliansi yang mengikat negara-negara besar secara otomatis. Satu peristiwa di Sarajevo pada 1914 menyeret hampir seluruh Eropa ke medan perang karena setiap negara terikat kewajiban membela sekutunya.

Situasi seperti itu tidak ditemukan dalam konflik sekarang. China maupun Rusia tidak memiliki kewajiban militer untuk membela Iran. Keduanya justru diuntungkan dengan tetap berada di luar konflik. Selama Washington menguras sumber daya militer dan perhatian politiknya di Timur Tengah, ruang gerak Amerika Serikat di Indo-Pasifik maupun Eropa Timur menjadi semakin terbatas. Beijing tidak perlu mengirim satu kapal perang pun untuk menikmati konsekuensi strategis dari perang yang melemahkan pesaing utamanya.

.rec-desc {padding: 7px !important;}

Faktor lain yang membedakan kondisi saat ini adalah deterrence nuklir. Meski Iran bukan negara bersenjata nuklir, hubungan di antara kekuatan-kekuatan besar tetap dibayangi logika saling menghancurkan (mutually assured destruction). Risiko perang langsung antara negara adidaya menjadi terlalu mahal untuk dipilih.

Di saat yang sama, interdependensi ekonomi antara Amerika Serikat, China, dan berbagai pusat ekonomi dunia menciptakan disinsentif yang jauh lebih kuat dibandingkan dengan kondisi pada 1914 maupun 1939.

Namun, kecilnya peluang Perang Dunia Ketiga tidak berarti dunia sedang menuju situasi yang lebih aman. Justru sebaliknya, yang berlangsung adalah eskalasi horizontal: konflik meluas bukan melalui ekspansi wilayah semata, melainkan melalui bertambahnya aktor, arena, dan bentuk peperangan.

Fenomena ini terlihat jelas di Laut Merah. Sejak akhir Juli, Houthi di Yaman kembali membuka front serangan terhadap Arab Saudi dengan menyerang kapal-kapal tanker minyak dan mengganggu jalur pelayaran internasional. Yang terjadi bukan sekadar perpanjangan tangan Iran, melainkan aktor non-negara yang memanfaatkan momentum perang untuk menghidupkan kembali agenda konfliknya sendiri.

Perang saudara Yaman kembali memperoleh ruang untuk bereskalasi. Akibatnya, dunia kini menghadapi dua titik rawan sekaligus—Selat Hormuz dan Bab al-Mandab—yang sama-sama menentukan stabilitas perdagangan dan energi global.

Dengan kata lain, perang modern tidak lagi berkembang melalui ekspansi wilayah semata, tetapi melalui ekspansi aktor. Semakin banyak pihak yang membawa kepentingannya sendiri ke dalam konflik, semakin kecil kemampuan negara-negara utama untuk mengendalikan arah eskalasi.

Potensi perluasan konflik juga terlihat dari tekanan Washington terhadap sejumlah sekutu Eropa agar memberikan dukungan terhadap operasi militernya terhadap Iran. Walaupun tidak menciptakan kewajiban aliansi otomatis seperti pada Perang Dunia I, dinamika tersebut menunjukkan bagaimana sebuah konflik regional dapat secara bertahap menarik keterlibatan semakin banyak negara. Garis pemisah antara perang regional dan konflik multinegara menjadi semakin kabur, meski keduanya tetap berbeda secara fundamental dari perang dunia.

Eskalasi perang juga tidak selalu terjadi di medan tempur. Di Iran sendiri, berbagai laporan mengenai ketegangan antara Presiden Iran dan Pemimpin Tertinggi Mojtaba Khamenei menunjukkan bahwa tekanan perang mulai menguji kohesi elite politik. Dalam konflik berkepanjangan, keretakan internal dapat memperumit proses pengambilan keputusan dan memperbesar risiko salah kalkulasi, baik dalam eskalasi militer maupun peluang penyelesaian diplomatik.

Perluasan perang juga terjadi di luar ranah militer. Serangan siber terhadap infrastruktur kritis, disinformasi digital yang memperdalam polarisasi publik, hingga potensi radikalisasi lintas negara menunjukkan bahwa konflik modern bergerak jauh melampaui medan tempur konvensional. Bahkan dampak lingkungannya pun sering luput dari perhatian. Serangan terhadap fasilitas energi berpotensi meningkatkan emisi karbon dan pencemaran laut, sementara emisi militer sendiri masih belum sepenuhnya tercakup dalam mekanisme pelaporan iklim internasional.

Bagi Indonesia, persoalannya bukan sekadar apakah Perang Dunia Ketiga akan terjadi. Yang jauh lebih penting adalah kesiapan menghadapi dampak konflik yang sudah meluas ke berbagai sektor. Gangguan rantai pasok energi melalui Selat Hormuz dan Bab al-Mandab dapat mendorong inflasi impor. Ancaman siber, disinformasi, hingga radikalisme transnasional juga berpotensi meningkat ketika perang terus berlangsung.

Perang Dunia Ketiga mungkin belum dimulai. Namun, dunia sudah mulai menanggung biaya yang selama ini identik dengan sebuah perang dunia. Karena itu, ukuran sebuah perang tidak lagi ditentukan oleh berapa banyak negara yang bertempur, melainkan oleh seberapa luas dampaknya terhadap dunia.

.img-follow{width: 22px !important;margin-right: 5px;margin-top: 1px;margin-left: 7px;margin-bottom:4px}
Ikuti Whatsapp Channel Republika
.img-follow {width: 36px !important;margin-right: 5px;margin-top: -10px;margin-left: -18px;margin-bottom: 4px;float: left;} .wa-channel{background: #03e677;color: #FFF !important;height: 35px;display: block;width: 59%;padding-left: 5px;border-radius: 3px;margin: 0 auto;padding-top: 9px;font-weight: bold;font-size: 1.2em;}
Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.
@font-face { font-family: "LPMQ"; src: url("https://static.republika.co.id/files/alquran/LPMQ-IsepMisbah.ttf") format("truetype"); font-weight: normal; font-style: normal } .arabic-text { font-family: "LPMQ"; font-weight: normal !important; direction: rtl; text-align: right; font-size: 2.5em !important; line-height: 49px !important; }

Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Jadi Orang Dekat Jokowi, Kabar Pratikno Tinggalkan Kabinet Prabowo Makin Liar
• 10 jam lalu
0
thumb
Sawah Petani Kekeringan, Komisi III DPRD Wajo Dorong Percepatan Program Irigasi Perpompaan
• 10 jam lalu
0
thumb
Gus Alex Bantah Dakwaan Terima 5,2 Juta Dolar AS dalam Kasus Korupsi Kuota Haji
• 16 jam lalu
0
thumb
Kejagung Periksa 12 Saksi Terkait Kasus MBG, Termasuk Sekretaris Kepala BGN
• 23 jam lalu
0
thumb
10 Mal Terbesar di Dunia, Asia Tenggara Terbanyak?
• 16 jam lalu
0
Berhasil disimpan.