Masyarakat adat kerap diidentikkan dengan hal-hal spiritual dan mitos. Namun, jika ditelusuri lebih jauh, peran mereka nyatanya begitu krusial bagi pelestarian lingkungan.
Pandangan tersebut mengemuka dari para mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta saat mengunjungi Pameran Foto Kompas bertajuk ”Merangkai Jejak Masyarakat Adat”, Selasa (11/8/2026).
Mereka berkeliling mengamati deretan karya sekaligus menyimak kisah di balik foto-foto tersebut. Jiddan Akrom Ramadhan (20) berseloroh kepada kawannya, ”Yang aku tahu, kalau dengar istilah masyarakat adat, ya, tentang mitosnya. Misalnya mitos larangan menebang pohon agar tidak diganggu makhluk halus.”
”Tapi, itu ada maksudnya, lho! Bahkan, bisa dibuktikan oleh sains, kalau pohon-pohon ditebang bisa memicu bencana,” timpal sang kawan, Rifananda Ibrahim Bijaksana (21). Keduanya nyaris berdebat sebelum akhirnya kembali asyik menikmati jalannya pameran.
Bagi Jiddan, pameran ini membantunya memahami betapa pentingnya peran masyarakat adat dalam menjaga lingkungan. Menurut dia, hal yang selama ini kerap dianggap sebatas mitos ternyata memiliki makna dan tujuan yang mendalam.
”Ternyata bukan sekadar mitos, ya. Mungkin maksud utamanya adalah agar hutan dan laut tidak dirusak,” ujarnya.
Hal senada juga dirasakan Rifananda. Ia cukup lama memperhatikan foto hutan adat di Mukim Paloh, Kabupaten Pidie, Aceh. Ia terkejut saat melihat hutan adat tersebut justru ditumbuhi pohon-pohon komoditas, seperti kakao dan mete.
Selama ini, ia membayangkan hutan adat selalu berupa hutan belantara dengan tutupan pohon yang lebat. Rasa penasarannya pun langsung ditanyakan kepada jurnalis Harian Kompas (Kompas.id) yang mendampingi mereka dalam pameran.
”Lebih kaget lagi ketika tahu kebun-kebun itu tidak dimiliki oleh satu orang atau satu keluarga saja. Siapa pun di kampung itu bisa menikmati hasilnya dan bergantian menggarap kebun. Di sisi lain, hutan belantara dalam bayangan saya juga masih terjaga keasriannya,” tutur Rifananda.
Mahasiswa ini juga tertarik dengan deretan foto di pesisir Pulau Wawonii, Sulawesi Tenggara. Ia begitu menyukai laut, tetapi pameran ini menyajikan sudut pandang yang berbeda. Ia sempat bertanya mengapa laut yang surut justru diabadikan, bukan laut biru yang megah dengan gulungan ombaknya.
”Ternyata ada tradisi mencari ikan di sana. Itu menarik sekali. Tradisi tersebut pasti bisa dibuktikan secara ilmiah turut menjaga ekosistem terumbu karang. Apalagi, hasilnya dibagi-bagikan kepada warga, bukan dijual,” ungkapnya.
Bagi Rifananda yang lahir dan besar di Jakarta, kehidupan modern selalu identik dengan hiburan instan. Sementara itu, masyarakat di pelosok ternyata memiliki cara yang unik dan berbeda dalam menghibur diri.
”Kehidupan di sini terlalu entertainment-centric, jadi cenderung hanya aspek hiburannya saja yang diambil. Di pelosok, adat istiadat mereka ternyata bisa dihubungkan dengan ilmu sains modern dan bisa menjadi bahan kajian yang lebih mendalam,” katanya.
Pengalaman berbeda dirasakan oleh Syadwiena Rayapuan Aglanafaira (21). Dwiena, sapaan akrabnya, tampak serius memperhatikan foto-foto masyarakat Suku Mare di Kabupaten Maybrat, Papua Barat Daya.
”Pelajaran yang aku dapat, ternyata saat mengelola lahan, masyarakat adat itu mampu menciptakan ketahanan pangannya sendiri,” kata Dwiena.
Dwiena menceritakan, selama ini diskusi tentang ketahanan pangan kerap kali hanya berpusat pada program-program pemerintah. ”Ternyata, masyarakat adat punya cara tersendiri untuk menjaga lumbung pangan mereka. Semua itu memungkinkan selama mereka masih memiliki hak untuk mengelola lahannya sendiri,” ungkap mahasiswi Jurusan Jurnalistik UIN Jakarta tersebut.
Ketiga mahasiswa itu sepakat mengenai kesan positif mereka terhadap pameran ini. Bagi mereka, pameran foto tersebut berhasil menjadi jendela yang membuka wawasan untuk melihat lebih dekat realitas kehidupan masyarakat adat.
”Peran mereka ternyata sangat penting bagi keberlanjutan alam yang kita nikmati saat ini,” kata Jiddan sebelum mereka beranjak melanjutkan kunjungan ke ruang redaksi Harian Kompas.
Harian Kompas selama sekitar 10 bulan telah melaksanakan peliputan ”Jelajah Masyarakat Adat” di lima kawasan. Kelima daerah tersebut meliputi Kabupaten Maybrat di Papua Barat Daya; Kabupaten Sintang dan Sekadau di Kalimantan Barat; Pulau Wawonii (Kabupaten Konawe Kepulauan) di Sulawesi Tenggara; Kabupaten Banggai Kepulauan di Sulawesi Tengah; serta Kabupaten Pidie di Aceh.
Puncak dari liputan khusus ini ditutup dengan penyelenggaraan Pameran Foto Kompas pada Senin hingga Jumat (10-14/8/2026) di Bentara Budaya Art Gallery, Menara Kompas Lantai 8. Pameran ini terbuka untuk umum dan dapat dikunjungi pada pukul 10.00-17.00 WIB.
Dalam pembukaan pameran pada Senin (10/8/2026), Pemimpin Redaksi Harian Kompas Haryo Damardono menuturkan, ada begitu banyak kearifan yang bisa dipelajari dari masyarakat adat. Menurut dia, beberapa mekanisme penyelesaian pidana melalui pendekatan keadilan restoratif (restorative justice) di Indonesia sejatinya juga banyak mengadopsi prinsip hukum adat.
”Sekarang kita banyak bicara tentang masa depan. Padahal, sesekali kita juga butuh belajar dari masyarakat adat,” ujarnya.






Komentar (0)