Utang Pemerintah Rp10.293 Triliun Masih Aman? Ini Penjelasan Kemenkeu

cnbcindonesia.com
9 jam lalu
Cover Berita
Foto: Suasana Gedung Kementerian Keuangan (Kemenkeu) di Jakarta, Rabu (10/1/2024). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta, CNBC Indonesia - Utang pemerintah kini sudah lebih dari Rp 10.000 triliun secara nominal, berdasarkan catatan terbaru Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan per akhir Semester I-2026.

Secara nominal, nilai total utang pemerintah per 30 Juni 2026 itu sebesar Rp 10.293,69 triliun, dengan rasio utang setara 41,26% terhadap produk domestik bruto (PDB). Nilai utang itu bertambah sekitar Rp 373,27 triliun dibanding catatan pada akhir 32 Maret 2026 sebesar Rp 9.920,42 triliun.


Baca: Data Baru! Utang Pemerintah Rp10.293 T, 41% dari PDB

Direktur Strategi dan Portofolio Pembiayaan DJPPR Kemenkeu Hidayat Amir mengatakan, total utang pemerintah itu masih dalam batas aman dan terkendali, karena di bawah ketentuan rasio maksimal yang ditetapkan dalam Undang-Undang Keuangan Negara sebesar 60% PDB.

"Posisi utang Pemerintah per akhir kuartal II-2026 sebesar Rp10.293,69 triliun (41,26% PDB) masih berada dalam level yang terkendali dan aman, jauh di bawah batas maksimal 60% PDB sebagaimana diatur dalam UU Keuangan Negara," ujar Amir kepada CNBC Indonesia, dikutip Rabu (12/8/2026).

Amir turut menegaskan, pemerintah akan terus memastikan pembiayaan utang dikelola secara hati-hati, terukur, dan produktif untuk mendukung pembangunan nasional, menjaga momentum pertumbuhan ekonomi, serta memperkuat kesejahteraan masyarakat.

Selain dari segi rasio utang terhadap PDB yang masih jauh di bawah batas maksimal UU Keuangan Negara, Amir mengungkapkan, dari sisi pengelolaan risiko, struktur utang Pemerintah juga terus dijaga agar tetap sehat.

"Hal ini dapat dilihat dari komposisi utang yang didominasi instrumen berdenominasi rupiah, tenor yang relatif panjang, serta basis investor domestik yang semakin kuat," ujarnya.

"Dengan struktur tersebut, Pemerintah optimistis pengelolaan utang tetap berkelanjutan, resilient terhadap dinamika global, dan mampu mendukung pembiayaan APBN secara kredibel," ungkap Amir.

Baca: Rupiah Tak Pernah Sepi Drama: dari Zaman Kolonial, Krisis hingga Kini

Sebagaimana diketahui, nominal utang pemerintah sampai dengan akhir kuartal II-2026 ini terdiri dari hasil penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) senilai Rp 8.966,79 triliun, dan pinjaman Rp 1.326,90 triliun.

Nilai utang hasil penerbitan SBN ini bertambah sekitar Rp 313,9 triliun dalam tiga bulan, atau dibanding posisi per akhir kuartal I-2026 yang sebesar Rp 8.652,89 triliun. Sedangkan untuk pinjaman bertambah Rp 59,38 triliun dari catatan sebelumnya Rp 1.267,52 triliun.


(arj/arj)
Saksikan video di bawah ini:
Video: Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Kuartal II-2026 Capai 5,29% (yoy)

Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Mantan Dirjen EBTKE & Sekjen Kementerian ESDM Rida Mulyana Meninggal Dunia
• 8 jam lalu
0
thumb
Megawati Tak Lagi Jadi Mesin Poin Utama? Begini Prediksi Peran Megatron di Hyundai Hillstate
• 23 jam lalu
0
thumb
Dana Wakaf Masjid Istiqlal Masuk Pasar Modal, DPR Minta Menag Minta Pendapat Ulama Dulu
• 2 jam lalu
0
thumb
Tidur Bersama Istri Orang, Oknum Anggota Dilaporkan Propam Polres Tulungagung
• 6 jam lalu
0
thumb
Bukan Sekadar Pembunuhan, Terungkap Fakta Pilu di Balik Tewasnya Wanita Berselimut di Kontrakan Tangerang
• 11 jam lalu
0
Berhasil disimpan.