Harga minyak naik ke level tertinggi dalam sepekan pada Selasa (11/8), seiring memudarnya harapan terhadap kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS)-Iran.
IDXChannel – Harga minyak naik ke level tertinggi dalam sepekan pada Selasa (11/8/2026), seiring memudarnya harapan terhadap kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang memicu kekhawatiran gangguan pasokan minyak di Timur Tengah masih berlanjut.
Harga minyak Brent meningkat 1,4 persen menjadi USD88,91 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat 1,3 persen menjadi USD83,20 per barel.
Kedua harga acuan minyak tersebut mencatat level penutupan tertinggi sejak 31 Juli untuk hari kedua berturut-turut.
Keduanya juga melonjak sekitar 5 persen pada Senin (10/8) setelah harapan tercapainya kesepakatan damai antara AS dan Iran mulai memudar.
Selat Hormuz akan tetap ditutup selama AS tidak mengubah sikap dan menerima persyaratan Iran untuk mengakhiri perang, kata sekretaris yang baru ditunjuk untuk Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, sebagaimana dikutip Reuters pada Selasa (11/8).
Sebelum perang Iran dimulai pada 28 Februari, sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melewati jalur strategis tersebut.
Pernyataan tersebut menjadi indikasi terkuat sejauh ini bahwa kesepakatan yang sedang dibahas bersama Oman terkait pembukaan kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz tidak serta-merta membuat jalur tersebut kembali dibuka.
Pasalnya, AS juga harus memenuhi komitmennya dalam nota kesepahaman mengenai upaya mengakhiri konflik yang disepakati Washington dan Teheran pada Juni.
Data pelayaran menunjukkan lalu lintas kapal yang melintasi Selat Hormuz turun menjadi enam kapal pada Senin (10/8), dibandingkan rata-rata sekitar 11 kapal dalam 10 hari terakhir. Sebelum perang, lalu lintas harian di jalur tersebut rata-rata mencapai 125 hingga 140 kapal.
Di kawasan Timur Tengah lainnya, kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran menyerang kapal Arab Saudi yang membawa peralatan militer di Bab el-Mandeb, jalur strategis antara Laut Merah dan Samudra Hindia. Informasi tersebut dilaporkan kantor berita Saba yang dikelola Houthi.
Sementara itu, sejumlah sumber melaporkan serangan rudal terhadap kapal kontainer di lepas pantai Pakistan yang diduga merupakan bagian dari serangan AS.
Administrasi Informasi Energi AS (EIA) menyatakan sejumlah produsen minyak di Timur Tengah diperkirakan kesulitan memulihkan produksi ke level sebelum konflik hingga akhir 2027.
Kondisi tersebut tetap mungkin terjadi meskipun pola perdagangan kembali normal pada awal tahun depan.
Di Libya, kekerasan kembali terjadi di kota strategis Zawiya dan mengganggu aktivitas industri minyak.
Perusahaan minyak negara National Oil Corporation (NOC) mengatakan dapat menetapkan status force majeure jika serangan drone terhadap aset energi di kota tersebut terus berlanjut. Libya merupakan anggota OPEC.
Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC) juga menawarkan minyak mentah melalui tender spot.
Ini menjadi tender kedelapan yang diterbitkan sejak awal Juni, ketika perusahaan minyak milik negara Uni Emirat Arab (UEA) tersebut berupaya mengalihkan minyak dari wilayah di dalam Selat Hormuz.
Di Eropa, militer Ukraina pada Selasa (11/8) menyatakan telah menyerang sebuah kilang minyak di kota Orsk, Rusia.
Orsk merupakan kota terbesar kedua di wilayah Orenburg sekaligus salah satu pusat industri penting di kawasan tersebut. (Aldo Fernando)






Komentar (0)